Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa melindungi anak tak cukup dengan seremoni. Rasa aman harus hadir di rumah, sekolah, dan ruang digital agar setiap anak dapat tumbuh tanpa kekerasan.
Tabooo.id – Setiap Hari Anak Nasional, berbagai sekolah, komunitas, dan instansi menggelar perayaan untuk mengingatkan pentingnya hak-hak anak. Anak-anak mengikuti lomba, bermain bersama, dan menerima ucapan selamat dari banyak pihak. Namun, di balik suasana itu, muncul pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: apakah seluruh anak Indonesia benar-benar merasa aman?
Jawabannya masih jauh dari harapan.
Sebagian anak masih menghadapi kekerasan di rumah. Sebagian lainnya mengalami perundungan di sekolah. Ketika mereka membuka telepon genggam, ancaman baru kembali muncul dalam bentuk ujaran kebencian, pelecehan digital, hingga eksploitasi di media sosial. Kekerasan kini tidak mengenal ruang maupun waktu.
Karena itu, Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini harus menggerakkan semua pihak untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh tanpa rasa takut.
Anak Kini Hidup di Dua Dunia
Anak-anak Indonesia menjalani kehidupan di dua ruang sekaligus.
Mereka belajar, bermain, dan bersosialisasi di dunia nyata. Pada saat yang sama, mereka membangun pertemanan, mencari informasi, dan mengekspresikan diri di dunia digital.
Perubahan ini membuka banyak kesempatan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Perundungan tidak lagi berhenti di ruang kelas. Pelaku kini dapat menyerang melalui media sosial, aplikasi percakapan, atau permainan daring. Satu komentar kasar dapat menyebar dalam hitungan detik dan terus membayangi korban meski hari telah berganti.
Akibatnya, anak kehilangan rasa aman di ruang yang seharusnya membantu mereka bertumbuh.
Data Menunjukkan Ancaman Masih Nyata
Berbagai survei memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat lebih dari separuh anak berusia 13 hingga 17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidup mereka. Banyak kasus terjadi di rumah, sekolah, dan ruang digital.
Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Selama Januari hingga Maret 2026, JPPI mencatat 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.
Kekerasan seksual menempati posisi tertinggi dengan 46 persen, disusul kekerasan fisik 34 persen, perundungan 19 persen, kebijakan yang mengandung kekerasan 6 persen, dan kekerasan psikis 2 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi anak.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian pelaku justru berasal dari lingkungan pendidikan. Fakta itu menunjukkan bahwa sistem perlindungan anak masih membutuhkan pembenahan yang serius.
Luka Psikologis Sama Berbahayanya
Banyak orang masih menganggap luka hanya terlihat dari memar atau cedera.
Padahal, kekerasan verbal, penghinaan, ancaman, dan perundungan juga meninggalkan trauma yang dapat bertahan hingga dewasa.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022 memperkirakan sekitar 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental. Namun, hanya sebagian kecil yang memperoleh layanan profesional.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak anak memikul beban emosional tanpa pendampingan yang memadai.
Ketika orang dewasa gagal mengenali tanda-tanda itu, anak memilih diam. Sebagian menarik diri dari lingkungan. Sebagian lain melampiaskan kemarahan dengan cara yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Karena itu, kesehatan mental harus menjadi bagian penting dalam perlindungan anak.
Anak Membutuhkan Orang Dewasa yang Mau Mendengar
Perlindungan anak tidak hanya bergantung pada undang-undang atau hukuman bagi pelaku.
Anak membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, dan percaya pada cerita mereka.
Hubungan yang hangat di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi benteng pertama yang mencegah kekerasan.
Inilah alasan berbagai program seperti Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA), program pencegahan perundungan ROOTS, penguatan layanan kesehatan mental, serta pelatihan bagi guru dan tenaga pendidik terus diperluas.
Program-program tersebut tidak hanya mencegah kekerasan. Program itu juga membangun budaya yang menghargai suara anak.
Hari Anak Nasional Harus Menjadi Titik Perubahan
Hari Anak Nasional seharusnya tidak hanya menghasilkan unggahan media sosial, pidato seremonial, atau kegiatan simbolis.
Momentum ini harus mendorong keluarga membangun komunikasi yang lebih terbuka. Sekolah harus menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan. Pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada anak. Masyarakat juga harus berani melindungi anak ketika melihat tanda-tanda kekerasan.
Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.
Mereka berhak belajar tanpa rasa takut, bermain tanpa ancaman, serta menggunakan ruang digital tanpa menjadi sasaran kebencian ataupun eksploitasi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Hari Anak Nasional bukan terletak pada banyaknya acara yang diselenggarakan.
Keberhasilannya terlihat ketika semakin sedikit anak menjadi korban kekerasan, semakin banyak anak berani berbicara, dan semakin banyak orang dewasa memilih mendengar daripada menghakimi.
Sebab, anak-anak tidak membutuhkan seremoni yang megah. Mereka membutuhkan orang dewasa yang benar-benar hadir untuk melindungi mereka, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. @dimas







