Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Antara Sisa Doa Ayah, Mengapa Kalian Justru Menjadi Luka?

by Anisa
November 17, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – “Kalian bilang ingin menyatukan kami. Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara, satu suara kecil kalian bisikkan cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?”

Ada saat-saat tertentu dalam hidup
ketika sunyi menjadi lebih bising daripada teriakan.
Itulah yang kurasakan sejak Ayah pergi.
Ruang-ruang istana yang dulu dipenuhi suaranya
kini seperti hanya memantulkan gema perdebatan
yang tak pernah kami inginkan.

Aku, GKR Dewi Ratih Widyasari…
putri yang pernah ia peluk erat ketika dunia terasa terlalu keras
masih menyimpan setiap kata terakhirnya.
Amanat itu bukan beban,
tetapi cinta seorang ayah kepada anak-anaknya.
Cinta yang ingin kami jaga,
meskipun tangan sudah gemetar dan hati sudah penuh luka.

Namun betapa anehnya nasib:
yang kami jaga dengan air mata,
kalian sangkal dengan suara datar.
Yang kami jalankan dengan niat tulus,
kalian anggap sebagai pemberontakan.

Aku tak pernah mengerti…
mengapa setelah tubuh Ayah dingin,
kalian masih sanggup menolak kehormatan untuknya.
Mengapa peti jenazahnya pun
seakan harus “diperdebatkan”,
seolah beliau tidak lagi pantas disanjung
sebagai orang yang pernah kalian panggil saudara.

Ini Belum Selesai

Sandal Mulai “Membaca” Tubuh: Glucowrap dan Masa Depan Teknologi Kesehatan

Suplemen Otak Tak Bikin Pintar Instan

Tidak adakah sedikit saja kelembutan tersisa dalam hati kalian?
Satu serpih saja?

Kami bukan datang membawa pedang.
Kami datang membawa rindu yang patah,
dan keinginan sederhana untuk rukun.
Berpuluh kali kami mengetuk pintu,
berusaha merangkul,
mengajak duduk dalam satu meja
yang dulu kita bagi bersama sebagai keluarga.
Tapi setiap ketukan kami
kalian jawab dengan penolakan,
atau janji yang hanya mekar di bibir
dan layu saat hari berganti.

Kalian bilang ingin menyatukan kami.
Tapi saat kami berdiri kembali sebagai saudara,
satu suara kecil kalian bisikkan
cukup untuk memecah kami lagi.
Mengapa?
Untuk kepentingan apa?
Apakah persatuan kami
terlalu berbahaya bagi ambisi kalian?

Dua puluh satu tahun Ayah memimpin.
Dua puluh satu tahun penuh badai.
Kami melihat betapa lelahnya ia,
tetapi ia tetap tak pernah membenci kalian.
Di dalam hatinya, kalian tetap keluarga.
Namun nyatanya,
bahkan setelah beliau bisu dalam peti,
kalian masih menaruh jarak,
membiarkan hormat yang seharusnya menjadi haknya
menggantung di udara,
tanpa pernah benar-benar kalian berikan.

Dan ketika kalian berkata,
“semua sudah sesuai putusan hukum,”
kami hanya tertawa pahit.
Hukum yang mana?
Putusan yang mana?
Berapa kali kami mengajak membaca bersama,
berdiskusi dengan hati terbuka
dan kalian selalu menghindar.
Kebenaran bukan sesuatu yang menakutkan,
kecuali bagi mereka yang tahu
bahwa kebenaran itu akan mengupas topengnya sendiri.

Tuhan membuka mata kami perlahan.
Bahwa selama ini banyak hal yang kami anggap benar
hanyalah bayangan dari manipulasi.
Mengetahui itu sakit,
tapi setidaknya kini kami melihat dengan jelas:
kami harus menjaga warisan Ayah,
entah kalian berdiri bersama kami atau tidak.

Kami tidak akan memohon lagi.
Bukan karena kami membenci,
tetapi karena hati kami sudah terlalu lelah.
Pintu tetap terbuka
jika suatu hari kalian ingin duduk bersama
tanpa dendam, tanpa kepentingan.

Hanya satu yang kami ingin kalian pahami:

Adat bukan pangkat,
pangeran bukan gelar yang dilafalkan,
dan istana bukan panggung ambisi.

Adat adalah kehalusan budi.
Pangeran adalah ketulusan hati.
Istana adalah rumah doa dan kebaikan.

Kalau semua itu telah kalian tinggalkan,
maka yang tersisa hanyalah tembok batu
tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa makna.

Dan Ayah kami…
tak pantas dikenang dengan cara seperti itu.

(Kutipan Kisah GKR Dewi Ratih Widyasari Putri PB XIII). (sig)


Tags: KGPAA HamangkunagoroKGPH PurbayaKraton SurakartaPB XIII

Kamu Melewatkan Ini

Nyai Setomi Tak Lagi Bertempur, Tapi Sejarahnya Masih Hidup

Nyai Setomi Tak Lagi Bertempur, Tapi Sejarahnya Masih Hidup

by eko
Agustus 23, 2026

Nyai Setomi tak lagi berfungsi sebagai meriam perang. Jamasan di Kraton Solo menunjukkan perubahan maknanya menjadi pusaka dan penjaga ingatan...

Kraton Solo Gelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi Jelang Garebeg Mulud

Kraton Solo Gelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi Jelang Garebeg Mulud

by eko
Agustus 23, 2026

Kraton Solo menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi di Sitinggil Lor sebagai bagian dari rangkaian persiapan Hajad Dalem Garebeg Mulud 2026....

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

by eko
Agustus 22, 2026

Tradisi tidak cukup hanya dikenang. Regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dan selalu memiliki generasi yang siap menjaganya. Tabooo.id...

Next Post
Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Jangan Cuci Beras di Panci Rice Cooker: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Bikin Hidupmu Ribet

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id