Sejarah Anarkisme tidak hanya bergerak lewat buku, pidato, dan perdebatan politik. Ia juga hidup dalam pabrik yang mendadak sunyi, zine fotokopian, musik punk, serta huruf “A” di tembok kota. Namun, mengapa gagasan tentang hidup tanpa penguasa selalu membuat kekuasaan menjadi begitu gelisah?
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani. Maknanya menunjuk pada keadaan tanpa penguasa atau kekuasaan terpusat. Namun, percakapan publik perlahan mengubah makna itu.
Mereka membayangkan masyarakat yang mampu mengurus diri sendiri. Orang-orang bekerja melalui asosiasi sukarela, solidaritas, otonomi, dan swakelola.
Bukan hidup tanpa aturan. Melainkan hidup tanpa seseorang yang selalu memegang cambuk.
Ketika Ketertiban Mulai Terasa Seperti Penjara
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, ia menyerang fondasi masyarakat modern.
Proudhon tidak sedang memusuhi rumah kecil milik pekerja. Ia menyerang kepemilikan besar yang menghasilkan keuntungan dari kerja orang lain.
Setelah itu, Mikhail Bakunin datang dengan kemarahan yang lebih keras.
Bakunin tidak percaya negara dapat diperbaiki. Baginya, kekuasaan akan tetap menindas meski berpindah tangan.
Anarkisme pun tidak pernah memiliki satu wajah. Ia tumbuh sebagai percakapan panjang tentang kebebasan, kerja, kepemilikan, solidaritas, dan kekuasaan.
Ketika Kawan Seperjuangan Mulai Saling Mencurigai
Pada mulanya, kaum anarkis dan Marxis berdiri di lorong perjuangan yang sama. Mereka menghadapi kapitalisme, eksploitasi buruh, dan negara yang melindungi pemilik modal. Namun, lorong itu segera terbelah.
Di satu sisi, kaum Marxis menuntut partai, kepemimpinan, dan disiplin terpusat. Di sisi lain, kaum anarkis memilih federasi bebas, organisasi horizontal, dan keputusan langsung.
Pertengkaran itu bukan sekadar perdebatan dua pemikir.
Mereka sedang memperdebatkan pertanyaan yang masih hidup sampai hari ini.
Apakah bisa memakai kekuasaan untuk menghapus kekuasaan? Atau, apakah setiap kekuasaan selalu menemukan alasan untuk mempertahankan dirinya?
Internasionale Pertama akhirnya pecah pada 1872.
Paris Terbakar, Spanyol Mencoba Hidup Tanpa Tuan
Pada musim semi 1871, Paris berubah.
Pekerja mengambil alih kota. Mereka mengelola pabrik, layanan publik, dan urusan sosial melalui organisasi lokal.
Eksperimen itu berakhir. Namun, bayangannya menetap dalam ingatan gerakan pekerja.
Di Catalonia, komite pekerja mengambil alih pabrik, transportasi, dan berbagai layanan publik. Sementara itu, petani di Aragon serta Valencia mengelola tanah secara kolektif.
Orang berkumpul dalam majelis. Mereka membahas produksi, distribusi, kebutuhan keluarga, dan pertahanan wilayah.
Untuk sesaat, dunia tanpa tuan tidak lagi menjadi teori. Ia hadir dalam suara mesin pabrik, tanah pertanian, dapur komunal, dan rapat desa.
Namun, perang memaksa kaum anarkis berkompromi.
Sebagian bergabung dengan pemerintahan Republik demi menghadapi fasisme. Sebagian lain melihat langkah itu sebagai pengkhianatan.
Akhirnya, revolusi tersebut runtuh di bawah perang, konflik internal, represi, dan kemenangan Franco.
Mimpi hidup tanpa penguasa ternyata tetap membutuhkan cara menghadapi orang yang datang membawa senjata.
Di Hindia, Gagasan Itu Menumpang Kereta dan Surat Kabar
Anarkisme tidak datang ke Indonesia lewat satu kapal atau satu tokoh.
Ia menyelinap melalui surat kabar, percakapan buruh, jaringan internasional, dan kegelisahan terhadap kolonialisme.
Melalui Het Tijdschrift dan De Express, ia menyebarkan tulisan-tulisan radikal dari berbagai negara.
Namun, Douwes Dekker hidup dalam sebuah kontradiksi. Ia memimpikan dunia tanpa sekat negara.
Pada saat yang sama, Hindia masih membutuhkan kemerdekaan dari negara kolonial.
Bagaimana seseorang menolak negara ketika bangsanya bahkan belum memilikinya?
Ketegangan itu membuat sejarah anarkisme di Indonesia tidak pernah sederhana.
Pada 1910-an dan 1920-an, batas antara kelompok kiri masih cair.
Komunis, sosialis, nasionalis radikal, dan kelompok antiautoritarian kerap bergerak bersama. Mereka belum sempat sibuk menjaga kemurnian label. Imperialisme Belanda berdiri terlalu jelas di depan mereka.
Kemudian, buruh kereta api yang tergabung dalam VSTP melancarkan pemogokan besar pada 1923. Rel menjadi sunyi. Transportasi kolonial terganggu.
Untuk beberapa saat, kekuasaan menemukan kenyataan sederhana. Sistem sebesar apa pun tetap bergantung pada tangan orang yang setiap hari menjalankannya.
Anarkisme Menghilang, tetapi Suaranya Menumpang Musik
Setelah itu, jejak anarkisme semakin sulit ditemukan dalam ruang publik Indonesia.
Negara membangun bahasa politik yang rapi. Ideologi harus memiliki organisasi, pimpinan, dan tempat yang mudah diawasi.
Anarkisme tidak cocok dengan bentuk tersebut. Karena, ia tidak memiliki satu ketua umum. Tidak tersedia satu kantor pusat yang mewakili semua kelompok.
Lalu, pada pertengahan 1990-an, suara itu kembali melalui jalur yang tidak diduga. Anarkisme muncul dari kaset, panggung kecil, zine fotokopian, jaket penuh tambalan, dan musik punk.
Anak-anak muda belajar etos Do-It-Yourself. Mereka membuat pertunjukan sendiri, mencetak tulisan sendiri, dan membangun jaringan tanpa menunggu izin lembaga besar.
Band seperti Runtah di Bandung membawa lirik antiautoritarian ke tengah atmosfer represif menjelang jatuhnya Soeharto.
Bagi sebagian orang, itu hanya musik berisik. Namun, bagi anak muda yang merasa tercekik, musik tersebut menyediakan bahasa. Bahasa untuk mengatakan bahwa hidup tidak harus selalu meminta izin.
Reformasi Membuka Jalan, tetapi Juga Membuka Perburuan
Setelah Reformasi 1998, jaringan antiautoritarian mulai bergerak lebih terbuka.
Jaringan Anti Fasis Nusantara muncul pada 1999. Namun, tekanan dan tuduhan komunisme segera membayanginya.
Pada 2007, kolektif dari berbagai kota membentuk Jaringan Anti-Otoritarian. Mereka tidak membangun struktur komando yang kaku. Sebaliknya, mereka memilih asosiasi bebas dan organisasi horizontal.
Setahun kemudian, simbol lingkaran “A” serta barisan hitam muncul dalam aksi May Day di Jakarta.
Aksi itu membawa tuntutan pertanggungjawaban atas bencana lumpur Lapindo. Namun, kamera sering memiliki selera berbeda. Kamera lebih tertarik pada pakaian hitam daripada tuntutan korban. Ia lebih menyukai simbol asing daripada cerita warga yang kehilangan tanah.
Sejak saat itu, anarkisme kembali masuk ke televisi. Bukan sebagai percakapan tentang solidaritas. Bukan pula sebagai kritik terhadap ketimpangan. Melainkan, hadir sebagai tersangka.
Ketika Simbol Lebih Mudah Diadili daripada Gagasan
Sejumlah aksi konfrontatif kemudian memperkuat citra tersebut.
Bentrokan, perusakan, dan pengeboman ATM membuat publik semakin menghubungkan anarkisme dengan kekerasan.
Negara pun memperoleh gambar yang mudah dijual.
Orang berpakaian hitam memenuhi gambar. Di antara kerumunan, simbol “A” terlihat jelas. Sementara itu, kaca pecah menjadi penutup cerita yang paling mudah dijual. Selesai.
Tidak perlu membahas kondisi kerja, perampasan tanah, krisis ekologis, atau rasa asing dalam kehidupan perkotaan. Namun, sejarah tidak pernah sesederhana potongan video.
Di dalam spektrum anarkisme, selalu muncul perdebatan tentang kekerasan, organisasi, strategi, dan tanggung jawab.
Tidak semua kelompok memilih taktik serupa. Bahkan, tidak semua orang yang memakai pakaian hitam memahami filsafat anarkisme.
Sayangnya, label selalu bergerak lebih cepat daripada penjelasan. Kekuasaan menyukai lawan yang mudah digambar. Sebab, gagasan lebih sulit ditangkap daripada orang.
Anarkisme yang Tidak Lagi Membawa Senapan
Pada abad ke-21, banyak gerakan antiautoritarian meninggalkan bayangan revolusi klasik.
Mereka tidak selalu bermimpi menyerbu istana. Sebaliknya, mereka membangun koperasi, dapur umum, perpustakaan bebas, ruang sosial, klinik komunitas, dan jaringan bantuan.
Strategi ini berfokus pada pembangunan institusi alternatif. Tujuannya bukan menunggu sistem runtuh. Mereka mulai mengurangi ketergantungan terhadap sistem sejak sekarang.
Jejak serupa muncul dalam komunitas Zapatista di Chiapas. Masyarakat adat mengelola pendidikan, pertanian, kesehatan, dan keputusan politik melalui struktur lokal.
Di Rojava, komunitas membangun dewan rakyat, kesetaraan gender, pertahanan lokal, dan ekologi sosial.
Gerakan tersebut tidak selalu menyebut dirinya anarkis. Namun, semangat swakelola dan desentralisasi terasa kuat dalam cara mereka membangun kehidupan.
Jejak Anarkisme dalam Kehidupan Sehari-hari
Kamu mungkin tidak pernah membaca Bakunin. Kamu juga mungkin tidak mengenal Proudhon, Kropotkin, atau sejarah Internasionale Pertama. Namun, kamu mungkin pernah melihat orang membuka dapur umum ketika bantuan resmi belum datang.
Bisa jadi kamu pernah melihat warga menjaga lingkungan tanpa menunggu instruksi pemerintah. Mungkin pula kamu pernah bergabung dalam komunitas yang bekerja tanpa ketua dominan.
Kamu menyumbang tenaga. Orang lain membawa makanan. Seseorang menyediakan tempat. Tidak ada satu orang yang memiliki semuanya. Namun, sesuatu tetap berjalan.
Di ruang kecil seperti itulah pertanyaan anarkisme kembali muncul. Apakah manusia selalu membutuhkan penguasa untuk bekerja sama? Atau, kita hanya terlalu lama diajarkan bahwa keteraturan harus datang dari atas?
Tentu, masyarakat modern tidak sesederhana rapat komunitas.
Kita membutuhkan koordinasi, perlindungan, infrastruktur, dan pertanggungjawaban yang jelas. Namun, anarkisme memaksa kita mengajukan pertanyaan yang sering dihindari.
Berapa banyak aturan benar-benar melindungi manusia? Dan, berapa banyak aturan hanya melindungi orang yang sudah berkuasa?
Sejarah Tidak Pernah Benar-Benar Diam
Anarkisme telah berkali-kali kalah.
Komune Paris dihancurkan. Revolusi Spanyol runtuh. Banyak aktivis dipenjara, dibunuh, atau dilupakan.
Di Indonesia, sejarahnya tertutup oleh label kriminal, ketakutan politik, dan ingatan nasional yang sangat selektif.
Namun, gagasan itu selalu kembali. Kadang ia muncul dalam buku. Kadang ia hidup dalam lagu punk.
Pada waktu lain, ia hadir dalam koperasi, dapur umum, serikat pekerja, atau warga yang saling menolong.
Anarkisme tidak selalu datang dengan api. Terkadang, ia datang sebagai meja panjang tempat orang duduk setara.
Ia muncul ketika seseorang bertanya mengapa satu orang boleh menentukan hidup banyak orang.
Kemudian, ia bertahan dalam pertanyaan yang lebih dalam, bisakah kita menciptakan keteraturan tanpa terus-menerus menciptakan penguasa?
Mungkin itulah alasan huruf “A” selalu membuat kekuasaan gelisah. Bukan karena manusia menyukai kekacauan. Namun, karena manusia tidak pernah berhenti membayangkan kebebasan. @tabooo







