Akhlis Syamsal Qomar dikenal sebagai sejarawan muda asal Madiun yang menjaga ingatan Jawa melalui riset, arsip, buku, dan karya ilmiah.
Tabooo.id – Di tengah derasnya arus informasi, sejarah sering tertinggal di belakang. Banyak orang lebih mengenal isu yang sedang viral daripada kisah yang membentuk identitas daerahnya. Kondisi itu justru mendorong Akhlis Syamsal Qomar memilih jalan berbeda. Ia mendedikasikan hidupnya untuk meneliti, menulis, dan mengenalkan kembali sejarah lokal kepada masyarakat.
Bagi Akhlis, sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan nama tokoh. Sejarah adalah cara memahami jati diri sebuah bangsa. Dari keyakinan itu, ia tumbuh menjadi salah satu sejarawan muda yang konsisten mengangkat sejarah Madiun Raya, tatanan lama Jawa, hingga pendidikan sejarah.
Lahir di Madiun pada 17 Maret 1997, Akhlis mulai menaruh minat pada sejarah sejak duduk di bangku sekolah. Rasa ingin tahunya semakin besar ketika ia menemukan banyak kisah penting Madiun yang belum terdokumentasi secara luas. Ia kemudian memilih menjadikan sejarah lokal sebagai fokus utama perjalanan akademiknya.
Menempuh Pendidikan dengan Fondasi Sejarah dan Keagamaan
Akhlis mengawali pendidikan di MI Miftahul Khoirot. Setelah itu, ia melanjutkan ke MTs Negeri 1 Kota Madiun dan MAN 2 Kota Madiun. Di waktu yang sama, ia memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Daarul Ahkaam Uteran serta Pondok Pesantren Darul Rohmah MAN 2 Kota Madiun.
Ketertarikannya pada sejarah membawanya ke Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan Sejarah pada 2019. Selanjutnya, ia menyelesaikan Magister Pendidikan Sejarah di kampus yang sama pada 2023.
Selama menjadi mahasiswa, Akhlis aktif mengikuti berbagai organisasi. Ia pernah memimpin bidang katalogisasi Laboratorium Pendidikan Sejarah FKIP UNS. Ia juga menjabat Sekretaris Umum HMP Ganesha Pendidikan Sejarah, aktif di PMII, Dewan Mahasiswa FKIP UNS, hingga bergabung dengan Komunitas Pelestari Sejarah Madiun Raya (KOMPAS MADYA). Kini, ia juga aktif di LESBUMI Nahdlatul Ulama Kota dan Kabupaten Madiun.
Menulis Sejarah dari Pinggiran, Bukan dari Pusat Kekuasaan
Banyak peneliti memilih menulis sejarah nasional. Namun Akhlis justru berangkat dari daerahnya sendiri. Ia percaya sejarah lokal menyimpan potongan penting yang selama ini luput dari perhatian.
Komitmen itu mengantarkannya menjadi bagian penting dalam proyek Trilogi Sejarah Madiun Raya yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Ia berkontribusi dalam buku Antara Lawu dan Wilis: Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya serta Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan.
Namanya semakin dikenal setelah menerbitkan buku Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun, Sekitar 1779–1810 pada 2022. Buku itu menghadirkan pembacaan baru terhadap sosok Raden Ronggo sebagai tokoh penting dalam sejarah perlawanan Jawa terhadap kolonialisme.
Aktif Meneliti dan Mempublikasikan Kajian Sejarah
Akhlis tidak berhenti pada penulisan buku. Ia terus mengembangkan penelitian akademik mengenai sejarah Jawa dan Madiun.
Fokus kajiannya meliputi desa perdikan, manuskrip kuno, jaringan pesantren, sejarah Islam di Jawa, hingga historiografi Mataraman.
Salah satu publikasinya yang banyak mendapat perhatian ialah penelitian berjudul Antara Merdeka dan Dijajah: Problematika Kawula Desa Perdikan di Wilayah Eks Karesidenan Madiun pada 2024.
Selain itu, ia juga menerbitkan berbagai artikel ilmiah di jurnal nasional maupun internasional. Tulisan-tulisannya membahas historiografi, manuskrip Jawa, arkeologi Islam, hingga kepemimpinan lokal.
Membawa Sejarah Keluar dari Ruang Kelas
Bagi Akhlis, sejarah harus hadir di tengah masyarakat. Karena itu, ia aktif mengisi seminar, diskusi publik, bedah buku, workshop, hingga forum budaya sejak 2021.
Ia berbicara di berbagai forum yang digelar pemerintah daerah, perguruan tinggi, BRIN, Radio Republik Indonesia Madiun, hingga komunitas sejarah.
Materi yang ia sampaikan mencakup sejarah Madiun, Raden Ronggo Prawirodirjo III, manuskrip kuno, jaringan pesantren, kebudayaan Jawa, dan historiografi lokal.
Selain menjadi peneliti, Akhlis juga mengajar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sejak 2023. Melalui ruang kuliah, ia mendorong lahirnya generasi baru yang kritis terhadap sejarah daerahnya.
Prestasi yang Mengiringi Perjalanan Akademik
Ketekunan Akhlis membuahkan banyak penghargaan.
Ia pernah meraih Juara II Kompetisi Sains Madrasah PAI tingkat Jawa Timur. Ia juga menjadi lulusan terbaik MAN 2 Kota Madiun.
Ketika kuliah di UNS, ia menerima Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik dan lulus cumlaude. Pada 2019, UNS menetapkannya sebagai Lulusan Terbaik FKIP. Saat menyelesaikan pendidikan magister pada 2023, ia kembali meraih predikat Lulusan Terbaik ke-3 FKIP UNS.
Merawat Memori Kolektif Madiun
Peran Akhlis tidak berhenti di kampus maupun ruang seminar.
Ia ikut menyusun Profil Kebudayaan Kabupaten Madiun. Ia juga bergabung dalam tim digitalisasi manuskrip, revitalisasi museum, kajian pakaian adat Kabupaten Madiun, penyuntingan buku sejarah, hingga produksi film dokumenter mengenai Raden Ronggo Prawirodirjo III dan Soedjatmoko.
Berbagai aktivitas itu memperlihatkan satu benang merah. Akhlis ingin menjaga memori kolektif masyarakat Madiun agar tidak hilang ditelan zaman.
Sejarah yang Tetap Hidup
Di era ketika informasi berganti setiap detik, Akhlis memilih menempuh jalan yang tidak banyak dilirik. Ia membaca arsip, meneliti manuskrip, dan menulis sejarah dengan kesabaran yang panjang.
Pilihan itu membuatnya tidak hanya dikenal sebagai akademisi. Ia juga menjadi penghubung antara masa lalu dan generasi masa kini.
Kisah Akhlis Syamsal Qomar menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang apa yang telah berlalu. Sejarah adalah pijakan untuk memahami hari ini sekaligus menyiapkan masa depan. Selama masih ada orang yang merawat ingatan, identitas sebuah daerah akan tetap hidup. @dimas






