Wartonagoro menyebut Tabooology bukan gagasan untuk menyenangkan semua orang. Menurutnya, manusia modern sering terlihat kritis, padahal mereka masih memakai ketakutan sebagai logika. Di tengah bisingnya dunia modern, banyak kepala diam-diam masih menunggu izin untuk berpikir.
Tabooo.id – Orang sekarang gampang mengaku kritis. Timeline penuh opini. Podcast penuh sudut pandang. Semua terlihat sadar. Semua terlihat berani bicara.
Namun menurut Wartonagoro, konseptor Tabooology dan Komisaris PT Tabooo Network Indonesia, banyak manusia modern sebenarnya cuma mengganti bentuk kepatuhan.
Mereka tidak benar-benar berpikir bebas. Mereka hanya lebih pandai menyesuaikan diri.
Ramai Bicara, Belum Tentu Berpikir
Tabooo:
Kenapa Anda merasa Tabooology perlu lahir?
Wartonagoro:
Karena saya melihat satu pola yang terus berulang. Manusia merasa berpikir. Padahal sebagian besar cuma mengulang.
Mereka mengulang opini yang lewat terus di media sosial. Mengulang ketakutan lingkungannya. Mengulang nilai yang tidak pernah benar-benar mereka uji sendiri.
Lama-lama pengulangan itu membuat orang mulai menganggapnya sebagai identitas diri. Padahal belum tentu itu benar-benar pikirannya.
Banyak orang menyebut ketakutan sebagai kebijaksanaan
Tabooo:
Apa masalah terbesar manusia modern menurut Anda?
Wartonagoro:
Rasa takut yang menyamar sebagai logika. Takut berbeda, lalu menyebutnya realistis. Ada juga yang takut kehilangan penerimaan sosial, lalu menganggapnya sebagai kedewasaan.
Padahal kadang itu cuma kepatuhan yang tersamarkan dengan bahasa-bahasa “pintar”.
Yang bikin sedih, banyak orang tidak sadar sedang hidup seperti itu.
Sensor paling berbahaya bukan negara, Tapi Isi kepala sendiri
Tabooo:
Anda sering bicara soal sensor internal. Maksudnya?
Wartonagoro:
Banyak orang merasa dunia luar yang membatasi mereka. Sistem di luar yang mengkebiri keberanian mereka. Padahal sensor paling kuat dan berbahaya ada di dalam kepala sendiri.
Saat seseorang mau bicara jujur, muncul suara kecil:
“Nanti dianggap aneh.”
“Kalau malah bikin masalah gimana?”
“Jangan-jangan orang malah menjauh.”
Akhirnya ia berhenti sendiri sebelum ditekan siapa pun.
Di situ masalahnya. Kadang tidak perlu upaya keras untuk membungkam manusia modern. Mereka sudah membungkam dirinya sendiri terlebih dahulu.
Tabooology bukan motivasi
Tabooo:
Sebagian orang menganggap Tabooology seperti sebuah sistem pengembangan diri.
Wartonagoro:
Bukan. Tabooology bukan motivasi. Saya tidak tertarik menjual kalimat penyemangat kosong.
Tabooology itu alat pembongkaran cara berpikir yang memaksa orang untuk bertanya:
“Ini benar-benar keyakinan saya?”
“Atau saya cuma takut dipandang aneh atau minoritas?”
Dan, saya tahu bahwa pertanyaan seperti itu tidak membuat siapapun nyaman.
Media sekarang terlalu takut kehilangan pasar
Tabooo:
Bicara tentang Tabooo.id yang merupakan salah satu bagian utama dari PT Tabooo Network Indonesia. Apa yang membuat Tabooo.id berbeda dari media lain?
Wartonagoro:
Tabooo.id tidak ingin jadi mesin kebisingan digital. Banyak media sekarang terlalu sibuk mengejar algoritma sampai kehilangan roh-nya. Semuanya dibuat aman. Halus. Tidak menyinggung terlalu jauh.
Akhirnya kontennya cepat lewat. Cepat terlupakan. Padahal sesuatu yang terlalu aman biasanya tidak meninggalkan bekas. Tabooo dibangun untuk membaca realitas lebih dalam dari permukaan berita.
Bisnis yang takut berbeda akhirnya jadi fotokopi
Tabooo:
Kenapa Tabooology juga masuk ke dunia bisnis?
Wartonagoro:
Karena bisnis lahir dari cara berpikir pembuatnya. Kalau pemilik bisnis takut ditolak pasar, brand-nya akan jadi terlalu aman. Kalau terlalu sibuk cari validasi, produknya kehilangan karakter.
Banyak bisnis terlihat hidup secara angka, tapi kosong secara identitas. Mereka cuma mengejar tren baru tiap minggu. Tidak mengambil posisi. Tidak punya keberanian.
Keberanian bukan slogan perusahaan
Tabooo:
Apa prinsip utama yang dipegang PT Tabooo Network Indonesia?
Wartonagoro:
Reality over comfort. Kami memilih realitas dibanding kenyamanan. Kalau ada masalah, kami tidak mau menutupinya demi terlihat baik-baik saja.
Keberanian di Tabooo bukan branding tempelan, tapi sebuah sistem kerja. Karena organisasi yang terlalu takut benturan biasanya pelan-pelan kehilangan nyawa.
Tidak semua orang harus suka Tabooology
Tabooo:
Apakah Anda ingin semua orang menerima Tabooology?
Wartonagoro:
Tidak, dan jangan. Karena kalau semua orang langsung nyaman, berarti Tabooology gagal. Gagasan yang hidup memang harus punya gesekan.
Saya tidak mengkonsep Tabooology untuk membuat semua orang setuju. Melainkan untuk mengganggu manusia yang terlalu lama hidup dalam autopilot.
Keberanian Membongkar Cara Berpikir
Tabooo:
Kalau disimpulkan dalam satu kalimat, inti Tabooology apa?
Wartonagoro:
Tabooology adalah keberanian membongkar cara manusia berpikir sebelum dunia memutuskan isi kepalanya untuk mereka.
Saat Manusia Mulai Takut pada Isi Kepalanya Sendiri
Percakapan dengan Wartonagoro tidak terasa seperti wawancara motivasi. Tidak ada kalimatnya yang berusaha menenangkan dan menyenangkan.
Justru sebaliknya.
Ada banyak bagian yang terasa seperti cermin yang dipasang terlalu dekat.
Mungkin itu sebabnya Tabooology terasa mengganggu bagi sebagian orang. Karena ia tidak langsung menyerang dunia luar. Tabooology mulai dari kepala manusia sendiri. @tabooo




