Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BRIN Salah Unggah Garuda: Ironi di Hari Pancasila

by Waras
Juni 2, 2026
in Pattern
A A
Home Pattern
Hari Pancasila biasanya dipenuhi ucapan nasionalisme, poster merah putih, dan kutipan tentang persatuan. Tapi tahun ini, perhatian publik justru tertuju pada sesuatu yang terlihat kecil: jumlah bulu Garuda.

Tabooo.id: BRIN mengunggah visual peringatan Hari Lahir Pancasila dengan lambang Garuda yang tidak sesuai pakem resmi. Sekilas mungkin tampak sepele. Tapi internet bergerak cepat. Netizen langsung membandingkan detail visual itu dengan aturan resmi lambang negara.

Garuda Bukan Ornamen

Masalahnya bukan cuma soal desain.

Dalam simbol negara, setiap detail punya makna.

Jumlah bulu pada Garuda Pancasila bukan ornamen estetika. Delapan bulu pada ekor melambangkan bulan Agustus. Masing-masing 17 bulu di sayap melambangkan tanggal kemerdekaan. Lalu 19 bulu kecil di bawah perisai dan 45 bulu di leher membentuk angka 1945.

Artinya, ketika jumlah bulu berubah, maknanya ikut berubah.

Ini Belum Selesai

Batas Usia Menikah 19 Tahun, Kenapa Perkawinan Anak Masih Terjadi?

RUU Perampasan Aset: Saat Kuasa Negara Membesar, Siapa Mengawasi?

BRIN akhirnya mengunggah permintaan maaf melalui akun X resmi mereka pada Senin sore. Mereka mengakui adanya kesalahan tayangan dan menyebut insiden itu sebagai evaluasi internal agar lebih teliti dalam proses produksi konten.

Tapi publik telanjur bertanya:
Bagaimana lembaga riset negara bisa kecolongan pada simbol paling dasar republik ini?

Nasionalisme Versi Timeline

Ironisnya, kejadian ini muncul tepat di Hari Lahir Pancasila — momen yang seharusnya menjadi pengingat soal identitas nasional dan nilai kebangsaan.

Di era digital, simbol negara sekarang hidup bukan hanya di ruang resmi, tapi juga di timeline, template desain, dan budaya visual internet. Masalahnya, budaya serba cepat sering membuat akurasi kalah oleh kecepatan unggah.

Semua harus cepat.
Semua harus viral.
Dan semua harus tayang duluan.

Dan kadang, detail penting justru tertinggal.

Lambang Negara Bukan Clipart

Ini bukan sekadar salah desain. Ini mencerminkan bagaimana banyak orang mulai memperlakukan simbol nasional seperti elemen grafis biasa.

Padahal lambang negara bukan clipart.

Ia membawa sejarah, identitas, bahkan memori kolektif bangsa.

Bagi sebagian orang, kritik soal jumlah bulu mungkin terdengar berlebihan. Tapi justru di situlah masalahnya: ketika masyarakat mulai menganggap simbol negara hanya formalitas visual, makna di belakangnya ikut terkikis perlahan.

Karena menguji nasionalisme tidak selalu lewat pidato besar.

Kadang mengujinya lewat hal paling kecil:
apakah kita masih cukup peduli untuk memperhatikan detailnya.

Zaman Cepat, Makna Dangkal

Ini bukan sekadar kesalahan desain.

Ini pola zaman digital:
Media sosial memproduksi visual serba cepat, tapi pemahaman simbol makin dangkal.

Institusi sekarang berlomba tampil aktif di media sosial. Namun ketika institusi lebih mengejar engagement dalam produksi konten, mereka mulai memperlakukan simbol negara seperti sekadar template.

Dan internet tidak memaafkan detail yang salah.

Hafal Slogan, Lupa Makna

Dampaknya bukan cuma ke citra BRIN.

Kasus seperti ini memperlihatkan bagaimana generasi digital makin jauh dari pemahaman simbol kebangsaan. Banyak orang hafal slogan nasionalisme, tapi tidak lagi memahami makna simbol yang mereka pakai setiap hari. @waras

Tags: brinBudaya Digitalgaruda pancasilaHari Lahir Pancasilasimbol negara

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Belum Padam, BRIN Uji Tepung Singkong Untuk Lawan Api

Karhutla Belum Padam, BRIN Uji Tepung Singkong Untuk Lawan Api

by dimas
Agustus 29, 2026

Karhutla belum padam di sejumlah wilayah Indonesia. BRIN dan Polri menguji tepung singkong atau ubi bombing untuk membantu memadamkan api....

Otak: “Gue Capek.” Kita: “Scroll Lagi Aja.”

Otak: “Gue Capek.” Kita: “Scroll Lagi Aja.”

by Waras
Agustus 14, 2026

Kita kerap mengira sedang memberi otak waktu untuk berhenti dari hiruk-pikuk kesibukan harian. Padahal, sepanjang hari perhatian terus berpindah dari...

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

by dimas
Agustus 13, 2026

Ad-Duha dan Miras bertemu dalam sebuah challenge di The Sounds Project. Ketika ayat suci berubah menjadi tontonan, di mana batas...

Next Post
Agama untuk Mencari Kebenaran atau Sekadar Pembenaran?

Agama untuk Mencari Kebenaran atau Sekadar Pembenaran?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id