Kirab Pusaka Tiga Zaman PSHW TM mengawali Suran Agung 2026 dengan tradisi topo bisu, simbol pengendalian diri, pelestarian budaya, dan persaudaraan.
Tabooo.id – Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kota Madiun, akan dipenuhi ribuan warga Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW TM) pada Rabu (24/6/2026) malam. Mereka akan mengikuti Kirab Pusaka Tiga Zaman, prosesi sakral yang membuka rangkaian Suran Agung PSHW TM 2026.
Kirab ini bukan sekadar tradisi tahunan. Bagi keluarga besar PSHW TM, prosesi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, mengenang jasa para pendahulu, sekaligus menjaga warisan budaya pencak silat yang telah hidup selama lintas generasi.
Kirab Dimulai dari Padepokan PSHW TM
Panitia akan memberangkatkan peserta pada pukul 22.00 WIB dari Padepokan PSHW TM, Jalan Doho Nomor 123, Kelurahan Winongo, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun.
Ribuan peserta kemudian berjalan melewati Jalan Pajajaran, Jalan Gajah Mada, Jalan Wirobumi, hingga Jalan Sarean. Rombongan selanjutnya singgah di Makam Ki Ngabehi Soerodiwirjo untuk memanjatkan doa bersama. Setelah itu, peserta kembali menuju Padepokan PSHW TM sebagai titik akhir kirab.
Panitia memperkirakan seluruh rangkaian prosesi selesai sekitar pukul 03.00 WIB.
Topo Bisu, Simbol Pengendalian Diri
Kirab Pusaka Tiga Zaman memiliki satu tradisi yang selalu menarik perhatian masyarakat, yakni topo bisu.
Selama perjalanan, seluruh peserta berjalan kaki tanpa berbicara. Mereka menjaga keheningan sejak meninggalkan padepokan hingga kembali ke titik awal.
Bagi PSHW TM, topo bisu bukan sekadar aturan dalam kirab. Tradisi ini mengajarkan setiap warga agar mampu mengendalikan diri, menahan emosi, dan memperkuat kesabaran. Keheningan juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang mewariskan ajaran Setia Hati.
Di tengah kehidupan yang semakin ramai dan penuh distraksi, topo bisu mengajak setiap peserta berhenti sejenak. Mereka merenungkan perjalanan hidup, memperkuat hubungan dengan Tuhan, dan menjaga nilai-nilai persaudaraan.
Menghormati Jejak Ki Ngabehi Soerodiwirjo
Di lokasi itu, warga PSHW TM memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Tradisi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa organisasi besar lahir dari perjuangan, keteladanan, dan nilai-nilai luhur yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pembuka Rangkaian Suran Agung 2026
Kirab Pusaka Tiga Zaman menjadi agenda pembuka dalam rangkaian Suran Agung PSHW TM 2026 yang berlangsung pada 24 hingga 28 Juni 2026.
Setelah kirab, panitia akan menggelar Kecer Al-Amin Tingkat II pada 25-26 Juni 2026 di Wisma Haji Kota Madiun.
Rangkaian Suran Agung kemudian berlanjut dengan ziarah ke Makam Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Tasyakuran Al-Amin pada 27 Juni 2026. Seluruh kegiatan akan mencapai puncaknya pada 28 Juni 2026 melalui acara inti Suran Agung di Lapangan Kelurahan Winongo.
Menjaga Warisan Persaudaraan
Bagi masyarakat, kirab mungkin hanya terlihat sebagai iring-iringan warga pencak silat yang berjalan pada malam hari. Namun, bagi keluarga besar PSHW TM, setiap langkah dalam Kirab Pusaka Tiga Zaman mengandung makna yang jauh lebih dalam.
Prosesi ini menghubungkan generasi tua dan generasi muda dalam satu ikatan persaudaraan. Mereka bersama-sama menjaga ajaran, melestarikan budaya pencak silat, dan merawat nilai budi pekerti yang menjadi fondasi organisasi.
Melalui langkah tanpa kata, PSHW TM kembali mengingatkan bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari suara yang paling keras. Sebaliknya, kekuatan sejati tumbuh dari hati yang mampu mengendalikan diri, menghormati sejarah, dan menjaga persaudaraan di setiap langkah. @dimas







