Di sudut sebuah kedai ramen di Kota Mojokerto, aroma kuah hangat bercampur dengan wangi kertas buku yang mulai menguning. Seorang pengunjung menikmati makanannya sambil membuka beberapa halaman novel dari rak kayu di dekat meja. Tidak ada petugas yang mengawasi, sementara kartu anggota perpustakaan pun tak pernah ditanyakan. Suasana itu mengalir begitu saja. Di tempat sederhana itulah, budaya membaca menemukan cara baru untuk tetap hidup.
Tabooo.id – Pemandangan di kedai tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar gawai, rak buku kecil di sebuah kedai justru menghadirkan harapan. Barangkali budaya membaca tidak benar-benar menghilang. Ia hanya berpindah tempat, lalu tumbuh di ruang-ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika Buku Tidak Lagi Menunggu Pembacanya
Selama ini, banyak orang menyebut rendahnya minat baca sebagai penyebab utama persoalan literasi di Indonesia. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks. Akses terhadap buku, ruang membaca yang nyaman, serta kesempatan untuk bertemu dengan bacaan berkualitas juga ikut menentukan apakah seseorang mau membuka halaman pertama sebuah buku.
Kesadaran itulah yang mendorong Komunitas Kembali Membaca di Kota Mojokerto mengambil langkah berbeda. Alih-alih menunggu masyarakat datang ke perpustakaan, para relawan memilih mengantarkan buku langsung ke rumah-rumah, sekolah, hingga ruang publik. Mereka percaya buku seharusnya lebih dahulu menemukan pembacanya.
Sejak 2021, komunitas tersebut rutin menjalankan program Berbagi Buku setiap Hari Anak Nasional dan Hari Disabilitas Nasional. Dalam setiap kegiatan, para relawan membagikan lebih dari seribu buku kepada pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
“Saat ini yang masih berjalan adalah program Berbagi Buku sejak 2021. Rutin tiap tahun dua kali, setiap Hari Anak dan Hari Disabilitas. Dibagikan rata-rata 1.000 buku per kegiatan. Ini sudah berjalan lima tahun. Kemarin kami juga menambah kegiatan pada peringatan Hari Literasi. Selanjutnya kami berencana menggelarnya lagi pada Hari Matematika, 15/06/2026,” ujar Galunggung Pamungkas, Dinamisator Komunitas Kembali Membaca, kepada Jumat, 10/06/2026.
Selain mengandalkan koleksi pribadi anggota komunitas, para relawan juga menerima donasi dari masyarakat dan berbagai pihak yang ingin ikut memperluas akses literasi. Dengan cara itu, setiap buku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pembaca baru.
Dari Gerobak Impian Menuju Book Hive
Sebenarnya perjalanan komunitas ini sudah dimulai jauh sebelum program Berbagi Buku lahir. Pada 2015, Galunggung bersama sejumlah relawan membuka lapak baca gratis di depan Taman Makam Pahlawan Kota Mojokerto. Mereka menamai inisiatif tersebut Gerobak Impian.
Setiap akhir pekan, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berkumpul untuk membaca tanpa harus mengeluarkan biaya. Lapak sederhana itu perlahan berubah menjadi ruang pertemuan bagi siapa saja yang ingin menikmati buku. Namun, pandemi Covid-19 menghentikan aktivitas tersebut.
“Saat itu kami sempat membuat Gerobak Impian. Banyak masyarakat datang ke lapak baca kami. Namun pandemi Covid-19 membuat kegiatan itu harus berhenti sehingga kami mencari cara lain agar buku tetap bisa bertemu pembacanya,” kata Galunggung.
Meski demikian, pandemi tidak memadamkan semangat komunitas itu. Sebaliknya, mereka mencari cara baru agar budaya membaca tetap bergerak. Dari sanalah lahir konsep Book Hive, sebuah rak buku yang mereka titipkan di sejumlah kedai.
Ketika Kedai Menjadi Rumah Literasi dan Tempat Budaya Membaca
Kini Komunitas Kembali Membaca menempatkan empat Book Hive di dua kedai di Mojokerto dan dua kedai lainnya di Jombang. Setiap pengunjung bebas mengambil buku, membacanya di tempat, membawa pulang, atau menyumbangkan koleksi baru. Tidak ada formulir yang harus diisi. Kepercayaan menjadi aturan utama.
Konsep itu mungkin terdengar sederhana. Akan tetapi, di tengah kehidupan yang semakin individual, kepercayaan justru menjadi fondasi yang sangat berharga. Book Hive bukan hanya menyimpan buku, melainkan juga merawat rasa saling percaya di antara masyarakat.
Salah satu Book Hive berada di Kedai Ramen Saehyo milik M. Juniar Arfianto. Lebih dari seratus buku mengisi dua sudut ruangan. Bagi Juniar, rak buku tersebut bukan sekadar pelengkap interior.
“Kami menerima rak buku ini supaya pengunjung punya lebih banyak interaksi. Mereka tidak terus-menerus sibuk dengan telepon genggam. Mereka bisa menikmati makanan sambil membaca buku,” ujarnya kepada Kompas.com, 10/06/2026.
Pernyataan itu menggambarkan perubahan budaya yang sedang berlangsung. Dulu, kedai identik dengan tempat berbincang. Kini, banyak orang datang hanya untuk menatap layar ponsel. Karena itulah Book Hive mencoba menghadirkan kembali ruang perjumpaan antara manusia, buku, dan percakapan.
Budaya Membaca Sedang Berubah Wajah
Perpustakaan selama ini identik dengan bangunan besar, rak tinggi, dan suasana yang sunyi. Padahal, sejarah menunjukkan budaya membaca sering tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Warung kopi di Eropa pernah melahirkan banyak gagasan besar. Taman kota menjadi tempat lahirnya komunitas literasi. Kini, sebuah kedai ramen di Mojokerto ikut memperlihatkan wajah baru budaya membaca.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya tidak menolak buku. Sebaliknya, mereka membutuhkan ruang membaca yang terasa akrab, santai, dan tidak menghakimi. Karena itu, rak buku kecil di sudut kedai mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda dibanding ruang baca yang formal.
Pandangan itu sejalan dengan gagasan Najelaa Shihab, pendidik sekaligus pendiri Semua Murid Semua Guru, yang dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional, Mei 2024, menegaskan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah.
“Belajar adalah ekosistem. Sekolah penting, tetapi masyarakat juga harus menjadi ruang belajar.”
Pernyataan tersebut terasa hidup di Mojokerto. Masyarakat tidak menunggu perubahan datang dari atas. Sebaliknya, mereka menciptakan ruang belajar dengan cara mereka sendiri.
Sementara itu, UNESCO melalui Global Education Monitoring Report juga menegaskan bahwa akses terhadap bahan bacaan menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mempersempit kesenjangan belajar. Pesan itu memperlihatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan soal kesempatan bertemu dengan pengetahuan.
Ketika Warga Bergerak Lebih Dulu
Galunggung mengaku pengalaman masa kecilnya ikut mendorong lahirnya gerakan tersebut. Saat itu, membeli atau menyewa buku menjadi kemewahan bagi keluarganya.
“Dulu saya harus menyewa buku. Kondisi ekonomi keluarga juga terbatas. Karena itu saya dan teman-teman sepakat bahwa semua orang seharusnya bisa mengakses buku dengan lebih mudah,” tuturnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa akses literasi sering kali bergantung pada kondisi ekonomi. Karena itulah komunitas ini memilih membuka jalan yang lebih sederhana. Mereka tidak menunggu fasilitas datang, melainkan menghadirkannya sendiri.
Di sisi lain, para pengunjung juga merasakan manfaatnya. Hendro, salah seorang warga Prajurit Kulon yang datang bersama keluarganya, mengaku baru pertama kali menemukan rak buku di dalam sebuah kedai.
“Apresiasi yang luar biasa. Kami bisa menikmati makanan sekaligus menambah literasi. Harapannya kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya kepada Kompas.com, 10/06/2026.
Sebelum pulang, Hendro membawa satu buku yang menarik perhatiannya. Langkah kecil itu mungkin tampak sederhana. Namun, setiap buku yang berpindah tangan sesungguhnya sedang memperpanjang usia budaya membaca.
Yang Dicari Bukan Sekadar Buku, Melainkan Tempat untuk Bertumbuh
Ironisnya, ketika banyak orang sibuk memperdebatkan rendahnya minat baca, sekelompok warga di Mojokerto justru memilih bergerak. Alih-alih menunggu pembangunan perpustakaan baru, mereka menghadirkan rak buku di tempat yang paling dekat dengan masyarakat. Bahkan, mereka mengubah kedai menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan dan kehidupan sehari-hari.
Gerakan itu mengajarkan satu hal penting. Budaya membaca tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau bangunan megah. Sebaliknya, perubahan sering muncul dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Para relawan membuka rak buku, masyarakat menyumbangkan koleksi, lalu para pengunjung membawa pulang bacaan yang mereka sukai. Perlahan, kebiasaan membaca kembali menemukan jalannya.
Barangkali masa depan literasi Indonesia memang tidak selalu tumbuh di balik dinding perpustakaan. Bisa jadi, masa depan itu sedang lahir di sudut sebuah kedai, di antara aroma kopi, semangkuk ramen hangat, serta halaman-halaman buku yang terus berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Sebab, budaya membaca tidak pernah benar-benar pergi. Warga hanya sedang mencarikan rumah baru untuknya. @teguh







