• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Life

Di Antara Sisa Doa Ayah, Mengapa Kalian Justru Menjadi Luka?

November 17, 2025
in Life
A A
Di Antara Sisa Doa Ayah, Mengapa Kalian Justru Menjadi Luka?

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – “Kalian bilang ingin menyatukan kami. Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara, satu suara kecil kalian bisikkan cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?”

Ada saat-saat tertentu dalam hidup
ketika sunyi menjadi lebih bising daripada teriakan.
Itulah yang kurasakan sejak Ayah pergi.
Ruang-ruang istana yang dulu dipenuhi suaranya
kini seperti hanya memantulkan gema perdebatan
yang tak pernah kami inginkan.

Aku, GKR Dewi Ratih Widyasari…
putri yang pernah ia peluk erat ketika dunia terasa terlalu keras
masih menyimpan setiap kata terakhirnya.
Amanat itu bukan beban,
tetapi cinta seorang ayah kepada anak-anaknya.
Cinta yang ingin kami jaga,
meskipun tangan sudah gemetar dan hati sudah penuh luka.

Namun betapa anehnya nasib:
yang kami jaga dengan air mata,
kalian sangkal dengan suara datar.
Yang kami jalankan dengan niat tulus,
kalian anggap sebagai pemberontakan.

Aku tak pernah mengerti…
mengapa setelah tubuh Ayah dingin,
kalian masih sanggup menolak kehormatan untuknya.
Mengapa peti jenazahnya pun
seakan harus “diperdebatkan”,
seolah beliau tidak lagi pantas disanjung
sebagai orang yang pernah kalian panggil saudara.

Tidak adakah sedikit saja kelembutan tersisa dalam hati kalian?
Satu serpih saja?

Kami bukan datang membawa pedang.
Kami datang membawa rindu yang patah,
dan keinginan sederhana untuk rukun.
Berpuluh kali kami mengetuk pintu,
berusaha merangkul,
mengajak duduk dalam satu meja
yang dulu kita bagi bersama sebagai keluarga.
Tapi setiap ketukan kami
kalian jawab dengan penolakan,
atau janji yang hanya mekar di bibir
dan layu saat hari berganti.

Kalian bilang ingin menyatukan kami.
Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara,
satu suara kecil kalian bisikkan
cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?
Untuk kepentingan apa?
Apakah persatuan kami
terlalu berbahaya bagi ambisi kalian?

Dua puluh satu tahun Ayah memimpin.
Dua puluh satu tahun penuh badai.
Kami melihat betapa lelahnya ia,
tetapi ia tetap tak pernah membenci kalian.
Di dalam hatinya, kalian tetap keluarga.
Namun nyatanya,
bahkan setelah beliau bisu dalam peti,
kalian masih menaruh jarak,
membiarkan hormat yang seharusnya menjadi haknya
menggantung di udara,
tanpa pernah benar-benar kalian berikan.

Dan ketika kalian berkata,
“semua sudah sesuai putusan hukum,”
kami hanya tertawa pahit.
Hukum yang mana?
Putusan yang mana?
Berapa kali kami mengajak membaca bersama,
berdiskusi dengan hati terbuka
dan kalian selalu menghindar.
Kebenaran bukan sesuatu yang menakutkan,
kecuali bagi mereka yang tahu
bahwa kebenaran itu akan mengupas topengnya sendiri.

RelatedPosts

Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

Sunyi Nyepi, Riuh Lebaran: Dua Jalan, Satu Makna tentang Manusia

Tuhan membuka mata kami perlahan.
Bahwa selama ini banyak hal yang kami anggap benar
hanyalah bayangan dari manipulasi.
Mengetahui itu sakit,
tapi setidaknya kini kami melihat dengan jelas:
kami harus menjaga warisan Ayah,
entah kalian berdiri bersama kami atau tidak.

Kami tidak akan memohon lagi.
Bukan karena kami membenci,
tetapi karena hati kami sudah terlalu lelah.
Pintu tetap terbuka
jika suatu hari kalian ingin duduk bersama
tanpa dendam, tanpa kepentingan.

Hanya satu yang kami ingin kalian pahami:

Adat bukan pangkat,
pangeran bukan gelar yang dilafalkan,
dan istana bukan panggung ambisi.

Adat adalah kehalusan budi.
Pangeran adalah ketulusan hati.
Istana adalah rumah doa dan kebaikan.

Kalau semua itu telah kalian tinggalkan,
maka yang tersisa hanyalah tembok batu
tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa makna.

Dan Ayah kami…
tak pantas dikenang dengan cara seperti itu.

(Kutipan Kisah GKR Dewi Ratih Widyasari Putri PB XIII). (sig)


Tags: GKR Dewi Ratih WidyasariKGPAA HamangkunagoroKGPH PurbayaKraton SurakartaPB XIIIPBXIVTahta Berganti
Next Post
Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.