Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

by dimas
Juli 18, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Gotong royong tak lagi sekadar budaya, tetapi menjadi kritik ketika warga memperbaiki jalan yang diabaikan negara. Benarkah modal sosial kini menutup lemahnya pelayanan publik?

Tabooo.id – Di negeri yang gemar meresmikan proyek, ada satu ironi yang terus berulang: warga lebih cepat mengangkat cangkul daripada pemerintah menghadirkan solusi.

Jalan berlubang menghiasi banyak wilayah selama berbulan-bulan. Lampu jalan berhenti menyala tanpa kepastian perbaikan. Drainase terus tersumbat hingga musim hujan datang kembali. Akibatnya, masyarakat memilih bergerak. Mereka patungan membeli semen, mengaduk pasir, lalu memperbaiki jalan yang semestinya menjadi tanggung jawab negara.

Namun, ironi justru muncul setelah pekerjaan selesai. Kamera datang lebih dahulu daripada solusi.

Peristiwa di Lampung Timur beberapa waktu lalu menjadi potret yang sulit diabaikan. Warga bergotong royong memperbaiki jalan rusak secara swadaya. Sebagian meluapkan kekesalan dengan menyerukan agar masyarakat tidak lagi membayar pajak. Meski demikian, inti persoalannya bukan terletak pada seruan emosional itu. Sebaliknya, fakta yang paling penting menunjukkan bahwa masyarakat memilih bekerja bersama sebelum memilih menyerah.

Mereka tidak menunggu pidato. Mereka membeli material.

Ini Belum Selesai

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

Alih-alih menggelar konferensi pers, mereka langsung menggenggam sekop.

Mereka juga tidak mengejar penghargaan. Mereka hanya ingin anak sekolah, ibu hamil, dan ambulans dapat melintasi jalan dengan aman.

Lalu, satu pertanyaan pun muncul.

Kalau warga masih sanggup membangun jalan bersama, sebenarnya siapa yang sedang kehilangan semangat gotong royong?

Ketika Pohon Pisang Lebih Jujur daripada Papan Proyek

Beberapa tahun lalu, warga Desa Koka, Minahasa Utara, menanam pohon pisang tepat di tengah jalan berlubang.

Kemudian, mereka menggantung tulisan yang jauh lebih tajam daripada banyak pidato politik.

“Hati-hati lubang! Rumah sakit atau rumah duka.”

Tulisan lain hadir dengan nada yang lebih menyengat.

“Pemerintah so buta atau mati rasa.”

Tak ada orasi.

Tak ada demonstrasi.

Sebaliknya, sebatang pohon pisang berhasil menyampaikan kritik yang gagal diwakili banyak laporan resmi.

Sayangnya, simbol itu bukan sekadar hiperbola. Beberapa tahun kemudian, jalan yang sama kembali memakan korban jiwa. Artinya, lubang tersebut berumur lebih panjang daripada janji perbaikannya.

Gotong Royong yang Berubah Fungsi

Selama puluhan tahun, masyarakat memaknai gotong royong sebagai warisan budaya.

Koentjaraningrat menyebutnya sebagai salah satu modal sosial terpenting bangsa Indonesia. Nilai itu memperkuat solidaritas, menumbuhkan tanggung jawab, sekaligus menjaga kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Kini, Indonesia memasuki babak yang berbeda.

Gotong royong tidak lagi sekadar budaya saling membantu.

Sebaliknya, masyarakat menjadikannya bahasa kritik.

Saat warga patungan memperbaiki jalan, mereka sesungguhnya mengirim surat terbuka kepada negara.

Isi pesannya sederhana.

“Kalau kami bisa bergerak, kenapa negara tidak?”

Mereka tidak membutuhkan pengeras suara.

Mereka juga tidak memasang spanduk.

Sebaliknya, semen, pasir, dan keringat sudah cukup menyampaikan kritik.

Negara Hadir Saat Foto Bersama?

Ada kebiasaan yang semakin akrab dalam ruang publik Indonesia.

Ketika masalah muncul, warga diminta mandiri.

Sebaliknya, ketika masyarakat berhasil menghadirkan solusi, pejabat datang memberikan apresiasi.

Akibatnya, pola seperti ini membentuk kesan bahwa pelayanan publik hanyalah bonus, bukan kewajiban.

Padahal, logikanya justru berkebalikan.

Gotong royong merupakan kekuatan masyarakat.

Sementara itu, negara memikul kewajiban menyediakan pelayanan publik.

Karena itu, keduanya harus berjalan berdampingan, bukan saling menggantikan.

Jika warga terus memperbaiki jalan, membangun jembatan, membenahi saluran air, hingga membiayai fasilitas umum karena negara terlambat bertindak, persoalannya bukan lagi soal budaya masyarakat.

Sebaliknya, kondisi itu menunjukkan bahwa standar pelayanan negara terus menurun.

Dan itulah kabar yang seharusnya mengundang kegelisahan.

Modal Sosial Jangan Dijadikan Alasan Negara Bermalas-malasan

Indonesia beruntung karena modal sosialnya masih hidup.

Di banyak negara, masyarakat bahkan kesulitan mengumpulkan tetangga untuk sekadar kerja bakti.

Sebaliknya, warga Indonesia masih rela menyumbang tenaga, uang, dan waktu demi kepentingan bersama.

Namun, modal sosial tetap memiliki batas.

Nilai itu bukan cek kosong yang dapat menutup setiap kegagalan pelayanan publik.

Semangat gotong royong seharusnya menjadi mitra pembangunan, bukan penyangga permanen bagi kelambanan birokrasi.

Apabila negara mulai menganggap masyarakat selalu mampu menyelesaikan persoalan sendiri, gotong royong perlahan kehilangan makna sebagai solidaritas.

Pada akhirnya, semangat itu berubah menjadi mekanisme darurat yang terus muncul setiap kali pelayanan publik gagal menjalankan fungsinya.

Yang Rusak Bukan Hanya Jalan

Lubang di aspal memang bisa ditutup dengan semen.

Namun, membangun kembali kepercayaan publik jauh lebih sulit.

Pembangunan bukan sekadar menghitung berapa kilometer jalan selesai diaspal atau berapa besar anggaran yang terserap. Sebaliknya, pembangunan harus menghadirkan keyakinan bahwa negara akan datang sebelum masyarakat terpaksa bekerja sendiri.

Selama masyarakat masih memilih bergotong royong, Indonesia sebenarnya belum kehilangan modal sosialnya.

Akan tetapi, suara sekop dan adukan semen menyimpan pertanyaan yang semakin nyaring.

Kalau rakyat terus bergotong royong menutup lubang, kapan negara mulai menutup jarak dengan rakyatnya?

Sebab negara yang baik bukanlah negara yang membiarkan warganya terus-menerus kuat demi memperoleh pelayanan dasar.

Sebaliknya, negara yang baik memastikan setiap warga mendapatkan haknya tanpa harus lebih dulu menggantikan peran negara.

Gotong royong akan selalu menjadi kekuatan bangsa. Namun, kekuatan itu seharusnya mempercepat pembangunan, bukan menutupi kelambanan birokrasi. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan negara bukan terletak pada seberapa sering rakyat mampu menyelesaikan persoalan sendiri, melainkan pada seberapa cepat negara hadir sebelum rakyat terpaksa mengambil alih tanggung jawabnya. @dimas

Tags: Gotong RoyongInfrastrukturJalan Rusakkritik sosialModal SosialNegaraPelayanan Publik

Kamu Melewatkan Ini

Parkir Digital Masuk Solo, Pengawasan Jangan Ketinggalan

Parkir Digital Masuk Solo, Pengawasan Jangan Ketinggalan

by teguh
September 17, 2026

Pemkot Surakarta menyiapkan peluncuran Transformasi Parkir digital untuk Kota Surakarta pada Jumat, 18/09/2026. Kantor Dinas Perhubungan Kota Surakarta menjadi lokasi...

Gotong Royong, Modal Pembangunan yang Sering Dilupakan

Gotong Royong, Modal Pembangunan yang Sering Dilupakan

by dimas
September 11, 2026

Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tetapi modal sosial untuk membangun dan merawat infrastruktur. Saatnya menghitung potensi selain uang. Tabooo.id...

ASN: Dikirim Negara, Lalu Dibunuh, Siapa Menjamin Nyawa Petugas di Papua?

ASN: Dikirim Negara, Lalu Dibunuh, Siapa Menjamin Nyawa Petugas di Papua?

by teguh
September 11, 2026

Rabu, 09/09/2026, menjadi hari terakhir bagi tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang menjalankan tugas di Distrik Muliama, Papua Pegunungan....

Next Post
Luka Papua: Saat Nyawa Sipil Jadi Korban

Luka Papua: Saat Nyawa Sipil Jadi Korban

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id