Prabowonomics menawarkan peran negara yang lebih kuat dalam ekonomi. Apakah ini jalan menuju kedaulatan nasional atau taruhan besar bagi masa depan Indonesia?
Tabooo.id – Ekonomi tidak pernah sekadar berbicara tentang angka. Di balik setiap kebijakan, selalu ada pertarungan gagasan tentang siapa yang mengendalikan sumber daya, menentukan arah pembangunan, dan menikmati hasil pertumbuhan.
Perdebatan itu kini kembali mengemuka melalui konsep yang populer dengan sebutan Prabowonomics. Sebagian orang memandangnya sebagai jalan menuju kedaulatan ekonomi nasional. Sebagian lainnya melihatnya sebagai langkah yang berpotensi mengganggu kepercayaan pasar.
Namun perdebatan ini jauh lebih besar daripada sekadar pilihan antara negara dan pasar.
Yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah cara Indonesia membayangkan masa depannya sendiri.
Ketika Pasar Tidak Menjawab Semua Persoalan
Selama beberapa dekade terakhir, Indonesia mendorong pembangunan dengan memberi ruang luas bagi mekanisme pasar. Pemerintah membuka pintu investasi, memperkuat peran sektor swasta, dan berharap pertumbuhan ekonomi mampu mengalir ke seluruh lapisan masyarakat.
Strategi tersebut memang menghasilkan kemajuan. Infrastruktur berkembang. Investasi meningkat. Aktivitas ekonomi tumbuh di berbagai daerah.
Namun berbagai persoalan tetap bertahan. Ketimpangan ekonomi masih menjadi tantangan. Penguasaan sumber daya strategis terus memicu perdebatan. Di sisi lain, sebagian masyarakat merasa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata.
Di tengah kegelisahan itulah gagasan Prabowonomics mulai mendapat perhatian. Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa pasar tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan. Karena itu, negara perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam mengarahkan ekonomi, mengelola sektor strategis, dan memastikan hasil pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir kelompok.
Dari situ muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: apakah pasar mampu menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan sendirian?
Pendukung Prabowonomics menjawab tidak.
Mereka mendorong negara untuk mengambil peran yang lebih besar dalam mengarahkan pembangunan. Dalam pandangan ini, pemerintah tidak cukup mengawasi dari pinggir lapangan. Pemerintah perlu memimpin, mengarahkan, dan memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.
Inspirasi dari China, Bukan Salinan China
Banyak pengamat kemudian membandingkan gagasan tersebut dengan model pembangunan China.
Pemerintah China mengendalikan banyak sektor strategis, mengarahkan kebijakan industri, mengelola arus modal, serta menempatkan perusahaan milik negara sebagai instrumen pembangunan. Model itu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa selama beberapa dekade terakhir.
Keberhasilan tersebut membuat banyak negara tertarik mempelajarinya.
Meski begitu, meniru China secara utuh bukan pilihan yang realistis. Indonesia memiliki sejarah, sistem politik, budaya, dan struktur ekonomi yang berbeda.
Ekonom Keyu Jin justru menilai keberhasilan China lahir karena negara itu berani membangun jalannya sendiri. China tidak mengejar standar Barat secara membabi buta. China menyesuaikan strategi pembangunan dengan kebutuhan domestiknya.
Pandangan tersebut mengandung pesan penting bagi Indonesia.
Membangun ekonomi nasional tidak selalu berarti memilih antara kapitalisme atau sosialisme. Sebuah negara dapat merancang model yang sesuai dengan karakter dan kepentingannya sendiri.
Ketika Para Ekonom Berbeda Pendapat
Tidak semua ekonom sepakat dengan pendekatan tersebut.
Peraih Nobel Ekonomi 2024, yaitu Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A. Robinson, menekankan pentingnya institusi yang inklusif untuk menciptakan kemakmuran jangka panjang. Mereka meyakini bahwa negara perlu membangun sistem yang membuka kesempatan seluas mungkin bagi masyarakat.
Pandangan itu melahirkan dilema yang menarik.
Ketika negara terlalu lemah, kelompok ekonomi kuat bisa mendominasi pasar dan memperlebar ketimpangan.
Sebaliknya, ketika negara terlalu dominan, kekuasaan dapat terkonsentrasi pada segelintir pihak dan mengurangi ruang kompetisi yang sehat.
Karena itu, perdebatan ini tidak lagi berbicara tentang memilih negara atau pasar.
Perdebatan ini berbicara tentang mencari titik keseimbangan.
Mengapa Pasar Bereaksi?
Setiap perubahan arah kebijakan hampir selalu memicu respons.
Pasar keuangan Indonesia menunjukkan kehati-hatian ketika berbagai wacana mengenai penguatan peran negara mulai mengemuka. IHSG mengalami tekanan, nilai tukar rupiah melemah, dan sejumlah saham sektor sumber daya alam terkoreksi.
Investor umumnya menyukai kepastian.
Ketika pemerintah menawarkan paradigma baru, pasar membutuhkan waktu untuk memahami arah kebijakan tersebut. Situasi itu lazim terjadi di banyak negara yang sedang melakukan perubahan strategi pembangunan.
Namun pasar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Pasar sering berfokus pada laporan kuartalan. Sebaliknya, negara harus memikirkan kebutuhan generasi yang akan datang.
Ini Bukan Sekadar Soal Ekonomi
Pada akhirnya, perdebatan mengenai Prabowonomics menyentuh persoalan yang lebih mendasar daripada pertumbuhan ekonomi.
Siapa yang harus mengendalikan sumber daya strategis bangsa?
Siapa yang menentukan arah pembangunan?
Dan siapa yang menikmati manfaat terbesar dari pertumbuhan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus muncul, apa pun model ekonomi yang dipilih Indonesia.
Di sinilah letak inti perdebatan yang sesungguhnya.
Prabowonomics bukan sekadar paket kebijakan. Prabowonomics merupakan upaya mencari bentuk hubungan baru antara negara, pasar, dan kepentingan publik.
Ini bukan sekadar perubahan strategi ekonomi.
Ini adalah usaha mendefinisikan ulang bagaimana Indonesia ingin membangun dirinya sendiri.
Lalu pertanyaan terakhirnya sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:
Jika selama ini Indonesia terus meminjam berbagai model pembangunan dari luar, kapan Indonesia benar-benar berani menciptakan model ekonominya sendiri? @dimas







