Sabtu, Juni 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masih Percayakah Publik pada Janji Politik?

by dimas
Juni 20, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Kepercayaan publik terhadap janji politik kembali diuji. Usai dialog DPR dan mahasiswa, masyarakat menunggu bukti nyata, bukan sekadar komitmen.

Tabooo.id – Malam itu, suara orasi masih bergema di depan Gedung DPR RI. Ratusan mahasiswa berdiri di bawah lampu jalan sambil menunggu jawaban dari para wakil rakyat. Di atas mobil komando, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan pesan yang terdengar meyakinkan DPR sudah meneruskan seluruh aspirasi mahasiswa kepada kementerian dan lembaga terkait.

Namun, respons yang muncul justru menunjukkan persoalan yang lebih dalam.

Sebagian mahasiswa mendengarkan. Sebagian lainnya langsung berseru, “Mana buktinya?”

Kalimat singkat itu mungkin menjadi gambaran paling jujur tentang kondisi politik Indonesia saat ini. Persoalannya bukan lagi apakah pejabat mau mendengar. Persoalannya adalah apakah publik masih percaya pada janji yang mereka dengar.

Ketika Janji Tidak Lagi Cukup

Dalam dialog bersama mahasiswa, Dasco menjelaskan bahwa DPR telah berkomunikasi dengan sejumlah pejabat pemerintah. Ia menyebut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang, dan beberapa lembaga lain yang terkait dengan tuntutan mahasiswa.

Ini Belum Selesai

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

Hijrah Bangsa: Ketika Kritik Menuntun Keadilan

Menurut Dasco, DPR meminta setiap instansi memberikan perhatian dan tindak lanjut sesuai kewenangannya.

Namun, mahasiswa tidak datang hanya untuk mendengar komitmen baru. Mereka datang karena melihat persoalan yang terus muncul di tengah masyarakat.

Harga kebutuhan pokok meningkat. Harga BBM terus menjadi beban. Selain itu, berbagai program pemerintah menghabiskan anggaran besar dan memicu pertanyaan publik tentang efektivitas serta transparansinya.

Karena itu, mahasiswa tidak sekadar meminta penjelasan. Mereka menuntut hasil yang nyata.

Di sinilah letak persoalannya. Publik kini tidak lagi menilai politik dari apa yang diucapkan. Sebaliknya, publik menilai politik dari apa yang benar-benar dikerjakan.

Kepercayaan yang Terus Tergerus

Kepercayaan publik tidak hilang dalam satu malam. Sebaliknya, kepercayaan menurun sedikit demi sedikit ketika janji politik berulang kali gagal menjelma menjadi kebijakan yang dirasakan masyarakat.

Dulu, satu pernyataan pejabat sering kali cukup untuk meredakan ketegangan. Kini situasinya berbeda.

Masyarakat hidup di era digital. Mereka bisa menyimpan, membandingkan, dan mengingat kembali setiap janji yang pernah diucapkan pejabat publik. Karena itu, ruang untuk sekadar berbicara tanpa hasil semakin sempit.

Akibatnya, setiap janji baru langsung berhadapan dengan rekam jejak lama.

Semakin besar jarak antara ucapan dan tindakan, semakin besar pula keraguan publik. Sebaliknya, semakin cepat pemerintah menunjukkan hasil, semakin mudah kepercayaan tumbuh kembali.

Mahasiswa Membawa Suara yang Lebih Luas

Aksi di depan DPR sebenarnya tidak hanya mewakili kepentingan kampus. Mahasiswa membawa isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Mereka menyoroti harga pangan, harga BBM, penggunaan APBN, program Makan Bergizi Gratis, hingga Koperasi Desa Merah Putih.

Selain itu, mereka meminta pemerintah membuka ruang transparansi yang lebih besar. Mereka juga mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan uang negara.

Karena itu, tuntutan mereka tidak sekadar berbicara tentang kebijakan. Mereka berbicara tentang kepercayaan.

Ketika masyarakat merasa tidak mendapatkan informasi yang jelas, kecurigaan tumbuh. Sebaliknya, ketika pemerintah menunjukkan keterbukaan dan hasil yang terukur, kepercayaan memiliki ruang untuk kembali hidup.

DPR Menghadapi Ujian Besar

Di tengah situasi tersebut, DPR menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPR harus membuktikan bahwa dialog dengan mahasiswa bukan sekadar agenda seremonial. DPR perlu menunjukkan bahwa setiap aspirasi benar-benar bergerak menuju solusi.

Karena itu, tindak lanjut menjadi kata kunci.

Jika DPR mampu mengawal tuntutan mahasiswa hingga menghasilkan perubahan yang nyata, publik akan melihat fungsi pengawasan parlemen bekerja. Namun, jika proses itu berhenti pada rapat dan konferensi pers, skeptisisme akan semakin menguat.

Dengan kata lain, DPR tidak hanya mempertaruhkan citra lembaga. DPR juga mempertaruhkan kepercayaan publik yang selama ini terus mengalami tekanan.

Bukan Lagi Soal Mendengar, Tetapi Menepati

Aksi mahasiswa pada Jumat malam mungkin akan berakhir. Massa akan pulang. Spanduk akan dilipat. Jalanan kembali normal.

Namun, pertanyaan yang mereka tinggalkan tidak akan hilang begitu saja.

Publik tidak lagi meminta pemimpin untuk sekadar mendengar suara rakyat. Publik meminta para pemimpin membuktikan bahwa suara itu benar-benar menghasilkan perubahan.

Karena pada akhirnya, demokrasi tidak berdiri di atas pidato. Demokrasi berdiri di atas kepercayaan.

Dan kepercayaan hanya lahir ketika tindakan mengikuti ucapan.

Itulah sebabnya pertanyaan terbesar hari ini bukan apakah DPR sudah menerima aspirasi mahasiswa. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah janji politik kali ini akan benar-benar ditepati? @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Mahasiswa Kepung DPR/MPR RI, Tritura 2026 Kembali Menggema dari Senayan

Mahasiswa Kepung DPR/MPR RI, Tritura 2026 Kembali Menggema dari Senayan

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa memadati Kepung Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka datang dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa...

Mahasiswa Tagih Janji DPR: Bicara Mudah, Buktinya Mana?

Mahasiswa Tagih Janji DPR: Bicara Mudah, Buktinya Mana?

by dimas
Juni 19, 2026

Mahasiswa menagih janji DPR usai dialog di Senayan. Dari harga BBM hingga ruang sipil, mereka menuntut bukti nyata, bukan sekadar...

Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

by dimas
Juni 19, 2026

Roy Suryo dan dr Tifa ditahan Polda Metro Jaya setelah berkas perkara kasus dugaan pencemaran nama baik terkait isu ijazah...

Next Post
Mahasiswa Kepung DPR/MPR RI, Tritura 2026 Kembali Menggema dari Senayan

Mahasiswa Kepung DPR/MPR RI, Tritura 2026 Kembali Menggema dari Senayan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id