Maksud hati memenuhi gizi rakyat, ternyata malah memberi gizi buat koruptor. Satu program dirancang untuk memperbaiki nutrisi anak-anak, ternyata sebagian orang tampaknya melihat MBG sebagai suplemen bagi nafsu yang tidak pernah kenyang.
Anak-anak mendapat jatah nasi, telur, ayam, dan sayur. Sementara itu, beberapa orang tampaknya menemukan menu yang jauh lebih mengenyangkan, yaitu proyek, pengadaan, yayasan, dan aliran insentif.
Kalau dipikir-pikir, Indonesia memang kreatif.
Di negara lain, orang korup biasanya bermain di proyek jalan, jembatan, atau gedung. Di sini, bahkan program makan anak sekolah pun bisa berubah menjadi peluang usaha.
Ada Orang yang Selalu Lapar
Program sosial punya satu masalah klasik. Ia selalu menarik dua kelompok sekaligus. Kelompok pertama adalah orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Sedangkan, kelompok kedua adalah orang yang melihat bantuan itu sebagai peluang.
Sederhananya, satu orang datang dengan perut lapar. Satu orang lagi datang membawa proposal. Yang satu berharap bisa makan. Yang lain berharap dapat bagian. Anehnya, kelompok kedua sering lebih cepat menemukan jalannya.
Mungkin karena mereka tidak perlu antre di ruang kelas. Tapi, cukup masuk lewat ruang rapat.
Makanan Bergizi Beraroma Proyek
Secara teori, program MBG terdengar mulia. Negara menyediakan makanan untuk anak-anak, agar mendapatkan gizi. Sehingga, terjadi penurunan angka Stunting. Masa depan pun membaik.
Sulit menemukan orang yang menolak gagasan itu.
Masalahnya, Indonesia punya kemampuan langka. Kita sering gagal merusak ide, tapi sangat berbakat merusak pelaksanaannya.
Begitu anggaran besar turun, meja mulai ramai. Ada yang menghitung kebutuhan, membaca peluang. Ada yang memikirkan kualitas makanan, tapi ada juga yang memikirkan kualitas keuntungan.
Dan seperti biasa, kelompok terakhir sering bekerja paling cepat.
Proyek Lebih Menggiurkan
Korupsi sering digambarkan seperti pencurian uang. Padahal bentuknya jauh lebih elegan.
Korupsi sering memakai istilah yang terdengar profesional. Mulanya ada pengadaan, lalu verifikasi, kemitraan, optimalisasi, penyesuaian, sampai koordinasi. Di telinga publik, semua terdengar sopan. Namun di balik kata-kata rapi itu, uang bisa bergerak ke arah yang tidak pernah ada penjelasan secara jujur.
Sampai suatu hari publik sadar bahwa uang yang seharusnya mengalir ke anak-anak ternyata lebih dulu mampir ke banyak tempat.
Korupsi modern jarang memakai topeng penjahat. Ia memakai seragam pejabat yang datang rapat membawa presentasi, sambil tersenyum.
Ketika Tabel Nutrisi Bertemu Tabel Anggaran
Ada ironi yang sulit diabaikan.
Di satu sisi, Negara menghitung kebutuhan anak sampai detail. Protein diukur, karbohidrat dihitung, zat besi diperhatikan, standar gizi disusun. Di atas kertas, semuanya terdengar ilmiah dan rapi.
Sementara di sisi lain, ada orang yang tampaknya menghitung hal berbeda. Nilai proyek dibaca sebagai peluang, insentif dilirik sebagai jatah, dan celah kecil dicari agar semuanya bisa lewat tanpa terlalu banyak pertanyaan.
Kedua kelompok sama-sama menghitung. Hanya objek hitungannya yang berbeda.
Korupsi? Sudah Biasa
Korupsi memang membuat marah. Tapi bagian paling menyedihkan bukan itu, melainkan betapa cepat publik mulai menganggapnya biasa.
Begitu kasus muncul, orang mengeluh. Lalu tertawa pahit, sambil berkata, “ya beginilah Indonesia.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Padahal di situlah bencananya.
Saat masyarakat mulai menganggap korupsi sebagai hal yang biasa, kebusukan ini tidak perlu lagi terlalu sembunyi-sembunyi. Toh, sudah biasa.
Para koruptor tetap bisa tersenyum ketika tertangkap. Aneh.
Gizi untuk Siapa?
Program ini lahir untuk memperbaiki gizi rakyat, untuk memenuhi gizi anak.
Pertanyaannya jadi sederhana. Jika anak-anak masih keracunan, ekonomi lokal tidak ikut tumbuh, pengadaan bermasalah, titik layanan bisa diperdagangkan, dan yayasan berubah menjadi arena permainan, lalu siapa sebenarnya yang paling menikmati program ini?
Anak-anak mungkin mendapat satu kotak makan. Sebagian orang tampaknya menemukan prasmanan.
Kepercayaan, Menu Terakhir yang Segera Habis
Rakyat tidak pernah meminta program yang sempurna. Mereka hanya berharap uang publik benar-benar sampai ke tujuan.
Karena ketika program makan anak-anak saja bisa berubah menjadi ladang korupsi, publik mulai sulit percaya bahwa masih ada tempat yang aman dari nafsu makan “orang dewasa”oknum” pejabat.
Mungkin, menu paling mahal dalam kasus ini bukan nasi, ayam, atau telur. Yang paling mahal justru kepercayaan publik yang perlahan habis. @tabooo






