Kamis, Juli 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mengapa Orang Tetap Memburu Burung Meski Tahu Itu Dilarang?

by teguh
Juli 23, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Saat harga hasil kebun turun dan lapangan kerja terbatas, hutan menjadi tempat memburu burung untuk mencari penghasilan.Ketika kebutuhan hidup bertemu hukum, siapa yang benar-benar memiliki pilihan?.

Tabooo.id – Kicau burung biasanya menandakan hutan yang sehat. Namun, bagi sebagian warga di sekitar hutan Sumatera, suara itu juga berarti kesempatan memburu burung untuk membawa pulang uang. Seekor burung yang laku jutaan rupiah di kota mampu memenuhi kebutuhan satu keluarga di desa selama berminggu-minggu.

Di sinilah konservasi berbenturan dengan kenyataan hidup. Negara melarang perburuan satwa liar, tetapi kemiskinan terus mendorong sebagian orang mengambil risiko. Ketika pilihan kerja semakin sempit, hutan berubah menjadi tempat mencari nafkah.

Kasus yang terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memperlihatkan dilema itu dengan jelas.

Rantai Perdagangan Dimulai dari Hutan

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Satreskrim Polres Agam menggagalkan pengiriman 225 burung liar menuju Lampung pada Sabtu, 18/07/2026. Petugas menangkap seorang pria berinisial KZ yang diduga menjadi bagian dari jaringan perdagangan satwa lintas provinsi.

Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra, menjelaskan KZ mengangkut burung menggunakan mobil dari Pasaman Barat menuju Lampung.

Ini Belum Selesai

Warteg: Restoran Paling Demokratis di Indonesia

Malam Datang Terlalu Cepat di Desa Juhu

“Burung-burung itu menggunakan kendaraan roda empat dari Pasaman Barat, dengan tujuan akhir Lampung,” kata Ade Putra, 18/07/2026.

Petugas menemukan kapodang, pleci, kolibri, kapas tembak, hingga cica daun besar dan cica daun kecil yang pemerintah lindungi. Menurut Ade, KZ membeli burung-burung tersebut dari para pemburu dan pedagang di Pasaman Barat serta Mandailing Natal.

“Untuk paket burung yang diamankan sekarang nilainya mencapai puluhan juta rupiah,” ujarnya.

Nilai ekonomi itu terus menarik orang masuk ke bisnis ilegal tersebut.

Kemiskinan Menjadi Celah Perdagangan

Bagi banyak penghobi, burung hanya menjadi koleksi atau peserta lomba. Namun, bagi sebagian warga desa, burung liar menghadirkan harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satu ekor burung bernilai tinggi dapat memberikan penghasilan yang setara dengan upah bekerja selama satu bulan. Saat hasil kebun menurun dan lapangan kerja sulit ditemukan, sebagian warga memilih masuk hutan daripada pulang tanpa membawa uang.

Pilihan itu memang melanggar hukum. Namun, banyak pemburu memulai langkah mereka karena kebutuhan hidup, bukan karena ingin merusak alam.

Masalahnya, jaringan perdagangan selalu menunggu pasokan baru.

Data Forum Against Illegal Wildlife Trade (FLIGHT) menunjukkan petugas menyelamatkan lebih dari 14.000 burung liar asal Sumatera sepanjang 2025. Organisasi itu juga mencatat lebih dari 11.000 toko burung dan sekitar 125 pasar burung di Pulau Jawa masih membutuhkan pasokan burung liar.

Permintaan yang terus tumbuh membuat pemburu baru terus bermunculan.

Hutan Kehilangan Penjaganya

Pakar Biologi Konservasi Universitas Andalas, Wilson Novarino, mengingatkan bahwa cica daun besar dan cica daun kecil tidak hanya mempercantik hutan. Kedua spesies itu menyebarkan biji pohon sekaligus mengendalikan populasi serangga.

“Jika populasi burung ini terus tertekan, ada potensi ledakan populasi serangga tertentu yang bisa merembet menjadi hama di lahan pertanian sekitar hutan,” katanya pada Juli 2026.

Wilson juga mengingatkan bahwa hilangnya satu spesies dapat memicu trophic cascade, yaitu efek berantai yang mengganggu keseimbangan seluruh ekosistem.

Menyelamatkan Burung atau Menyelamatkan Manusia?

Kasus di Agam bukan sekadar tentang 225 burung yang gagal menyeberang ke Pulau Jawa. Kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan, pasar, dan lemahnya pilihan ekonomi ikut menggerakkan perdagangan satwa liar.

Penegakan hukum memang penting. Namun, hukuman saja tidak akan menghentikan perburuan jika masyarakat sekitar hutan tetap kesulitan mencari penghasilan yang layak.

Konservasi membutuhkan lebih dari sekadar patroli. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus membangun peluang ekonomi yang membuat warga memilih menjaga hutan daripada mengambil isinya.

Selama seekor burung menghasilkan uang lebih cepat daripada menjaga habitatnya, perdagangan satwa liar akan terus berulang. Ketika suara burung akhirnya menghilang, manusia bukan hanya kehilangan satwa. Kita juga kehilangan penjaga hutan yang selama ini menjaga keseimbangan alam tanpa pernah meminta imbalan. @teguh

Tags: BiodiversitasBKSDABurung LiarCica DaunekologiEkosistemHuman StoryHutan SumateraIndonesia HijauKonservasiLingkungan HidupPerdagangan Satwa LiarSave Our BirdsSelamatkan SatwaStop Wildlife TradeWild life Crime

Kamu Melewatkan Ini

Perdagangan Burung: Ancaman Sunyi bagi Hutan Sumatera

Perdagangan Burung: Ancaman Sunyi bagi Hutan Sumatera

by teguh
Juli 23, 2026

Hutan tidak selalu kehilangan nyawanya ketika gergaji mesin meraung atau pohon-pohon tumbang. Ada cara lain yang jauh lebih sunyi untuk...

Hutan Versi Baru: Pohon Diganti Sawit, Namanya Tetap Hutan Konservasi?

Hutan Versi Baru: Pohon Diganti Sawit, Namanya Tetap Hutan Konservasi?

by teguh
Juli 23, 2026

Suatu hari nanti, ketika anak cucu bertanya seperti apa rupa hutan Indonesia, kita mungkin hanya bisa menunjuk hamparan sawit. Ironisnya,...

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Next Post
Akad Nikah Bukan Hak atas Tubuh, Mengapa Masih Dipaksa?

Akad Nikah Bukan Hak atas Tubuh, Mengapa Masih Dipaksa?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id