Tabooo.id: Edge – Coba bayangin, Reog Ponorogo ikon kebanggaan Jawa Timur, penari gagah dengan kepala singa dan bulu merak menjulang sekarang malah jadi simbol proyek bermasalah.
Kalau barongan itu hidup, mungkin dia udah ngebanting diri ke depan kantor bupati sambil ngomel,
“Aku dijadikan monumen, tapi duitku malah ditilep!”
Yes, ini bukan naskah sinetron “Azab Koruptor di Tengah Tarian Reog,” tapi berita nyata.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi mendalami dugaan korupsi pembangunan Monumen Reog Ponorogo.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, bilang tim lagi ngulik kasus baru yang nyempil pas OTT minggu lalu.
“Dari peristiwa tertangkap tangan di Ponorogo pada pekan lalu, tim mendapatkan petunjuk adanya dugaan tindak pidana korupsi lain,” katanya (Rabu, 12/11/2025).
Artinya, monumen ini belum berdiri, tapi jejak uangnya udah “menari” duluan.
“Dari RSUD ke Reog: Plot Twist yang Lebih Hebat dari Sinetron Ikatan Dinas”
Awalnya, OTT itu nyasar ke dugaan suap jabatan dan proyek pengadaan di Pemkab Ponorogo. Tapi ternyata, pas benang ditarik, keluar proyek lain: pembangunan Monumen Reog.
Kayak benang kusut, makin ditarik malah nemu simpul baru.
KPK pun menetapkan empat tersangka:
- Sugiri Sukoco, Bupati Ponorogo 2021–2030
- Agus Pramono, Sekda senior sejak 2012
- Yunus Mahatma, Direktur RSUD Dr. Harjono
- dan Sucipto, rekanan proyek swasta
Mereka ditahan 20 hari pertama di Rutan Merah Putih KPK sejak 8 November 2025.
Kalau kamu pikir, “Loh, kok bisa dari RSUD nyambung ke Reog?” ya, karena di negeri ini, korupsi kadang lebih luwes dari senam peregangan pagi.
Dari proyek kesehatan bisa nyenggol proyek budaya, dari meja dokter bisa tembus ke panggung barongan. Fleksibilitas tingkat dewa.
“Bikin Monumen Siapa yang Bangga, Siapa yang Untung?”
Pembangunan monumen mestinya buat nambah kebanggaan daerah. Tapi di Indonesia, kata “pembangunan” sering banget berubah jadi “penyelewengan.”
Setiap kali muncul proyek “ikonic,” yang ikonik justru markup-nya.
Kalau dulu Reog adalah simbol perlawanan rakyat terhadap keserakahan, sekarang malah dijadiin panggung buat serakah gaya baru.
Singa di kepala barongan tetap gagah tapi pejabat di balik proyeknya malah “main mata.”
Kata KPK, OTT itu sering jadi “pintu masuk” buat ngebongkar kasus lain.
Lucunya, kalau pintunya aja udah proyek, jangan-jangan rumahnya komplek elite bernama “Cluster Korupsi Abadi”?
“Pejabatnya Diduga Korup, Rakyatnya Disuruh Bangga”
Lucu tapi miris: rakyat disuruh bangga sama monumen yang bahkan belum selesai dibangun, padahal anggarannya udah bocor ke mana-mana.
Sementara rakyat kecil masih mikirin harga beras naik, listrik nunggak, dan BPJS gak bisa dipakai.
Setiap kali pejabat ditanya, jawabannya template:
“Kita harus menghormati proses hukum.”
Kalimat paling sopan buat nutupin rasa malu nasional.
Dan yang paling ironis, monumen yang niatnya buat mengenang budaya malah bisa berubah jadi monumen pengingat korupsi berjamaah.
“Kalau Reog Punya Hati, Mungkin Dia Udah Nangis”
Rakyat lagi-lagi jadi penonton setia di drama korupsi lokal.
Monumen belum berdiri, duitnya udah rebahan duluan di rekening yang salah.
Tapi tenang, nanti pas proyek dibuka lagi, bakal ada jargon manis: “Demi kemajuan daerah.”
Padahal yang maju, ya cuma saldo pribadi.
Kalau Reog beneran hidup, mungkin dia bakal bilang sambil ngelempar barongan ke meja rapat,
“Aku gak butuh diabadikan, aku cuma pengen uangku gak dihilangkan.” @dimas




