Dualisme Keraton Surakarta kembali terlihat pada Malam 1 Suro 2026. Dua takhta, dua prosesi, dan satu pertanyaan: ke mana arah masa depan Keraton?
Tabooo.id – Ini bukan sekadar kirab pusaka yang batal. Ini tentang sebuah kerajaan yang berusaha menjaga wibawa di tengah luka yang belum sembuh.
Malam turun perlahan di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (16/6/2026). Ribuan pasang mata menunggu ritual yang selama puluhan tahun menjadi denyut spiritual Kota Solo Kirab Pusaka Malam 1 Suro.
Tahun ini, suasananya berubah.
Di Sasana Sewaka, dua sosok yang sama-sama menyandang gelar Pakoe boewono XIV hadir dalam satu ruang. Mereka tidak saling berhadapan. Mereka juga tidak duduk berdampingan.
Pakoe boewono XIV Hangabehi menghadap ke timur. Di sisi lain, Pakoe boewono XIV Purbaya menghadap ke barat. Jarak fisik mereka hanya beberapa meter, tetapi jarak simbolik yang muncul terasa jauh lebih panjang.
Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai pengaturan tempat duduk biasa.
Namun bagi Keraton, posisi itu memantulkan kenyataan yang sulit disembunyikan. Dualisme yang selama ini membayangi Keraton masih belum menemukan jalan keluar.
Ketika Tradisi Berjalan di Tengah Persimpangan
Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Masyarakat Jawa memaknainya sebagai ruang perenungan. Pada malam itu, doa, tirakat, dan penghormatan kepada leluhur bertemu dalam satu rangkaian ritual.
Karena itu, kirab pusaka selalu menjadi simbol perjalanan spiritual sekaligus lambang persatuan Keraton.
Ironisnya, pada malam yang seharusnya menyatukan itu, publik justru menyaksikan dua rangkaian acara berjalan hampir bersamaan.
Masing-masing kubu bahkan mengarahkan peserta ke titik kumpul berbeda. Kubu Pakoe boewono XIV Purbaya berkumpul di Kori Talangpaten. Sementara kubu Pakoe boewono XIV Hangabehi mengumpulkan peserta di Kori Kamandungan.
Perbedaan itu melampaui urusan teknis.
Ketika Pusaka Tetap Berada di Tempatnya
Ketegangan semakin terasa ketika kubu Pakoe boewono XIV Purbaya mengambil keputusan mendadak.
Mereka memutuskan tidak mengeluarkan pusaka dalam kirab malam itu.
Panitia menarik kembali oncor yang telah disiapkan. Mereka juga menghentikan berbagai persiapan kirab yang sebelumnya sudah berjalan. Ndalem Ageng tetap tertutup sepanjang malam.
Pihak Keraton menjelaskan bahwa keputusan tersebut bertujuan mengutamakan keselamatan pusaka.
Di atas kertas, alasan itu terdengar masuk akal.
Namun situasi dualisme yang belum selesai memunculkan banyak tafsir.
Sebagian pihak menilai langkah itu sebagai bentuk kehati-hatian. Sebagian lainnya melihat pesan politik yang terselip dalam bahasa budaya.
Keraton memang memiliki cara khas untuk berbicara kepada publik. Tidak selalu melalui konferensi pers atau pernyataan resmi. Kadang sebuah simbol menyampaikan pesan lebih kuat daripada seribu kata.
Malam itu, pusaka yang tetap berada di ruang penyimpanannya justru menjadi simbol paling keras yang muncul.
Menjaga Wajah Jawa di Mata Publik
Di tengah situasi tersebut, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat Keraton, KPH Eddy Wirabhumi, mengajak seluruh pihak menahan diri.
Ia menegaskan pentingnya menjaga harkat martabat Keraton, budaya Jawa, dan nama Indonesia.
Pernyataan itu menunjukkan kesadaran bahwa Malam 1 Suro tidak lagi menjadi urusan internal Keraton semata. Publik kini membaca setiap langkah, setiap keputusan, bahkan setiap gestur sebagai pesan budaya sekaligus politik.
Keraton Surakarta bukan hanya bangunan bersejarah.
Lembaga itu hidup sebagai simbol kebudayaan Jawa yang terus berinteraksi dengan masyarakat modern.
Karena itulah setiap retakan di dalamnya selalu menarik perhatian publik.
Ini Bukan Sekadar Konflik Keraton
Banyak orang melihat peristiwa ini sebagai konflik keluarga kerajaan.
Padahal persoalannya jauh lebih besar.
Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang berhak menduduki takhta.
Yang sedang diuji adalah kemampuan sebuah institusi budaya mempertahankan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Selama berabad-abad, Keraton bertahan karena satu modal utama legitimasi moral.
Keraton tidak mengandalkan kekuatan militer. Keraton juga tidak bertumpu pada kekuasaan politik.
Kepercayaan masyarakatlah yang menjaga wibawanya tetap hidup.
Ketika dualisme berlangsung terlalu lama, ancamannya tidak hanya menyasar struktur internal Keraton. Situasi itu juga menggerus kepercayaan publik terhadap simbol budaya yang selama ini dihormati.
Karena itulah Malam 1 Suro tahun ini terasa berbeda.
Kirab tetap berlangsung.
Doa tetap mengalun.
Tirakat tetap berjalan.
Namun publik melihat sesuatu yang lebih besar daripada prosesi itu sendiri.
Mereka menyaksikan sebuah warisan budaya berjuang mempertahankan kewibawaannya di tengah tarik-menarik legitimasi.
Saat Tradisi Menjadi Cermin
Malam 1 Suro selalu mengajarkan pentingnya perenungan.
Tradisi itu mengajak setiap orang menoleh ke dalam diri sebelum melangkah ke tahun yang baru.
Pelajaran tersebut tampaknya juga relevan bagi Keraton.
Pada akhirnya, pusaka paling berharga bukanlah tombak, keris, atau benda sakral yang mengelilingi benteng dalam kirab tahunan.
Kepercayaan publiklah pusaka yang sesungguhnya.
Keraton hanya bisa menjaga kepercayaan itu jika semua pihak memilih merawatnya bersama.
Jika tidak, kirab akan terus berjalan dari tahun ke tahun.
Namun makna yang menyertainya bisa perlahan tertinggal di belakang. @dimas







