Di sebuah sekolah berbasis Islam di Kota Pekalongan, seorang remaja keturunan Tionghoa beragama Katolik justru menemukan ruang yang membuatnya bertumbuh. Sekolah itu tidak hanya menerima dirinya, tetapi juga memberi tempat untuk berkembang, Namanya Revanno Adrian Prasetyo.
Tabooo.id – Revanno menorehkan prestasi sebagai lulusan terbaik kedua jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) SMK Muhammadiyah Pekalongan angkatan 2023–2024. Sekolah juga memberinya kesempatan magang ke Jepang melalui program beasiswa. Pihak sekolah menyampaikan capaian itu saat pelepasan siswa kelas XII tahun ajaran 2025–2026 di Hotel Dafam Pekalongan pada Selasa, 12/05/2026.
Namun, cerita ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar prestasi akademik. Publik sering memandang sekolah berbasis agama sebagai ruang eksklusif. Tetapi kisah Revanno justru memunculkan pertanyaan yang lebih penting Apakah Indonesia masih punya ruang hidup bersama di tengah perbedaan?
Dari Anak Pendiam Menjadi Lulusan Terbaik
Ketika pertama kali masuk sekolah, Revanno bukan siswa yang langsung mencuri perhatian.
Musthofa, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Muhammadiyah Pekalongan, mengenalnya sebagai pribadi pendiam dan pemalu. Orang tua Revanno bahkan pernah bercerita bahwa anaknya kurang memiliki semangat belajar saat masih SMP.
Namun, lingkungan sekolah perlahan mengubahnya. Revanno mulai membuka diri. Ia belajar beradaptasi, berteman, dan menemukan rasa nyaman.
“Bahkan keterampilan praktiknya pun baik,” kata Musthofa kepada Kompas.com, Jumat (15/05/2026).
Musthofa melihat perubahan besar pada diri Revanno setelah masuk SMK Muhammadiyah Pekalongan.
“Setelah masuk di SMK Muhammadiyah Pekalongan, sedikit demi sedikit Revanno bisa berbaur dan bergaul dengan teman-temannya.”
Ia melanjutkan:
“Revanno nyaman dan tidak merasa adanya perbedaan dan semangat belajarnya sangat tinggi. Revanno hobi modifikasi sepeda motor.”
Cerita itu memang tampak sederhana. Tapi di Indonesia yang masih sering ribut soal identitas, rasa nyaman sering berubah menjadi sesuatu yang mahal. Apalagi bagi siswa minoritas yang belajar di sekolah berbasis agama mayoritas.
Sekolah Agama Harus Eksklusif? Belum Tentu
Banyak orang masih memandang sekolah agama sebagai ruang tertutup. Sekolah Islam hanya cocok untuk Muslim. Sekolah Katolik hanya nyaman untuk Nasrani.
Persepsi itu tumbuh lama dan terus berulang di ruang publik. Tetapi SMK Muhammadiyah Pekalongan menunjukkan sisi yang berbeda.
Sekolah tidak mewajibkan siswa non-Muslim mengikuti pelajaran agama Islam. Pihak sekolah justru menyusun jadwal dan menghadirkan guru sesuai keyakinan siswa.
“Saat pembelajaran agama Islam, siswa dibebaskan atau tidak diwajibkan mengikuti pembelajaran. Dijadwalkan waktu dan guru khusus untuk mendapat pembelajaran agama yang dianutnya,” jelas Musthofa.
Revanno mengikuti pendidikan agama Katolik di SMAN 3 Pekalongan.
Sekolah tidak meminta Revanno meninggalkan identitasnya. Sebaliknya, sekolah memberi ruang agar ia tetap menjalankan keyakinannya.
Di titik ini, toleransi berhenti menjadi slogan. Toleransi berubah menjadi praktik nyata.
Karena toleransi tidak hidup di baliho atau pidato seremonial. Toleransi hidup ketika seseorang tetap bisa merasa aman tanpa harus menjadi sama.
Pendidikan Lintas Iman: Pilihan atau Kebutuhan?
Cerita Revanno tidak berhenti sebagai kisah inspiratif. Kisah ini menyentuh pertanyaan yang lebih besar tentang arah pendidikan Indonesia.
Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Azyumardi Azra (alm.), pernah menekankan pentingnya pendidikan multikultural untuk menjaga masyarakat plural. Menurutnya, sekolah harus melatih anak hidup bersama dalam keberagaman, bukan memperlebar jarak identitas.
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Fathur Rokhman, juga beberapa kali mengingatkan bahwa interaksi sosial sejak dini membantu anak membangun empati dan mengurangi prasangka.
Masalahnya, Indonesia masih sering terjebak dalam paradoks. Kita menghafal sila ketiga Pancasila, tetapi masih mudah curiga pada perbedaan.
Padahal sekolah seharusnya menjadi laboratorium pertama untuk belajar hidup bersama.
Sekolah bukan tempat mencari siapa paling benar. Sekolah mestinya mengajarkan cara hidup berdampingan tanpa rasa takut.
Ini Bukan Sekadar Kisah Revanno. Ini Soal Indonesia
SMK Muhammadiyah Pekalongan juga mengajarkan Pendidikan Pancasila, toleransi beragama, dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Musthofa menegaskan bahwa sekolah memberi ruang yang sama kepada semua siswa tanpa melihat agama maupun latar belakang sosial.
“Di SMK Muhammadiyah Pekalongan tidak membeda-bedakan latar belakang dan agama. Jika memang anak tersebut berprestasi kita apresiasi, tanpa pandang bulu,” ujarnya.
Tahun ini, sekolah mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya, seorang siswa non-Islam berhasil lulus sebagai salah satu siswa terbaik sekaligus memperoleh kesempatan magang ke Jepang. Di titik itu, cerita Revanno berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Ini bukan sekadar kisah seorang siswa Katolik yang sukses di sekolah Muhammadiyah. Ini potret kecil tentang cara Indonesia bertahan.
Karena toleransi sejati tidak muncul saat semua orang sama. Toleransi hadir ketika perbedaan datang, lalu semua orang tetap saling menghormati.
Dan ironisnya, pelajaran itu justru muncul dari tempat yang sering orang anggap eksklusif.
Kalau sekolah agama saja bisa membuka ruang hidup bersama, kenapa masyarakat kita masih sering gagal melakukannya?. @teguh





