Jumat, November 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
RADIO
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Apakah Selamanya Politik Itu Kejam?

by eko
Mei 28, 2026
in Deep
A A
Home Deep
“Apakah selamanya politik itu kejam?” Iwan Fals menulis pertanyaan itu puluhan tahun lalu lewat lagu “Sumbang”. Namun sampai hari ini, negeri ini belum benar-benar menemukan jawabannya.

Tabooo.id – Setiap pemilu datang dengan janji baru. Politikus berbicara tentang perubahan, kesejahteraan, dan masa depan rakyat. Publik pun kembali berharap politik bisa menjadi lebih manusiawi.

Namun setelah pesta selesai, rakyat sering melihat pola lama kembali terulang.

Janji perlahan menghilang. Elite sibuk berebut pengaruh. Sementara masyarakat kecil kembali menanggung dampaknya.

Padahal politik lahir dari gagasan sederhana: mengatur hidup bersama agar lebih adil.

Sayangnya, dalam praktiknya, politik sering berubah menjadi arena perebutan kuasa.

Setiap periode, publik mendengar slogan besar seperti “demi rakyat”, “perubahan”, atau “masa depan bangsa”. Namun di balik pidato itu, banyak orang merasa hidup mereka tidak benar-benar berubah.

Harga kebutuhan terus naik. Lapangan kerja semakin sulit. Korupsi muncul dengan wajah baru. Akibatnya, rakyat perlahan kehilangan energi untuk berharap.

Ironisnya, politik tetap meminta rakyat untuk percaya.

Yang Berganti Hanya Wajahnya

Di sinilah lagu “Sumbang” terasa menakutkan.

Karena yang berubah sering kali hanya nama tokohnya. Polanya tetap sama.

Dulu rakyat marah kepada elite lama. Sekarang publik marah kepada elite baru. Dulu orang membicarakan penyalahgunaan kekuasaan. Hari ini, publik masih membahas masalah yang sama, hanya lewat platform berbeda.

Media sosial memang membuat kritik lebih cepat viral. Namun di saat yang sama, kemarahan publik juga lebih cepat tenggelam.

Hari ini orang marah. Besok orang lupa. Setelah itu, siklus lama kembali terulang.

Dan politik tampaknya belajar memanfaatkan keadaan itu.

Demokrasi yang Ramai, Tapi Melelahkan

Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa bicara.

Semua orang bisa mengkritik. Semua orang bisa marah.

Namun anehnya, banyak orang justru merasa semakin tidak didengar.

Linimasa penuh debat politik. Televisi penuh adu narasi. Podcast dipenuhi opini. Tetapi di tengah kebisingan itu, rakyat biasa tetap merasa sendirian menghadapi hidupnya.

Politik akhirnya berubah seperti pertunjukan panjang.

Ada drama. Ada konflik, pencitraan, musuh bersama. Tetapi setelah lampu kamera mati, rakyat tetap harus memikirkan biaya sekolah, harga beras, cicilan, dan masa depan yang semakin mahal.

Di titik itu, politik terasa jauh dari manusia.

Saat Rakyat Mulai Kehilangan Kepercayaan

Masalah terbesar bukan hanya korupsi atau konflik elite.

Masalah paling berbahaya muncul ketika publik mulai percaya bahwa keadaan memang tidak akan pernah berubah.

Karena ketika rasa percaya mati, masyarakat mulai terbiasa dengan ketidakadilan.

Orang mulai menganggap korupsi sebagai hal biasa. Kebohongan politik terlihat wajar. Janji kosong berubah menjadi tradisi.

Dan ketika itu terjadi, demokrasi kehilangan jantungnya.

Bukan karena rakyat tidak peduli. Tetapi karena rakyat terlalu sering kecewa.

Ini Bukan Sekadar Politik

Lagu “Sumbang” tidak hanya bicara tentang kekuasaan.

Lagu itu bicara tentang manusia yang terus hidup di bawah tekanan sistem.

Tentang rakyat yang lelah melihat pertunjukan yang sama berulang kali.

Tentang harapan yang terus dipakai sebagai alat kampanye, lalu perlahan ditinggalkan setelah kekuasaan berhasil diraih.

Mungkin itulah alasan kenapa lagu itu masih terasa relevan sampai sekarang.

Karena negeri ini belum benar-benar menyelesaikan pertanyaan yang diajukan Iwan Fals puluhan tahun lalu:

“Apakah selamanya politik itu kejam?”

Dan mungkin, jawabannya bergantung pada satu hal sederhana:

Apakah politik masih melihat rakyat sebagai manusia, atau hanya angka yang dibutuhkan saat musim pemilu datang?@eko

Tags: Iwan FalsLagu IndonesiapolitikPolitik Indonesiasumbang

Kamu Melewatkan Ini

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

Panggung Politik: Ketika Perhatian Mengalahkan Pertanggungjawaban

by dimas
Oktober 8, 2026

Panggung politik kerap mengejar perhatian publik. Namun, di balik sorotan, pertanggungjawaban, kebijakan, dan suara warga tetap harus diuji. Tabooo.id -...

Bobby Nasution dan Gerindra: Ketika Pindah Partai Tak Lagi Jadi Pilihan

Bobby Nasution dan Gerindra: Ketika Pindah Partai Tak Lagi Jadi Pilihan

by eko
Oktober 5, 2026

Bobby Nasution menegaskan tetap di Gerindra dan tak ingin pindah partai lagi. Ia menyebut Gerindra sebagai jalan politiknya. Tabooo.id -...

Radio Online Dunia

◉
TABOOO RADIOVERSE
SATU BUMI · RIBUAN FREKUENSI
RADIO ONLINE
Dimulai dari Indonesia, jelajahi seluruh dunia
Menyiapkan peta dunia…
Putar bumi · Klik titik kota · Dengarkan radio
🌏 INDONESIA FOCUS
JELAJAHI SUARA DUNIA

Temukan frekuensimu.

Pilih kota, lalu dengarkan siarannya.

⌕

Radio pilihan

— stasiun
Memuat direktori radio…
1 / 1
♫
SIAP MENDENGARKAN
Pilih stasiun radio
Jelajahi frekuensi dari seluruh dunia
◖))
Belum ada siaran
Powered by TABOOO · Radioverse v1.2Audio disiarkan oleh stasiun pihak ketiga · Radio Browser · Peta © OpenStreetMap

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
    • Pattern
  • Figures
  • Radioverse

© 2026 Tabooo.id