Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hak Menentukan Nasib Sendiri: Kebebasan atau Kekuasaan?

by dimas
Mei 31, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Hak menentukan nasib sendiri sering dianggap jalan menuju kebebasan. Namun, siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika sebuah bangsa menentukan masa depannya sendiri?

Tabooo.id – Setiap kali sebuah bangsa berkata, “Kami ingin menentukan nasib kami sendiri,” dunia biasanya langsung memihak. Kalimat itu terdengar luhur. Ia membawa semangat kebebasan, kemerdekaan, dan harga diri.

Namun sejarah mengajarkan satu hal penting tidak semua perjuangan kemerdekaan benar-benar membebaskan rakyat.

Sering kali, elite politik mengibarkan bendera kebebasan sambil menyiapkan panggung kekuasaan baru. Mereka berbicara atas nama rakyat, tetapi mereka mengejar kepentingan sendiri.

Di titik inilah persoalan hak menentukan nasib sendiri menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar urusan batas wilayah atau identitas nasional.

Dunia Tidak Berdiri di Atas Kesetaraan

Banyak orang membayangkan semua bangsa berdiri dalam posisi yang sama. Kenyataannya tidak demikian.

Ini Belum Selesai

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

Sejak era kolonial hingga zaman modern, negara-negara kuat terus membangun pengaruh politik, ekonomi, dan militer atas wilayah yang lebih lemah. Mereka mengendalikan pasar, menentukan arah kebijakan, bahkan membentuk masa depan bangsa lain.

Karena itu, Lenin melihat pembagian antara bangsa penindas dan bangsa tertindas sebagai kenyataan politik yang tidak bisa diabaikan.

Ia menolak gagasan bahwa perdamaian otomatis lahir dari seruan moral atau slogan persaudaraan antarbangsa.

Menurutnya, kaum pekerja di negara yang kuat harus berani menentang setiap bentuk pemaksaan nasional. Mereka harus mendukung hak bangsa lain untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk ketika bangsa tersebut memilih berpisah.

Tanpa sikap itu, solidaritas internasional hanya menjadi slogan yang indah di atas kertas.

Ketika Nasionalisme Menjadi Alat Kekuasaan

Namun Lenin tidak memandang nasionalisme secara romantis.

Ia melihat bagaimana banyak elite lokal menggunakan semangat pembebasan nasional untuk memperkuat posisi mereka sendiri.

Mereka mengajak rakyat berjuang melawan penindasan, mereka mengobarkan semangat kemerdekaan, mereka mengangkat nama bangsa sebagai simbol persatuan.

Tetapi setelah mereka merebut kekuasaan, mereka sering mengulang pola yang sama.

Rakyat tetap bekerja keras.

Ketimpangan tetap tumbuh.

Segelintir elite tetap menikmati hasil terbesar.

Bendera memang berubah. Penguasa juga berganti. Namun struktur ketidakadilan sering tetap bertahan.

Karena itu, Lenin mendorong kaum pekerja agar tidak menyerahkan masa depan mereka kepada elite mana pun, termasuk elite yang berbicara atas nama nasionalisme.

Pertanyaan yang Jarang Muncul

Setiap gerakan kemerdekaan biasanya mengajukan satu pertanyaan:

“Apakah bangsa ini berhak merdeka?”

Namun ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting:

“Setelah merdeka, siapa yang memegang kendali?”

Pertanyaan itu sering menghilang di tengah euforia politik.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak kelompok penguasa baru segera membangun jaringan kekuasaan mereka sendiri setelah kemenangan datang.

Mereka mengganti simbol negara, mereka mengganti konstitusi, mereka mengganti slogan.

Tetapi mereka tidak selalu mengubah kehidupan rakyat.

Perebutan Pengaruh di Balik Kemerdekaan

Persoalan menjadi semakin rumit ketika kekuatan besar dunia ikut masuk ke dalam konflik nasional.

Dalam banyak kasus, negara kuat tidak mendukung sebuah gerakan karena cinta pada kebebasan. Mereka mengejar pengaruh politik, akses sumber daya, atau keuntungan strategis.

Akibatnya, perjuangan rakyat sering berubah menjadi arena persaingan kekuatan global.

Rakyat mengorbankan tenaga.

Rakyat menanggung konflik.

Tetapi aktor besar menikmati keuntungan politik dan ekonomi.

Ironisnya, banyak bangsa baru justru masuk ke lingkaran ketergantungan yang berbeda setelah mereka meraih kemerdekaan.

Ini Bukan Sekadar Soal Bendera

Inilah bagian yang sering luput dari perdebatan.

Hak menentukan nasib sendiri bukan sekadar hak untuk mengibarkan bendera sendiri.

Hak itu juga menyangkut kemampuan rakyat menentukan arah ekonomi, mengelola sumber daya, memilih masa depan politik, dan mengawasi kekuasaan yang mereka bentuk.

Kemerdekaan kehilangan maknanya ketika rakyat hanya mengganti tuan lama dengan tuan baru.

Kemerdekaan kehilangan nilainya ketika elite baru mengulang pola lama dalam wajah yang berbeda.

Kebebasan yang Sesungguhnya

Hari ini dunia masih menyaksikan berbagai tuntutan penentuan nasib sendiri. Sebagian lahir dari pengalaman panjang penindasan, sebagian muncul karena ketimpangan politik, sebagian lagi berkembang di tengah pertarungan geopolitik global.

Namun satu pertanyaan tetap relevan.

Apakah perjuangan itu benar-benar membuka ruang kebebasan bagi rakyat?

Ataukah perjuangan itu hanya membuka jalan bagi elite baru untuk mengambil alih kendali?

Karena pada akhirnya, persoalan terbesar bukan terletak pada bagaimana sebuah bangsa meraih kemerdekaan.

Persoalan terbesar muncul setelah kemerdekaan datang.

Siapa yang menentukan masa depan? Rakyat atau segelintir orang yang mengatasnamakan rakyat?

Di situlah makna hak menentukan nasib sendiri benar-benar diuji. @dimas

Tags: Hak Menentukan Nasib SendiriImperialismeKebebasan Atau KekuasaanNasionalismePenentuan Nasib BangsaPolitik Global

Kamu Melewatkan Ini

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

by dimas
Oktober 30, 2026

Sumpah Pemuda dan Sumpah Mahasiswa mengingatkan pentingnya persatuan yang berpihak pada keadilan, bebas dari penindasan, serta menjunjung kejujuran di tengah...

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: HUT RI ke-81 tidak berhenti di Istana. Musik, UMKM, permainan, dan pesta rakyat membawa kemerdekaan ke ruang publik. Pertanyaannya,...

Bangsaku: Mencintai Indonesia Berarti Berani Mengkritiknya

Bangsaku: Mencintai Indonesia Berarti Berani Mengkritiknya

by dimas
Agustus 17, 2026

Mencintai Indonesia bukan berarti selalu membela. Kritik terhadap negeri sendiri juga bisa menjadi bentuk rasa memiliki dan kepedulian. Tabooo.id -...

Next Post
Apakah Generasi Z Masih Akan Mewarisi Tradisi Bersih Desa?

Apakah Generasi Z Masih Akan Mewarisi Tradisi Bersih Desa?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id