Meski telah berusia lebih dari 50 tahun, Imagine karya John Lennon terus memicu perdebatan. Simak makna, kritik, dan alasan lagu ini tetap relevan hingga kini.
Tabooo.id – Hanya sedikit lagu yang mampu melintasi zaman seperti Imagine. Meski dirilis lebih dari setengah abad lalu, karya John Lennon itu tetap terdengar dalam upacara kenegaraan, aksi solidaritas, hingga momen duka di berbagai belahan dunia. Sebagian orang melihatnya sebagai lagu penuh harapan. Sebaliknya, sebagian lainnya menganggap lagu ini terlalu utopis, bahkan kontroversial.
Perdebatan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Barangkali memang itulah tujuan Lennon. Ia tidak menulis Imagine agar semua orang sepakat, melainkan agar mereka berani mempertanyakan cara memandang dunia.
Lagu yang Lahir dari Dunia yang Terbelah
John Lennon merilis Imagine pada 1971, setahun setelah The Beatles bubar. Saat itu, dunia menghadapi Perang Dingin, Perang Vietnam, perlombaan senjata nuklir, serta gelombang gerakan hak sipil di berbagai negara.
Alih-alih membuat lagu dengan aransemen megah, Lennon memilih pendekatan yang sederhana. Ia memainkan piano, menyanyikan lirik yang lugas, lalu mengajak pendengar membayangkan dunia tanpa perang, tanpa batas negara, dan tanpa kepemilikan yang memicu kesenjangan.
Lagu itu dibuka dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu pembuka paling ikonik dalam sejarah musik.
“Imagine there’s no heaven…”
Kalimat sederhana tersebut langsung memancing perhatian sekaligus mengundang perdebatan.
Lebih dari Sekadar Lagu Perdamaian
Banyak orang mengenal Imagine sebagai lagu tentang perdamaian. Padahal, Lennon menawarkan gagasan yang jauh lebih luas.
Ia mengajak pendengar mempertanyakan konsep-konsep yang selama ini dianggap mutlak. Dalam liriknya, negara, agama, dan kepemilikan pribadi menjadi simbol batas yang sering memicu konflik antarmanusia.
Melalui pendekatan itu, Lennon mendorong pendengar membayangkan dunia yang tidak terpecah oleh identitas yang mereka bangun sendiri. Karena itulah, Imagine terasa lebih seperti ajakan berdialog daripada sekadar lagu penghibur.
Dipuji, tetapi Juga Dikritik
Popularitas Imagine selalu berjalan berdampingan dengan kritik.
Sebagian kalangan religius menilai lirik tentang dunia tanpa surga dan agama sebagai bentuk penolakan terhadap keyakinan. Di sisi lain, pendukung ekonomi liberal menganggap gagasan dunia tanpa kepemilikan pribadi terlalu idealistis dan sulit diterapkan.
Kehidupan pribadi Lennon juga memicu kritik. Banyak orang mempertanyakan konsistensinya karena ia menikmati kehidupan mewah, tetapi menyanyikan lagu tentang dunia tanpa kepemilikan.
Perdebatan itu terus muncul hingga sekarang.
Meski demikian, Lennon tidak pernah menyebut Imagine sebagai rancangan sistem politik. Ia justru menganggap lagu tersebut sebagai eksperimen pemikiran yang mengundang orang membayangkan kemungkinan lain.
Tetap Hidup di Tengah Berbagai Tragedi
Kritik tidak pernah menghalangi perjalanan Imagine. Sebaliknya, lagu ini semakin sering hadir ketika dunia menghadapi masa-masa sulit.
Masyarakat memutar Imagine setelah tragedi 11 September di Amerika Serikat, berbagai serangan teror, bencana alam, pandemi COVID-19, hingga konser amal internasional.
Setiap kali dunia mengalami luka bersama, lagu ini kembali terdengar. Lambat laun, Imagine melampaui identitas penciptanya dan berkembang menjadi simbol harapan kolektif.
Mengapa Masih Relevan?
Lebih dari lima dekade berlalu, tetapi dunia masih bergulat dengan perang, konflik identitas, polarisasi politik, dan ketimpangan ekonomi.
Banyak persoalan yang pernah dikritik Lennon tetap mendominasi pemberitaan hingga hari ini. Karena itu, Imagine masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Bukan karena dunia sudah mewujudkan mimpinya.
Justru karena manusia belum berhasil mencapainya.
Lagu ini mengingatkan bahwa perdamaian bukan sekadar menghentikan perang. Perdamaian juga menuntut keberanian untuk melihat manusia sebagai sesama, bukan hanya sebagai bagian dari kelompok yang berbeda.
Musik yang Mengajak Berdialog
Tidak banyak lagu yang mampu memicu diskusi selama puluhan tahun.
Sebagian lagu bertahan karena melodinya. Sebagian lainnya hidup berkat nostalgia. Namun, Imagine terus bertahan karena pertanyaan yang dibawanya belum pernah benar-benar terjawab.
Apakah dunia tanpa batas, tanpa kebencian, dan tanpa konflik benar-benar mungkin terwujud?
Ataukah semua itu hanya mimpi seorang musisi?
Tabooo Perspective
Banyak lagu berbicara tentang perdamaian. Namun, hanya sedikit yang berani mempertanyakan akar penyebab konflik. Imagine tidak menawarkan jawaban mutlak. Sebaliknya, lagu ini mengajak setiap pendengar menguji keyakinan, nilai, dan cara pandang mereka sendiri.
Mungkin itulah alasan Imagine terus memancing perdebatan hingga sekarang. Bukan karena liriknya terlalu radikal, melainkan karena lagu ini menyentuh pertanyaan yang belum pernah selesai dijawab: apakah manusia benar-benar siap hidup berdampingan tanpa terus membangun sekat di antara mereka?@eko







