Kirab Budaya Winongo memperkuat identitas budaya dan kebersamaan warga melalui rangkaian Bersih Desa 2026, sekaligus mendorong pariwisata berbasis budaya di Kota Madiun.
Tabooo.id: Regional – Irama gamelan mengiringi langkah ratusan warga yang mulai bergerak dari Jalan Doho, Minggu (5/7/2026). Gunungan hasil bumi berdiri di barisan terdepan. Sementara itu, di belakangnya, peserta dari 11 RW mengenakan busana adat dan membawa identitas budaya kampung masing-masing.
Kirab itu tidak sekadar menghadirkan arak-arakan budaya. Sebaliknya, masyarakat Winongo menjadikannya sebagai simbol persatuan sekaligus cara memperkenalkan identitas budaya kepada masyarakat luas.
Melalui Kirab Budaya Bersih Desa 2026, warga menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Bahkan, mereka membuktikan bahwa budaya mampu menyatukan berbagai generasi dalam satu perayaan yang hidup.
Sebelas RW Tampilkan Identitas Budaya
Kirab dimulai dari Jalan Doho. Kemudian, rombongan bergerak menuju Kelurahan Winongo sebagai titik akhir perjalanan.
Saat melintasi Jalan Sultan Agung, seluruh peserta berhenti di depan panggung kehormatan. Mereka menampilkan pertunjukan budaya terbaik yang disaksikan langsung oleh Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, Ketua Umum PSHW H. R. Agus Wiyono Santoso, Camat Mangunharjo Lita Febriana Hapsari, serta tamu undangan lainnya.
Setiap kelompok membawa konsep yang berbeda. Namun, seluruh peserta memiliki tujuan yang sama, yakni memperlihatkan kekayaan budaya Winongo sekaligus memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
Pemerintah Dorong Budaya Menjadi Penggerak Pariwisata
Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengapresiasi kekompakan masyarakat Winongo. Menurutnya, seluruh lapisan masyarakat ikut berpartisipasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
“Di Kelurahan Winongo ini semuanya kompak, dari anak-anak sampai yang tua. Semua yang saya banggakan. Setiap RW punya konsep sendiri-sendiri. Ini menunjukkan kreativitas warga Winongo.” ujarnya.
Selain itu, Bagus menilai Winongo layak menjadi contoh kelurahan yang mampu mengembangkan seni dan budaya secara berkelanjutan.
“Mulai 2027, kegiatan budaya di setiap kelurahan akan kami gaungkan. Anggarannya sudah kami siapkan. Minimal delapan kegiatan seni budaya di setiap kelurahan. Budaya harus memiliki ruang supaya terus hidup.” tambahnya.
Lebih jauh lagi, Pemerintah Kota Madiun menempatkan budaya sebagai salah satu fondasi pembangunan sektor pariwisata.
Menurut Bagus, budaya yang tumbuh secara konsisten akan mendorong sektor pariwisata berkembang. Selanjutnya, perkembangan itu akan menggerakkan pelaku UMKM, perdagangan, jasa, hingga ekonomi masyarakat.
“Pariwisata menjadi fokus Pemerintah Kota Madiun. Budaya menjadi pendukung utama. Ketika budaya berkembang, pelaku ekonomi dari berbagai sektor ikut bergerak sehingga perputaran ekonomi Kota Madiun semakin tinggi.” pungkasnya.
Tradisi Bertahan Karena Terus Dihidupkan
Perkembangan zaman membuat banyak tradisi kehilangan ruang. Sebagian berubah menjadi tontonan. Sementara itu, sebagian lainnya perlahan ditinggalkan.
Namun, Winongo memilih jalan yang berbeda.
Pemerintah kelurahan bersama masyarakat menggandeng komunitas, pelaku seni, organisasi budaya, dan berbagai mitra agar Bersih Desa tetap hidup. Selain itu, mereka juga membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut terlibat secara aktif.
Dengan cara tersebut, tradisi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Sebaliknya, tradisi berkembang menjadi ruang belajar, ruang bertemu, sekaligus ruang berbagi pengalaman.
Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua. Komunitas seni berkolaborasi dengan warga. Bahkan, setiap RW menghadirkan kreativitasnya sendiri tanpa kehilangan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Bukan Sekadar Kirab, tetapi Investasi Sosial
Kirab Budaya Bersih Desa Winongo memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan partisipasi masyarakat. Tradisi tidak akan bertahan hanya karena upacara seremonial.
Sebaliknya, masyarakat harus terus menjalankannya. Selain itu, setiap generasi perlu memberi makna baru agar budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Karena itu, masyarakat Winongo menjadikan Bersih Desa sebagai ruang memperkuat hubungan sosial, menjaga identitas kampung, sekaligus membangun peluang ekonomi melalui sektor pariwisata.
Inilah yang membedakan Kirab Budaya Winongo dengan sekadar pawai budaya.
Kirab ini bukan hanya menampilkan gunungan, kesenian, atau kostum tradisional. Lebih dari itu, kirab ini memperlihatkan bagaimana masyarakat merawat ingatan kolektif, memperkuat solidaritas, dan menyiapkan masa depan kampung melalui budaya.
Pada akhirnya, Bersih Desa Winongo 2026 mengirimkan pesan sederhana tetapi kuat. Tradisi tidak pernah hidup karena seremoni semata. Tradisi bertahan karena masyarakat terus menjaganya. Sementara itu, budaya akan terus berkembang ketika setiap generasi berani memberikan makna baru bagi warisan yang mereka terima. @dimas







