Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pendidikan Indonesia Sibuk Ganti Sistem, Tapi Lupa Memanusiakan Murid

by dimas
Mei 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Pendidikan Indonesia terus berubah arah. Sistem sibuk mengejar proyek, sementara manusia di dalamnya perlahan kehilangan ruang tumbuh.

Tabooo.id – Di ruang-ruang kelas yang catnya baru, masalah pendidikan Indonesia tetap terasa tua.
Bangunan sekolah memang terus berdiri. Program baru juga terus bermunculan. Namun, arah pendidikan justru semakin kehilangan pijakan.

Semua orang sepakat bahwa pendidikan penting bagi masa depan bangsa. Politikus membicarakannya dalam pidato. Pemerintah memasangnya dalam agenda prioritas. Orang tua menggantungkan harapan pada sekolah.

Namun kenyataannya berbeda.

Banyak kebijakan pendidikan justru lahir tanpa memahami bagaimana manusia belajar, tumbuh, dan menemukan makna hidupnya. Negara sibuk mengejar target administratif, tetapi lupa membangun manusia yang ada di dalam sistem itu sendiri.

Pendidikan yang Terjebak Logika Proyek

Dunia pendidikan kini semakin dekat dengan logika proyek. Pemerintah menghitung angka serapan anggaran, jumlah gedung, hingga capaian program. Sekolah akhirnya bergerak mengikuti ritme birokrasi: cepat, seragam, dan penuh laporan.

Ini Belum Selesai

Sound Horeg Diatur Negara, Setelah Tiga Orang Meninggal

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

Masalahnya, manusia tidak tumbuh seperti mesin produksi.

Anak-anak membutuhkan ruang berpikir, ruang gagal, dan ruang berkembang. Guru juga membutuhkan waktu untuk memahami murid, bukan sekadar menyelesaikan administrasi.

Namun sistem sering memaksa sekolah mengejar formalitas. Kurikulum berganti sebelum sistem sebelumnya benar-benar dipahami. Program baru muncul sebelum sekolah mampu bernapas dengan tenang.

Akibatnya, pendidikan kehilangan arah jangka panjang.

Sibuk Meniru, Lupa Memahami Indonesia

Pemerintah dan banyak lembaga pendidikan sering tergoda meniru model luar negeri. Istilah digitalisasi, inovasi, hingga transformasi pendidikan terus dipakai di berbagai forum.

Sayangnya, banyak kebijakan hanya berhenti di permukaan.

Indonesia memiliki persoalan pendidikan yang jauh lebih rumit. Ketimpangan akses masih besar. Banyak sekolah kekurangan guru. Sebagian daerah bahkan masih kesulitan mendapatkan fasilitas dasar.

Di kota besar, sekolah mulai berbicara tentang kecerdasan buatan dan teknologi digital. Sementara itu, di daerah lain, murid masih berjuang mendapatkan ruang belajar yang layak.

Jurang itu terus melebar.

Pendidikan yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru memperlihatkan ketimpangan baru antara mereka yang punya akses dan mereka yang tertinggal.

Guru Kehilangan Ruang Menjadi Pendidik

Di tengah situasi itu, guru ikut menanggung tekanan besar. Sistem menuntut mereka menjadi pengajar, operator administrasi, sekaligus pelaksana program yang terus berubah.

Banyak guru akhirnya lebih sibuk mengurus laporan dibanding membangun relasi dengan murid.

Padahal pendidikan tidak pernah lahir hanya dari modul dan angka penilaian. Pendidikan tumbuh dari hubungan manusia: cara guru mendengar, memahami, dan membimbing.

Ketika relasi itu hilang, sekolah berubah menjadi ruang formalitas.

Pendidikan Bukan Sekadar Urusan Sekolah

Masalah pendidikan sebenarnya jauh lebih besar daripada urusan kurikulum atau gedung sekolah. Persoalan ini menyangkut arah peradaban bangsa.

Pendidikan seharusnya membentuk keberanian berpikir, empati sosial, kreativitas, dan karakter manusia. Pendidikan juga harus membantu generasi muda memahami realitas hidupnya sendiri sebagai masyarakat Indonesia.

Namun sistem hari ini terlalu sering memaksa anak-anak mengejar standar tanpa memberi ruang memahami makna.

Mereka tumbuh dalam tekanan kompetisi, target nilai, dan tuntutan serba cepat. Banyak anak akhirnya mengenal prestasi, tetapi kehilangan rasa percaya diri dan kebebasan berpikir.

Ini bukan sekadar krisis pendidikan.

Ini krisis cara negara memandang manusia.

Bangsa yang Kehilangan Arah

Bangsa besar tidak runtuh hanya karena masalah ekonomi atau politik. Banyak bangsa runtuh karena gagal mendidik manusianya sendiri.

Di titik itulah persoalan pendidikan Indonesia menjadi jauh lebih serius. Negara terlalu sibuk membangun sistem, tetapi sering lupa mendengar suara manusia di dalamnya.

Padahal pendidikan bukan sekadar urusan angka kelulusan atau proyek pembangunan. Pendidikan adalah pekerjaan peradaban.

Dan sebuah bangsa tidak akan benar-benar maju jika sekolah hanya melahirkan generasi yang patuh, tetapi takut berpikir. @dimas

Tags: Guru IndonesiaKetimpangan PendidikanKrisis PendidikanPendidikan IndonesiaSistem Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

by teguh
September 12, 2026

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan polemik bantuan program digitasasi perangkat digital untuk SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

by teguh
Agustus 24, 2026

Sabtu punya cerita sendiri bagi anak-anak Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Tabooo.id - Pagi atau siang...

Next Post
Melampaui Ketabuan: Mengapa Negeri Ini Takut pada Kejujuran?

Melampaui Ketabuan: Mengapa Negeri Ini Takut pada Kejujuran?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id