Malam merayap pelan di Kota Mojokerto. Lampu rumah mulai padam satu demi satu. Sebagian warga bersiap memeluk istirahat setelah seharian bekerja. Di Jalan Raya Ijen seorang lelaki 71 tahun masih sibuk berjualan ditengah lalu lintas yang sebelumnya ramai perlahan kehilangan suaranya.
Tabooo.id – Namun di depan RS Emma, kehidupan justru memasuki babak berikutnya. Di bawah cahaya lampu jalan yang pucat, seorang lelaki 71 tahun berdiri di balik gerobak sederhana. Tangannya mengulek bumbu kacang dengan gerakan yang sudah sangat akrab dengan pekerjaan itu. Keriput di wajahnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada usia gerobak yang menemaninya. Namanya Pak Hariono.
Ketika banyak lelaki 71 tahun susianya berharap menikmati masa tua dengan tenang, ia masih mencari nafkah hingga menjelang Subuh. Dan itulah ironi yang jarang dibicarakan.
Lima Dekade Melawan Waktu Seorang Lelaki 71 tahun
Pak Hariono memulai perjalanan hidupnya sebagai penjual tahu lontong pada tahun 1971. Saat itu, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk menawarkan dagangannya.
Lima belas tahun kemudian, tepatnya pada 1986, ia memilih menetap di depan RS Emma. Sejak saat itu, lokasi tersebut menjadi bagian dari hidupnya.
Setiap hari, ia membuka lapak sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah melayani pembeli sepanjang malam, ia baru pulang ketika azan Subuh mulai terdengar sekitar pukul 04.00 WIB.
Rutinitas itu berlangsung selama puluhan tahun. Pergantian zaman tidak mengubah kebiasaan tersebut.
Kota berkembang, Teknologi berubah, Generasi berganti. Sementara itu, Pak Hariono tetap menjalankan pekerjaannya dengan ritme yang hampir sama.
Harga Sebuah Tanggung Jawab
Perjalanan dari rumahnya di Kecamatan Dawar Blandong menuju Kota Mojokerto kini terasa lebih berat dibanding puluhan tahun lalu.
Usia membuat tenaganya berkurang. Karena itu, ia menyewa sepeda motor matic seharga Rp20 ribu setiap hari agar tetap bisa berjualan.
Ia juga menitipkan gerobaknya di rumah warga sekitar dan membayar biaya Rp100 ribu setiap bulan.
Belum selesai sampai di sana Pak Hariono seorang lelaki 71 tahun masih harus membeli bahan baku setiap hari dan Ia juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di saat yang sama, biaya pengobatan sang istri yang sakit tetap berjalan. Sementara itu, satu porsi tahu lontong yang ia jual hanya seharga Rp12 ribu.
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin tampak kecil.
Namun bagi Pak Hariono, setiap porsi berarti kesempatan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.
“Saya masih harus bekerja. Selama masih kuat, ya dijalani,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, realitas yang tersembunyi di baliknya jauh lebih berat.
Ketika Hari Tua Belum Menjadi Hak
Kisah lelaki 71 tahun yang bernama Pak Hariono ini tidak berdiri sendiri.
Banyak lansia Indonesia masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian memang ingin tetap aktif. Namun sebagian lainnya tidak memiliki pilihan ekonomi yang cukup untuk berhenti bekerja.
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dalam berbagai kajiannya tentang kemiskinan dan kelompok rentan, berulang kali menjelaskan bahwa banyak lansia bekerja karena kebutuhan hidup memaksa mereka bertahan.
Menurutnya, pekerjaan pada usia lanjut sering menjadi strategi bertahan hidup ketika dukungan ekonomi keluarga maupun perlindungan sosial belum memadai.
Pandangan serupa juga pernah disampaikan sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo.
Ia menilai kualitas kesejahteraan sebuah bangsa dapat terlihat dari cara masyarakat memperlakukan kelompok rentan, termasuk lansia.
Ketika seseorang tetap harus bekerja keras pada usia senja demi memenuhi kebutuhan dasar, persoalannya tidak lagi sekadar urusan individu.
Situasi tersebut menunjukkan adanya tantangan sosial yang lebih besar.
Kota yang Berlari, Tradisi yang Bertahan
Mojokerto terus tumbuh, Pusat perdagangan berkembang, Kafe baru bermunculan. Layanan digital mengubah cara masyarakat membeli makanan. Aplikasi pesan antar bahkan membuat banyak transaksi berlangsung tanpa tatap muka.
Namun suasana berbeda hadir di depan RS Emma. Pak Hariono masih mengulek bumbu secara manual. Ia tetap menyapa pelanggan secara langsung.
Hubungan sederhana antara penjual dan pembeli masih menjadi bagian penting dari usahanya.
Modernisasi datang dengan berbagai kemudahan. Meski begitu, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati perubahan tersebut.
Di sudut kota itu, Pak Hariono terus bertahan dengan cara yang telah ia kenal selama puluhan tahun.
Wajah yang Sering Hilang dari Narasi Pembangunan
Budayawan dan pemerhati sosial sering mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya bisa diukur melalui gedung tinggi atau angka pertumbuhan ekonomi.
Ukuran yang lebih jujur justru terlihat dari kehidupan masyarakat kecil. Mereka yang bekerja setiap hari sering menjadi fondasi ekonomi sebuah kota.
Sayangnya, perhatian publik tidak selalu mengarah kepada kelompok tersebut. Pak Hariono menjadi salah satu contoh nyata. Ia tidak muncul dalam laporan investasi.
Media jarang menyorot perjuangannya. Bahkan statistik ekonomi sering gagal menangkap cerita manusia seperti dirinya. Padahal keberadaan mereka membantu menjaga roda kehidupan tetap berputar.
Cinta yang Menolak Menyerah
Di balik setiap piring tahu lontong yang terjual, ada alasan yang membuat Pak Hariono terus berdiri. Ia masih memikul tanggung jawab terhadap keluarganya.
Dua anak laki-lakinya masih membutuhkan dukungan. Sementara itu, sang istri harus menjalani hari-hari dengan kondisi kesehatan yang tidak lagi prima.
Keadaan tersebut membuatnya terus bekerja meski usia telah memasuki kepala tujuh. Tanggung jawab kadang hadir dalam sosok ayah yang memilih bertahan daripada menyerah.
Pada kesempatan lain, tanggung jawab terlihat dalam perjuangan seorang suami yang terus mencari nafkah demi orang yang dicintainya.
Bahkan nilai pengorbanan itu dapat tersembunyi di balik sebungkus tahu lontong yang tampak sederhana.
Pelajaran yang Tidak Pernah Diajarkan di Ruang Kelas
Generasi muda hidup di era yang serba cepat. Banyak orang ingin memperoleh hasil dalam waktu singkat.
Sebagian mengejar kesuksesan sebelum usia tiga puluh tahun. Tidak ada yang salah dengan ambisi.
Namun kehidupan Pak Hariono menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ia tidak memiliki jutaan pengikut media sosial.
Ia tidak berdiri di atas panggung motivasi dan dia juga tidak pernah menjual kata-kata inspiratif.
Sebaliknya, kehidupannya sendiri telah menjadi pelajaran. Konsistensi membuatnya bertahan selama lebih dari lima puluh tahun.
Kesetiaan terhadap keluarga memberinya alasan untuk terus berjalan. Keberanian menghadapi kenyataan menjaga semangatnya tetap hidup.
Yang Sedang Dijual Bukan Sekadar Tahu Lontong
Sekilas, orang mungkin hanya melihat seorang pedagang kaki lima yang berjualan di tepi jalan. Namun kisah yang tersimpan di balik gerobak itu jauh lebih besar.
Cerita ini melampaui urusan makanan. Lapak sederhana di depan RS Emma hanyalah potongan kecil dari realitas yang lebih luas.
Pak Hariono mewakili jutaan pekerja sektor informal yang tidak pernah benar-benar menikmati masa pensiun. Masa muda mereka habis untuk bekerja.
Ketika memasuki usia dewasa, pekerjaan tetap menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Bahkan saat tenaga mulai berkurang, banyak di antara mereka masih harus mencari nafkah.
Ironisnya, negara sering berbicara tentang bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, sebagian lansia masih bergulat dengan kebutuhan paling dasar: bertahan hidup dengan layak.
Di Bawah Lampu Jalan, Sebuah Pertanyaan Menunggu Jawaban
Setiap malam, Pak Hariono memang menjual tahu lontong. Namun sesungguhnya ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih berharga.
Dari balik gerobaknya, Pak Hariono memperlihatkan arti tanggung jawab. Pengorbanannya menghadirkan bentuk cinta yang tidak membutuhkan banyak kata.
Kehidupannya membuktikan bahwa martabat tidak selalu lahir dari jabatan atau kekayaan. Kadang, martabat tumbuh dari kejujuran saat menjalani pekerjaan yang sederhana.
Kadang, martabat muncul dari kemampuan bertahan ketika keadaan terasa tidak adil. Dan kadang, martabat hadir dalam sosok lelaki tua yang masih bekerja hingga Subuh demi keluarganya.
Ketika banyak orang melewati Jalan Raya Ijen tanpa memperhatikan, Pak Hariono tetap berada di sana Ia tidak meminta belas kasihan.
Ia tidak menuntut penghargaan dia hanya terus bekerja. Lalu pertanyaannya menjadi sederhana sekaligus mengusik
Jika seorang pria berusia 71 tahun masih harus berjualan hingga dini hari untuk memenuhi kebutuhan hidup, apakah kita sedang menyaksikan kisah ketangguhan yang menginspirasi, atau justru melihat kenyataan yang seharusnya tidak lagi terjadi?. @teguh







