Rabu, Juni 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

by dimas
Juni 17, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on FacebookShare on Twitter
Kubu PB XIV Hangabehi menggelar kirab Malam 1 Suro dengan 14 pusaka keraton. Tradisi sakral ini berlangsung di tengah masih berlangsungnya dualisme Keraton Solo.

Tabooo.id: Surakarta – Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 00.00 WIB, tiga ekor kebo bule keturunan Kyai Slamet melangkah keluar dari Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta. Langkah mereka pelan, nyaris tanpa suara. Namun di belakang iring-iringan sakral itu, tersimpan cerita yang jauh lebih riuh daripada bunyi gamelan atau doa-doa malam Suro.

Malam itu, bukan hanya pusaka yang keluar dari keraton. Konflik lama tentang legitimasi dan kepemimpinan juga kembali terlihat di hadapan publik.

Kirab Malam 1 Suro tahun ini berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Dua kubu di Keraton Solo menggelar kirab pada waktu yang hampir bersamaan. Di satu sisi, kubu PB XIV Mangkubumi mengeluarkan tiga kebo bule dan 14 pusaka keraton. Di sisi lain, kubu PB XIV Purbaya menjalankan agenda sendiri.

Bagi ribuan warga yang memadati kawasan keraton hingga sepanjang rute kirab, malam itu tetap terasa sakral. Namun bagi mereka yang mengikuti dinamika internal Keraton Solo, kirab tahun ini menjadi simbol bahwa perpecahan belum benar-benar berakhir.

Empat Belas Pusaka dan Sebuah Pesan Kekuasaan

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan memastikan kirab berlangsung lancar sebagaimana tradisi yang telah dijalankan setiap tahun.

Ini Belum Selesai

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

Kirab Pusaka 1 Sura Kembali Digelar, Ini Jam Mulai dan Rute Perjalanannya

“Baik. Kita doakan semua sesuai dengan rencana,” ujarnya kepada awak media, Selasa (16/6/2026).

Tedjowulan menyebut ada 14 pusaka yang dikeluarkan dalam kirab tersebut. Jumlah itu bukan sekadar angka. Dalam tradisi keraton, pusaka merupakan simbol legitimasi, sejarah, dan keberlanjutan kekuasaan.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, menegaskan seluruh pusaka yang diarak berasal dari dawuh PB XIV Mangkubumi.

Menurut Eddy, kubu PB XIV Purbaya memilih tidak mengeluarkan pusaka dalam kirab tahun ini. Karena itu, seluruh simbol sakral yang menyertai prosesi berasal dari pihak Mangkubumi.

“Kita yang mengeluarkan. Walaupun kita tadinya juga siap kalau mau sama-sama ya monggo,” kata Eddy.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan penting. Dalam tradisi Jawa, siapa yang mengeluarkan pusaka sering kali dipandang memiliki otoritas simbolik atas ritual yang dijalankan.

Kirab yang Sakral, Konflik yang Belum Selesai

Di sepanjang rute kirab, masyarakat tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak warga rela menunggu sejak malam untuk menyaksikan kebo bule melintas. Sebagian membawa anak-anak mereka. Sebagian lagi datang dengan harapan mendapatkan berkah tahun baru Jawa.

Tradisi tetap berjalan.

Namun suasana sakral itu tidak bisa sepenuhnya menutupi fakta bahwa Keraton Solo masih hidup dalam dualisme.

Konflik yang berlangsung bertahun-tahun membuat satu tradisi besar kini berjalan dalam dua arah berbeda. Ironisnya, kedua pihak sama-sama mengklaim menjaga marwah keraton dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Malam 1 Suro yang semestinya menjadi momentum penyatuan spiritual justru kembali memperlihatkan batas-batas yang belum mampu dilebur.

Ini Bukan Sekadar Kirab

Kirab 1 Suro selalu dipahami sebagai ritual budaya. Namun tahun ini, maknanya melampaui prosesi adat.

Ini bukan sekadar tiga kebo bule yang berjalan mengelilingi kota.

Ini bukan sekadar 14 pusaka yang keluar dari dalam keraton.

Ini adalah cermin tentang bagaimana sebuah institusi budaya besar berusaha menjaga tradisi di tengah tarik-menarik legitimasi yang belum menemukan titik temu.

Publik mungkin datang untuk melihat kebo bule. Tetapi yang mereka saksikan sesungguhnya adalah sebuah kerajaan budaya yang masih mencari jalan pulang menuju kesatuan.

Dan selama dua kirab masih berjalan dalam satu malam yang sama, pertanyaan itu akan terus menggema di balik tembok Keraton Surakarta: siapa yang memegang pusaka, dan siapa yang memegang masa depan keraton? @dimas

Tags: Budaya JawaDualisme KeratonKeraton SurakartaKirab PusakaMalam 1 Suro

Kamu Melewatkan Ini

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

by dimas
Juni 17, 2026

Pakoe Boewono XIV Purbaya memutuskan tidak menggelar kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Solo. Keputusan itu memperlihatkan dinamika dualisme...

Kirab Pusaka 1 Sura Kembali Digelar, Ini Jam Mulai dan Rute Perjalanannya

Kirab Pusaka 1 Sura Kembali Digelar, Ini Jam Mulai dan Rute Perjalanannya

by dimas
Juni 16, 2026

Kirab Pusaka 1 Sura Karaton Surakarta kembali digelar malam ini. Simak jam mulai, rute perjalanan, dan informasi penting bagi pengunjung...

Rapat Selesai, Dualisme Belum Usai: Kirab Pusaka Dibayangi Dua Takhta

Rapat Selesai, Dualisme Belum Usai: Kirab Pusaka Dibayangi Dua Takhta

by dimas
Juni 16, 2026

Rapat dua kubu Keraton Surakarta berakhir, tetapi dualisme kepemimpinan belum usai. Kirab Pusaka Malam 1 Suro tetap digelar di bawah...

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id