Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat dadakan. Pemerintah disalahkan. Elite politik dicibir. Dan jujur saja, banyak kritik itu memang pantas lahir. Harga kebutuhan naik. Peluang makin sempit. Janji politik terdengar lebih cepat datang daripada hasil nyata.
Tabooo.id – Akibatnya, banyak orang mulai bertanya: Negara ini sebenarnya sedang dibawa ke mana? Tapi tenang. Tulisan ini tidak ingin membungkam kritik. Justru sebaliknya, kritik tetap penting. Demonstrasi juga tetap penting. Dalam demokrasi, kritik bekerja seperti alarm. Ia memberi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Lagi pula, sejarah sudah membuktikan hal itu.
Reformasi Tidak Lahir dari Orang yang Nyaman
Tahun 1998 tidak muncul begitu saja. Mahasiswa dan rakyat tidak turun ke jalan demi terlihat heroik atau keren. Mereka bergerak karena keadaan hidup terasa terlalu sesak untuk terus didiamkan.
Di titik ini, gagasan Tan Malaka terasa relevan.
Melalui Madilog atau Materialisme, Dialektika, dan Logika, Tan Malaka melihat perubahan sosial lahir dari benturan realitas, bukan harapan kosong.
Lapar yang nyata. Ketidakadilan yang terasa dekat. Tekanan hidup yang terus menumpuk.
Selain itu, Tan Malaka percaya bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menuntut kebebasan berpikir. Sebab, bangsa yang pikirannya masih terikat akan mudah digiring emosi, propaganda, bahkan ketakutan.
Karena itu, muncul satu pertanyaan yang terasa relevan hari ini:
Apakah kita benar-benar sedang berpikir merdeka ketika marah pada negara? Atau jangan-jangan kita hanya ikut terbakar oleh keramaian?
Jangan-Jangan Kita Sedang Berteriak pada Bayangan
Di tengah riuh kritik, ada satu pertanyaan yang sangat tidak nyaman:
Apakah kita sudah cukup jujur untuk merasa layak mengkritik?
Pertanyaan ini memang pahit.
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk menunjuk keluar sampai lupa melihat ke dalam.
Di sinilah gagasan Plato terasa menampar.
Dalam alegori gua, Plato menggambarkan manusia seperti tahanan yang sejak kecil hanya melihat bayangan di dinding lalu menganggapnya sebagai kenyataan.
Akibatnya, mereka marah pada sesuatu yang mereka anggap benar, padahal mungkin belum pernah melihat realitas secara utuh.
Bukankah media sosial hari ini terasa mirip?
Semua orang bereaksi cepat. Banyak orang punya opini. Sebagian bahkan merasa paling sadar.
Namun ironisnya, kita bisa saja hanya ribut di depan bayangan yang dibentuk algoritma.
Heroisme digital kadang terlihat seperti kepedulian. Padahal, diam-diam ia lahir dari rasa takut tertinggal arus.
Saat semua orang marah, kita ikut marah. Ketika semua orang mengecam, kita ikut mengecam.
Padahal, jarang sekali kita berhenti lalu bertanya:
Ini kemarahan yang lahir dari kepedulian, atau cuma ego yang ingin terlihat sadar?
Kita Membenci Korupsi, Tapi Nyaman Curang Kecil-Kecilan
Nah, ini bagian yang paling tidak nyaman.
Kita marah pada korupsi besar di atas sana. Namun di saat yang sama, kita masih menyerobot antrean. Kita masih membenarkan kebohongan kecil. Bahkan, kita tetap mencari jalan pintas ketika kesempatan muncul.
Ironis, bukan?
Kita ingin negara berubah cepat. Namun, diri sendiri masih sering menunda berubah.
Di titik ini, pemikiran Aristoteles terasa sangat relevan.
Bagi Aristoteles, manusia tidak otomatis menjadi baik hanya karena memahami kebaikan.
Sebaliknya, manusia membentuk karakter baik lewat kebiasaan.
Integritas bukan teori.
Ia tumbuh dari tindakan kecil yang terus dilakukan.
Kejujuran juga bukan slogan kosong.
Ia hidup lewat keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari.
Karena itu, negara yang sehat tidak lahir hanya dari pemimpin baik. Negara yang sehat juga membutuhkan warga yang berhenti menormalisasi kebohongan kecil.
Revolusi Terbesar Kadang Tidak Terjadi di Jalanan
Bukan berarti demonstrasi salah.
Tidak.
Mengkritik pemerintah tetap menjadi hak warga negara.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian:
Revolusi terbesar kadang tidak lahir di jalanan. Ia justru tumbuh di kepala yang mulai berpikir jernih.
Tan Malaka menyebutnya logika yang merdeka.
Plato menyebutnya keberanian keluar dari gua.
Sementara itu, Aristoteles menyebutnya kebiasaan hidup yang baik.
Tiga zaman berbeda. Tiga cara berpikir berbeda.
Namun, pesannya terasa sama:
Perubahan tidak cukup hanya mengganti pemain. Kadang, cara kita bermain juga harus dibentuk ulang. @jeje





