Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

by dimas
Mei 21, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Perlawanan dari Titik Nol pecah di Yogyakarta saat ratusan mahasiswa menilai reformasi hanya hidup dalam pidato, sementara ketidakadilan terus dipelihara negara.

Tabooo.id: Yogyakarta – Langit menggantung di atas Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis (21/5/2026) siang. Ratusan mahasiswa berdiri rapat sambil membawa poster, pengeras suara, dan keresahan yang lama mereka pendam. Kawasan itu berubah menjadi ruang perlawanan terbuka.

Mereka tidak datang untuk merayakan reformasi. Mereka datang untuk mempertanyakan mengapa 28 tahun reformasi justru melahirkan bentuk baru dari ketidakadilan lama.

Orasi demi orasi dalam perlawanan dari Titik Nol menggema di tengah lalu lintas Malioboro yang melambat. Sebagian pengendara berhenti untuk mendengar. Sebagian lain memilih merekam lewat telepon genggam. Namun, suara mahasiswa sore itu terdengar jelas: rakyat mulai lelah percaya pada perubahan yang tak pernah benar-benar hadir.

Aksi tersebut digelar oleh Social Movement Institute, organisasi non-pemerintah yang menjadi ruang belajar dan konsolidasi gerakan sosial di Yogyakarta. Eko Prasetyo mendirikan lembaga itu sebagai wadah bagi mahasiswa, aktivis muda, dan masyarakat sipil untuk menyusun gerakan sosial.

Aktivis Diteror, Kritik Terus Ditekan

Dalam aksi itu, massa menyinggung berbagai ancaman terhadap aktivis yang terus muncul dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menyebut kasus Andrie Yunus yang mengalami penyiraman air keras sebagai simbol ancaman terhadap suara kritis.

Ini Belum Selesai

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Wamena-Nduga: Jalur Publik Jadi Zona Ancaman

Selain itu, solidaritas mahasiswa dan kawan-kawan dari Papua juga menyoroti intimidasi yang terus menghantui aktivis.

“Kami melihat bagaimana suara-suara yang melawan terus dibungkam. Aktivis diteror, rakyat ditakut-takuti, lalu negara meminta kami percaya bahwa semuanya baik-baik saja,” ujar Andri salah satu peserta aksi dari solidaritas Papua.

Mereka menilai negara semakin sering memakai kekuasaan untuk melindungi kepentingan elite, bukan melindungi masyarakat.

Bagi massa aksi, demokrasi hari ini terasa paradoks. Negara berbicara soal kebebasan, tetapi kekuasaan terus menekan kritik publik.

Papua dan Wajah Kolonialisme Modern

Massa juga membawa isu Papua ke tengah aksi. Para orator menilai kolonialisme modern masih berlangsung di tanah Papua.

Menurut mereka, masyarakat kecil kehilangan tanah dan ruang hidup akibat kepentingan ekonomi serta proyek kekuasaan. Sementara itu, negara terus mengirim aparat dan militer dengan alasan menjaga keamanan.

“Papua dijaga bukan untuk rakyatnya, tapi untuk kepentingan yang ada di atas tanah itu,” tambahnya.

Para mahasiswa juga menilai eksploitasi sumber daya alam di Papua hanya menguntungkan segelintir kelompok. Sebaliknya, masyarakat adat terus menghadapi tekanan dan rasa takut.

Karena itu, mereka menilai negara gagal menjalankan fungsi utamanya sebagai pelindung rakyat.

Anak Muda Harus Menentukan Nasib Sendiri

Ketua panitia yang akrab dipanggil Oca mengatakan aksi tersebut bertujuan menyatukan kekuatan politik mahasiswa dan anak muda.

“Kegiatan ini bertujuan menyatukan kekuatan politik mahasiswa. Banyak pejabat publik dan politikus kita hari ini tidak punya integritas dan kompetensi,” ujar Oca.

Menurutnya, banyak anak muda sebenarnya memiliki gagasan politik alternatif yang lebih segar dan cerdas. Namun, para elite justru mempersempit ruang mereka.

Selain itu, Oca menyinggung penangkapan ribuan anak muda pada Agustus 2025. Ia mengatakan sekitar enam ribu anak muda mengalami penangkapan dalam berbagai gelombang aksi.

“Artinya suara anak muda diperhitungkan dalam negeri ini. Hari ini, di Hari Kebangkitan Nasional, kami berharap ada persatuan suara anak muda untuk menentukan nasib sendiri tanpa bergantung pada pejabat publik yang kolot dan tidak kompeten,” tambahnya.

Rakyat Mulai Kehilangan Kepercayaan

Seorang orator asal Jogja bernama Paul juga menyampaikan keresahan serupa. Namun, ia berbicara dengan nada lebih tenang.

Meski begitu, isi pidatonya terasa tajam.

“Saat ini rakyat mulai kehilangan kepercayaan dan legitimasi terhadap pejabat publik. Akhirnya kita ragu terhadap kebijakan yang mereka buat,” ujar Paul.

Menurutnya, rakyat sebenarnya tidak menolak pemerintah selama kebijakan benar-benar berpihak pada masyarakat.

“Rakyat bukannya tidak mendukung. Kalau kebijakannya baik, ya kita dukung. Tapi rakyat juga bisa menilai apakah kebijakan itu menguntungkan masyarakat atau cuma menguntungkan beberapa orang di dalam sistem,” katanya.

Paul juga menyoroti banyak kritik publik yang hanya berakhir sebagai formalitas. Pemerintah, menurutnya, mendengar kritik tanpa memberi jawaban yang dibutuhkan rakyat.

Karena itu, ia berharap aksi tersebut bisa memantik kembali keberanian anak muda untuk bersuara.

“Kalau semua orang diam, ketidakadilan akan terus dianggap normal,” ujarnya.

Sam Membacakan Puisi tentang Rakyat yang Kelelahan

Seorang orator asal Kediri bernama Sam. Ia tidak langsung berpidato, namun ia memilih membacakan puisi dengan nada pelan namun penuh kemarahan.

Dalam puisinya, Sam menggambarkan rakyat yang terus menghadapi ketidakadilan bertubi-tubi hingga kehilangan tenaga untuk melawan.

Ia juga menyinggung kesewenang-wenangan pejabat yang semakin jauh dari kepentingan rakyat kecil.

“Rakyat dipaksa diam terlalu lama. Ketidakadilan datang bertubi-tubi sampai orang-orang lelah melawan,” ujarnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa acara tersebut menjadi bentuk perlawanan terhadap pejabat yang selama ini tidak memikirkan rakyat.

Suasana sempat hening beberapa detik setelah puisinya selesai.

Di tengah kebisingan kota, kata-kata itu terasa seperti tamparan.

Reformasi yang Belum Pernah Selesai

Aksi di Titik Nol sore itu menunjukkan satu hal penting: sebagian anak muda mulai kehilangan kepercayaan terhadap janji reformasi dalam gelombang perlawanan dari Titik Nol Yogyakarta yang mereka suarakan.

Mereka tidak lagi percaya perubahan akan datang dari pidato pejabat, baliho politik, atau janji kampanye lima tahunan. Karena itulah mereka memilih turun ke jalan.

Bagi mahasiswa, reformasi belum benar-benar selesai. Mereka melihat demokrasi semakin sibuk menjaga citra, tetapi sering gagal menghadirkan keadilan.

Ironisnya, di negeri yang terus berbicara soal demokrasi, suara paling jujur justru muncul dari jalanan.

Ini bukan sekadar aksi mahasiswa.

Ini tanda bahwa generasi muda mulai lelah hidup dalam ketidakadilan yang terus berulang dengan wajah berbeda.

Dan ketika kritik terus dianggap ancaman, pertanyaan paling sederhana akhirnya muncul, demokrasi ini sebenarnya melindungi rakyat, atau hanya menjaga kekuasaan? @dimas

Tags: gerakan mahasiswaKrisis DemokrasiMahasiswa JogjaReformasi 2026Titik Nol Yogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

Pameran 100 Tokoh Sipil di Titik Nol: Ketika Sejarah Kembali Bicara

Pameran 100 Tokoh Sipil di Titik Nol: Ketika Sejarah Kembali Bicara

by dimas
September 1, 2026

Pameran 100 tokoh sipil di Titik Nol Yogyakarta menghadirkan kembali sejarah perjuangan, gagasan, dan seruan menjaga supremasi sipil. Tabooo.id -...

Bangkitlah Kaum Sipil, Kritik Kekuasaan Menggema dari Titik Nol Yogyakarta

Bangkitlah Kaum Sipil, Kritik Kekuasaan Menggema dari Titik Nol Yogyakarta

by dimas
September 1, 2026

Konser dan orasi “Bangkitlah Kaum Sipil” di Titik Nol Yogyakarta menyuarakan supremasi sipil, kritik kekuasaan, sejarah, dan solidaritas kemanusiaan. Tabooo.id...

GERAM Gelar Aksi 27 Agustus di DPR, Bawa 10 Tuntutan

GERAM Gelar Aksi 27 Agustus di DPR, Bawa 10 Tuntutan

by dimas
Agustus 25, 2026

GERAM akan menggelar aksi 27 Agustus 2026 di DPR dengan sekitar 1.000 massa dan membawa 10 tuntutan terkait demokrasi, ekonomi,...

Next Post
Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id