Panembahan Ronggo Jumeno menjadi tokoh penting dalam sejarah Purabaya. Simak jejak konflik dengan Mataram yang membentuk identitas awal Madiun.
Tabooo.id – Madiun tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendekar. Daerah ini juga menyimpan jejak sejarah yang membentuk watak masyarakatnya. Salah satu kisah yang terus hidup berasal dari Purabaya, nama lama wilayah yang kini menjadi Madiun. Di balik nama itu berdiri sosok Panembahan Ronggo Jumeno, atau yang juga dikenal sebagai Pangeran Timur dan Pangeran Alit.
Namanya terus muncul dalam tradisi lisan, naskah babad, hingga pertunjukan budaya. Kisahnya bukan sekadar cerita masa lalu. Sosok itu melambangkan keberanian, harga diri, dan tekad mempertahankan kehormatan.
Namun, sejarah Purabaya tidak hanya berbicara tentang seorang pemimpin. Sejarah itu juga memperlihatkan benturan dua kekuatan besar yang membentuk arah Pulau Jawa.
Putra Bungsu Demak yang Memimpin Brang Wetan
Panembahan Ronggo Jumeno diyakini sebagai putra bungsu Sultan Trenggono, Sultan Demak ketiga sekaligus cucu Raden Patah. Karena menjadi anak paling muda, masyarakat mengenalnya dengan gelar Panembahan Timur.
Pada 18 Juli 1568, atau bertepatan dengan 15 Suro 1487 Jawa, ia menerima amanah memimpin wilayah Wana Asri. Daerah itu kemudian berkembang menjadi Purabaya. Tradisi menyebut Sunan Bonang memberikan restu atas pengangkatannya sebagai pemimpin wilayah tersebut.
Purabaya bukan wilayah kecil. Daerah ini menjadi pusat kekuasaan Demak di kawasan timur Jawa. Kekuasaannya mencakup Surabaya, Gresik, Pasuruan, Ngawi, Nganjuk, Brebeg, hingga Ponorogo. Sementara itu, pusat pemerintahannya dipercaya berada di kawasan Sogaten.
Lahirnya Ambisi Besar Mataram
Pada saat yang hampir bersamaan, kekuatan baru tumbuh di pedalaman Jawa.
Awalnya, Ki Ageng Pemanahan menerima Alas Mentaok sebagai tanah perdikan dari Kesultanan Pajang. Setelah beliau wafat, putranya, Danang Sutawijaya, melanjutkan kepemimpinan.
Danang Sutawijaya kemudian membangun Mataram menjadi kerajaan baru. Setelah berhasil mengakhiri kekuasaan Pajang, ia menobatkan dirinya sebagai Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Gelar itu bukan sekadar simbol. Gelar tersebut menunjukkan perannya sebagai pemimpin perang sekaligus pemimpin agama. Dari sinilah Mataram mulai memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah di Jawa.
Ketika Dua Pandangan Bertemu
Perbedaan kepentingan akhirnya memunculkan konflik.
Panembahan Senopati ingin menyatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Sebaliknya, Panembahan Ronggo Jumeno tetap menganggap Purabaya sebagai bagian dari warisan Kesultanan Demak.
Perbedaan itu melahirkan ketegangan politik. Tradisi lokal menyebut Mataram dua kali menyerang Purabaya pada sekitar 1586-1587.
Namun, Purabaya memilih bertahan. Wilayah itu tidak mengakui kekuasaan Mataram. Purabaya tetap memegang hubungan historis dengan Demak meski kerajaan tersebut telah runtuh.
Konflik inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah awal Madiun.
Purabaya Adalah Sebuah Karakter
Nama Purabaya tidak hanya menunjuk sebuah wilayah.
Dalam pemahaman budaya Jawa, Purabaya berarti kesatria. Makna itu melekat pada sosok pemimpinnya. Karena itu, nama wilayah tersebut juga menjadi simbol karakter masyarakatnya.
Filosofi itu hidup dalam ungkapan Jawa,
“Satria sing jejeg ngadhepi bebaya, tan kengguh salwireng kewuh kanthi. Tata, tatag, tutug.”
Ungkapan tersebut menggambarkan seorang kesatria yang berdiri teguh menghadapi bahaya. Ia tidak mudah goyah. Ia juga menuntaskan setiap tanggung jawab dengan penuh keberanian.
Karakter itulah yang kemudian melekat pada identitas Purabaya.
Warisan Nilai yang Terus Hidup
Nilai-nilai tersebut tidak berhenti dalam catatan sejarah.
Sebagian pegiat budaya meyakini semangat itu menginspirasi ajaran Setia Hati di Madiun.
Ungkapan “Ngalah, Ngalih, Ngamuk” mengajarkan seseorang untuk mengalah lebih dahulu. Jika konflik tetap muncul, ia menghindar. Namun, ketika kebenaran harus ditegakkan, ia berani berdiri melawan.
Di lingkungan PSHWTM, ajaran tersebut berkembang menjadi “Ngalah, Ngalih, Ngabekti.”
Perubahan itu menunjukkan bahwa keberanian selalu berjalan bersama kebijaksanaan. Nilai itulah yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sejarah yang Hidup di Atas Panggung
Semangat Purabaya kini kembali hadir melalui seni.
Pertunjukan itu tidak hanya menyajikan adegan pertempuran. Garapan tersebut juga mengajak masyarakat memahami asal-usul Purabaya sekaligus membaca kembali sejarah Madiun melalui pendekatan budaya.
Meski demikian, sebagian kisah tentang kedua tokoh masih menjadi ruang diskusi di kalangan sejarawan. Banyak informasi berasal dari babad, tradisi lisan, dan penafsiran budaya. Karena itu, masyarakat perlu memandang kisah tersebut sebagai bagian dari khazanah sejarah yang terus berkembang.
Purabaya akhirnya menjadi lebih dari sekadar nama lama sebuah daerah. Nama itu berubah menjadi simbol keberanian, keteguhan, dan harga diri.
Sejarah memang tidak selalu mencatat siapa yang paling kuat. Namun, sejarah selalu mengingat siapa yang tetap berdiri ketika badai datang. @dimas







