Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

by dimas
Mei 22, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on FacebookShare on Twitter
Jogja Financial Festival 2026 resmi dibuka di Jogja Expo Center (JEC), Bantul. Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ova Emilia soroti ancaman utang digital serta rendahnya literasi finansial anak muda.

Tabooo.id: Yogyakarta – Lampu panggung menari di atas ribuan wajah yang memadati Jogja Expo Center (JEC), Jumat (22/5/2026). Musik pembuka menggema keras. Kamera televisi bergerak cepat memburu sorotan. Nama-nama besar berdiri di satu panggung Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, Founder CT Corp Chairul Tanjung, hingga Rektor UGM Ova Emilia.

Namun di balik kemeriahan Jogja Financial Festival (JFF) 2026, muncul kegelisahan yang jauh lebih besar dibanding sekadar urusan investasi atau tabungan. Generasi muda Indonesia kini hidup di era ketika akses uang terasa semakin mudah, tetapi pemahaman terhadap risiko justru berjalan tertatih.

Para tokoh itu menekan cube simbolis sebagai tanda pembukaan resmi JFF 2026. Tetapi festival ini sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam: cara anak muda memandang uang, konsumsi, dan masa depan hidup mereka sendiri.

Jogja Financial Festival lahir dari kolaborasi Transmedia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebelumnya, festival ini sukses hadir di Surabaya dan Medan dengan total lebih dari 10 ribu pengunjung. Tahun ini, Yogyakarta menjadi tuan rumah karena kota ini tumbuh sebagai pusat pendidikan, ekonomi kreatif, dan ruang hidup jutaan anak muda digital.

Dan justru di kota pelajar inilah keresahan soal literasi keuangan terasa semakin nyata.

Ini Belum Selesai

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Ketika Utang Datang Lewat Layar Ponsel

Dulu, orang harus datang ke bank untuk meminjam uang. Hari ini, utang muncul lewat notifikasi.

Cukup beberapa klik di layar ponsel, seseorang bisa mendapatkan pinjaman instan, paylater, atau akses investasi digital. Industri teknologi finansial membungkus semuanya dengan bahasa yang terasa ringan “praktis”, “mudah”, “cepat cair”, atau “solusi kebutuhan mendesak”.

Masalahnya, kemudahan sering menghapus ruang berpikir.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pidato yang paling reflektif dalam pembukaan JFF 2026. Sultan tidak hanya berbicara soal ekonomi. Ia menyoroti manusia yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Saya menyambut baik forum ini sebagai ruang untuk menata arah bersama, bagaimana kebijakan, budaya, ilmu, dan teknologi dapat bertemu agar pertumbuhan ekonomi tidak tercerabut dari martabat manusia,” kata Sultan.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi maknanya sangat tajam.

Hari ini, banyak orang memuja pertumbuhan ekonomi seperti angka statistik semata. Pada saat yang sama, sistem digital terus mengubah manusia menjadi target pasar tanpa henti.

Sultan lalu melontarkan pertanyaan yang langsung menusuk inti persoalan zaman digital.

“Apakah akses itu membuat manusia semakin berdaya? Atau justru semakin mudah diarahkan oleh hasrat konsumsi, algoritma, dan utang yang datang dengan wajah kemudahan,” ujarnya.

Kalimat “utang yang datang dengan wajah kemudahan” langsung menggambarkan realitas yang kini mengepung generasi muda.

Anak muda hidup di era ketika media sosial menjual gaya hidup sebagai identitas. Algoritma mendorong konsumsi tanpa jeda. Platform digital terus menawarkan kenyamanan instan. Dan perlahan, banyak orang mulai mengukur kebahagiaan lewat barang yang mereka beli.

Di titik itu, literasi keuangan tidak lagi sekadar soal menabung atau investasi.

Literasi keuangan kini menjadi kemampuan bertahan di tengah sistem yang terus mendorong manusia untuk konsumtif.

Kampus dan Kerentanan Finansial Generasi Muda

Rektor UGM, Ova Emilia, juga menyampaikan keresahan yang sama. Ia menyoroti meningkatnya kerentanan finansial mahasiswa akibat akses digital yang terlalu mudah.

“Yang terjadi di universitas, banyak kejadian mahasiswa dengan kemudahan tersebut terjebak dalam berbagai situasi yang menyulitkan,” kata Ova.

Pernyataan itu menggambarkan realitas baru di banyak kota pendidikan. Mahasiswa kini tidak hanya menghadapi biaya hidup yang terus naik. Mereka juga menghadapi tekanan sosial digital yang semakin brutal.

Media sosial menciptakan standar hidup yang terasa wajib diikuti. Anak muda merasa harus tampil keren, produktif, dan terlihat sukses setiap saat. Di tengah tekanan itu, layanan pinjaman digital hadir sebagai solusi tercepat.

Ironisnya, banyak anak muda memahami cara memakai aplikasi finansial lebih cepat dibanding memahami risiko utang jangka panjang.

“Literasi keuangan bukan sekadar kemampuan memahami tabungan, investasi, kredit, asuransi, fintech, atau aset digital,” ujar Ova.

Menurutnya, teknologi memang mempermudah akses finansial. Tetapi tanpa pemahaman risiko, kemudahan itu bisa berubah menjadi jebakan sosial baru.

Dan di situlah masalah sebenarnya muncul.

Teknologi berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan mental masyarakat.

Ini Bukan Sekadar Festival Finansial

JFF 2026 menghadirkan berbagai sesi Business Talk dan Educational Class. Sejumlah pejabat negara, regulator, pengusaha, dan akademisi ikut mengisi forum tersebut. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, hingga Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dijadwalkan hadir dalam berbagai sesi diskusi.

Namun forum ini sebenarnya sedang mencoba menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana membuat generasi muda tidak hanya menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga manusia yang sadar terhadap konsekuensi hidup mereka sendiri?

Indonesia memang sedang memasuki fase baru ekonomi digital. Fintech tumbuh agresif. Investasi digital semakin populer. Anak muda mulai akrab dengan saham, crypto, dan aset virtual.

Tetapi bersamaan dengan itu, budaya instan juga tumbuh semakin liar.

Orang ingin cepat kaya. Cepat terlihat berhasil. Cepat mendapatkan validasi sosial. Dan industri digital memahami betul cara memanfaatkan hasrat tersebut.

Karena itu, Sultan HB X mengingatkan bahwa uang tidak boleh menjadi tujuan akhir hidup manusia.

“Kita harus tetap menjadi sarana untuk memuliakan kehidupan kita,” katanya.

Kalimat itu terdengar filosofis. Tetapi justru itulah peringatan paling relevan untuk zaman sekarang.

Di era digital, banyak orang mulai sulit membedakan kebutuhan dan keinginan. Semua terasa mendesak. Semua terasa harus dimiliki sekarang juga.

Bahkan kebahagiaan kini sering dijual lewat sistem cicilan.

Jogja dan Pertarungan Masa Depan Anak Muda

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dan ruang tumbuh kreativitas anak muda. Tetapi di balik romantisme kota pelajar, Jogja juga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Biaya hidup naik. Persaingan kerja semakin keras. Teknologi berubah terlalu cepat. Dan generasi muda harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal.

Karena itu, pembicaraan soal literasi keuangan hari ini sebenarnya tidak hanya menyentuh ekonomi.

Isu ini menyentuh masa depan sosial.

Ketika anak muda gagal memahami cara mengelola uang, dampaknya tidak berhenti di rekening pribadi. Tekanan itu bisa menjalar ke kesehatan mental, relasi sosial, bahkan kualitas hidup mereka sendiri.

Dan mungkin, di situlah Jogja Financial Festival 2026 menjadi penting.

Bukan karena panggungnya megah.

Bukan karena tokoh-tokoh besar hadir.

Tetapi karena forum ini mengingatkan satu hal yang mulai hilang di tengah budaya digital: kemudahan tidak selalu berarti kebebasan.

Kadang, justru di balik semua yang terlihat praktis, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Lalu pertanyaannya sekarang sederhana di tengah dunia yang terus menjual kemudahan, apakah generasi muda masih memiliki cukup ruang untuk hidup dengan sadar? @dimas

Tags: JFF 2026Jogja Financial FestivalLiterasi KeuanganOva EmiliaSri Sultan HB XUtang Digital

Kamu Melewatkan Ini

No Content Available

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id