“TPA Randegan membutuhkan revitalisasi secara komprehensif. Beban sampah harian yang masif tanpa dukungan infrastruktur memadai adalah bom waktu ekologis.”
Tabooo.id – Pernyataan Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani, saat meninjau TPA Randegan pada Mei 2026 terdengar seperti peringatan keras. Namun ketika mata memandang langsung gunungan sampah yang menjulang di kawasan itu, kalimat tersebut terasa lebih dekat dengan kenyataan daripada sekadar pernyataan politik.
Di balik tumpukan plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga yang terus bertambah, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar. Randegan tidak hanya menampung sampah Kota Mojokerto. Kawasan itu juga menyimpan cerita tentang sistem yang mulai kewalahan menghadapi pola konsumsi masyarakat modern.
Persoalan ini tidak berhenti pada urusan kebersihan kota. Lebih jauh lagi, krisis tersebut mempertanyakan kemampuan sebuah daerah mengelola konsekuensi dari pertumbuhan dan konsumsi yang terus meningkat.
Senja yang Tertutup Gunungan Sampah
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Kota Mojokerto. Namun suasana senja di Randegan menghadirkan pemandangan yang berbeda.
Alih-alih menikmati hamparan langit yang bersih, mata justru bertemu dengan bentangan gunungan sampah yang mendominasi cakrawala. Dari kejauhan, tumpukan itu tampak seperti bukit baru yang muncul di tengah kota. Akan tetapi, semakin dekat seseorang melangkah, semakin kuat aroma pembusukan menyerang indra penciuman.
Plastik, kardus, sisa makanan, dan berbagai jenis limbah bercampur menjadi satu lanskap yang sulit disebut wajar.
Dokumentasi visual yang merekam kondisi TPA Randegan memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa dibantah. Sampah telah melampaui fungsi tempat penampungan dan berubah menjadi simbol krisis lingkungan yang terus membesar. Ironisnya, kondisi tersebut tidak muncul dalam semalam.
Volume sampah bertambah sedikit demi sedikit. Waktu terus berjalan, sementara tumpukan residu terus meninggi. Pada saat yang sama, sebagian masyarakat mulai terbiasa melihat pemandangan itu. Padahal tidak ada yang normal dari keadaan tersebut.
Kota Kecil, Sampah Besar
Kota Mojokerto hanya memiliki luas sekitar 20 kilometer persegi. Meski wilayahnya relatif kecil, aktivitas rumah tangga, pasar tradisional, pusat perdagangan, dan sektor usaha menghasilkan sekitar 70 hingga 90 ton sampah setiap hari.
Sementara itu, kapasitas ideal TPA Randegan hanya mampu menerima sekitar 20 ton residu harian.
Perbandingan tersebut menunjukkan ketimpangan yang sangat jelas. Produksi sampah tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan kota mengelolanya.
Akibatnya, pengelola TPA menghadapi tekanan yang semakin besar dari tahun ke tahun. Sistem controlled landfill sulit berjalan optimal karena volume residu terus melampaui kapasitas yang tersedia. Pada akhirnya, praktik pembuangan terbuka semakin mendominasi pengelolaan di lapangan.
Ketika situasi seperti ini berlangsung terus-menerus, persoalannya tidak lagi bersifat teknis.
Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah sedang kehilangan keseimbangan.
Warga yang Membayar Harga Paling Mahal
Setiap krisis selalu menghadirkan korban. Namun laporan resmi sering kali gagal menggambarkan seluruh dampak yang dirasakan masyarakat.
Di sekitar TPA Randegan, warga Kelurahan Kedundung menjadi kelompok yang paling merasakan konsekuensinya.
Mereka hidup berdampingan dengan gunungan sampah setiap hari. Mereka menghirup udara yang membawa aroma pembusukan. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman pencemaran lingkungan yang terus membayangi.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kedundung, Matali, menyampaikan keresahan warga secara terbuka.
“Bau menyengat dan resapan air lindi telah mengontaminasi air tanah warga. Imbasnya, masyarakat di sekitar TPA kini dihadapkan pada krisis air minum bersih.”
Keluhan tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan.
Air lindi yang merembes ke dalam tanah berpotensi mencemari sumber air bersih warga. Selain itu, populasi lalat meningkat seiring bertambahnya timbunan sampah. Pada akhirnya, masyarakat harus menghadapi risiko kesehatan yang tidak mereka ciptakan sendiri.
Di titik inilah persoalan sampah berubah menjadi persoalan keadilan lingkungan.
Mengapa Randegan Terus Penuh?
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama warga pada 4 Maret 2026, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Mojokerto, Ikromul Yasak, mengakui besarnya tekanan yang dihadapi TPA Randegan.
“Kota Mojokerto saat ini menghasilkan sekitar 90 ton sampah per hari, jauh melebihi kapasitas ideal TPA Randegan yang seharusnya hanya menerima 20 ton residu per hari. Minimnya pemilahan sampah dari sumber menjadi penyebab utama meningkatnya beban TPA.”
Pernyataan tersebut membuka lapisan persoalan yang lebih dalam. Sebagian besar masyarakat masih menjalankan pola lama: kumpul, angkut, lalu buang.
Banyak orang menganggap urusan sampah selesai ketika kantong plastik keluar dari halaman rumah. Padahal pada saat itulah perjalanan masalah baru dimulai.
Akademisi lingkungan dan sosiolog perkotaan yang membahas isu ini sepanjang 2026 menyampaikan pandangan serupa. Menurut mereka, akar persoalan tidak hanya terletak pada keterbatasan lahan atau fasilitas pengolahan.
Budaya konsumsi juga memainkan peran besar. Masyarakat modern membeli lebih banyak barang dibanding generasi sebelumnya. Namun kesadaran untuk memilah, mengurangi, dan mengolah sampah tidak berkembang dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, volume residu terus membengkak di hilir.
Ini Bukan Sekadar Sampah. Ini Potret Sistem yang Kewalahan.
Di sinilah lapisan persoalan yang jarang muncul dalam diskusi publik.
Selama bertahun-tahun, banyak pihak mengukur keberhasilan pengelolaan sampah dari satu indikator sederhana: apakah sampah berhasil diangkut atau tidak.
Padahal proses pengangkutan tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Truk hanya memindahkan sampah dari rumah menuju TPS. Setelah itu, armada lain membawa residu menuju TPA. Selanjutnya, tumpukan baru kembali muncul dan terus bertambah dari hari ke hari.
Dengan kata lain, sistem saat ini lebih sering memindahkan masalah daripada menguranginya. TPA Randegan memperlihatkan pola tersebut secara nyata.
Sementara kota terus berkembang, tingkat konsumsi masyarakat ikut meningkat. Pada saat yang sama, volume sampah terus melonjak. Namun kapasitas pengolahan tidak berkembang dengan kecepatan yang setara.
Karena itulah krisis ini tumbuh perlahan hingga akhirnya terlihat normal. Padahal kondisi tersebut sama sekali tidak normal.
Sebagian warga menilai keterbatasan lahan sebagai sumber utama persoalan. Di sisi lain, sejumlah pihak menganggap jumlah armada pengangkut masih jauh dari cukup.
Namun akar masalah yang sesungguhnya terletak pada ketidakseimbangan antara budaya konsumsi dan kapasitas sistem mengelola dampaknya. Inilah lapisan persoalan yang paling sering luput dari perhatian.
Upaya Pemkot dan Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Pemerintah Kota Mojokerto sebenarnya telah menjalankan sejumlah langkah untuk mengurangi tekanan terhadap TPA Randegan.
Pertama, Pemkot memperkuat program RT Berseri guna mendorong pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga. Selain itu, pemerintah memperluas pemanfaatan bank sampah, lubang biopori, serta budidaya maggot sebagai alternatif pengolahan sampah organik.
Selanjutnya, DLH Kota Mojokerto mewajibkan sektor HOREKA dan sejumlah kawasan usaha mengelola sampah secara mandiri.
Pemerintah juga terus mencari dukungan pendanaan guna meningkatkan kualitas infrastruktur pengelolaan sampah.
Langkah-langkah tersebut layak mendapat apresiasi. Meski demikian, pertanyaan pentingnya bukan lagi soal ada atau tidaknya program.
Sebaliknya, publik perlu bertanya apakah kecepatan kebijakan mampu mengejar laju krisis yang terus berkembang.
Sebab gunungan sampah tidak pernah menunggu program berjalan sempurna. Setiap hari, volume residu terus bertambah dan menekan kapasitas yang tersedia.
Pada saat yang sama, ruang penampungan semakin menyempit sehingga tekanan terhadap TPA semakin besar.
Alarm yang Tidak Bisa Ditunda Lagi
Randegan hari ini mencerminkan masa depan yang menunggu apabila tidak ada perubahan besar.
Krisis ini mengancam kualitas udara, sumber air, kesehatan masyarakat, serta daya dukung lingkungan Kota Mojokerto dalam jangka panjang.
Karena itu, masyarakat tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada petugas kebersihan atau pemerintah daerah.
Kantong plastik yang tidak dipilah akan langsung menambah beban pengelolaan sampah.
Sementara itu, makanan yang berakhir di tempat pembuangan memperbesar volume residu setiap hari.
Lebih jauh lagi, pola konsumsi berlebihan yang sering dianggap sepele ikut mempercepat pertumbuhan gunungan sampah.
Di titik inilah kenyataan yang paling tidak nyaman mulai terlihat. Randegan tidak lagi sekadar menjalankan fungsi sebagai tempat pembuangan akhir.
Kawasan ini telah berubah menjadi cermin hubungan masyarakat dengan sampah yang mereka hasilkan setiap hari.
Ketika konsumsi meningkat lebih cepat daripada kesadaran mengelola limbah, gunungan residu akan terus bertambah tinggi. Akibatnya, kota tidak hanya menumpuk sampah.
Risiko kesehatan, ancaman pencemaran air, dan beban lingkungan jangka panjang ikut tumbuh bersamaan.
Dari puncak Randegan, publik sebenarnya sedang melihat sebuah peringatan yang sangat jelas. Krisis lingkungan jarang muncul secara mendadak.
Sebaliknya, masalah tersebut berkembang perlahan hingga tampak biasa di mata banyak orang.
Baru ketika dampaknya masuk ke rumah, sumur, dan ruang hidup warga, semua orang menyadari bahwa persoalan itu sudah terlalu besar untuk diabaikan.
Karena itu, pertanyaan yang harus dijawab hari ini bukan lagi siapa yang salah.
20Pertanyaannya jauh lebih penting Apakah Mojokerto akan mulai mengubah cara memperlakukan sampah, atau memilih menunggu sampai bom waktu ekologis itu benar-benar meledak?. @teguh







