Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

by dimas
Mei 13, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Pajak kendaraan Jawa Barat resmi dihapus dan diganti sistem jalan berbayar digital. Solusi lebih adil atau justru beban baru bagi warga?

Tabooo.id: Reality – Langit Bandung masih mendung ketika Dedi Mulyadi berdiri di Gedung Sate, Rabu (13/5/2026). Di depan publik, ia mengumumkan sesuatu yang selama ini terdengar seperti wacana liar Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghapus Pajak Kendaraan Bermotor tahunan. Sebagai gantinya, warga akan membayar ketika benar-benar melintas di jalan provinsi.

Kebijakan itu langsung mengguncang percakapan publik di Jawa Barat. Sebagian warga memuji langkah itu sebagai terobosan berani. Namun sebagian lain khawatir pemerintah hanya memindahkan beban dengan nama baru.

“Pajak kendaraan bermotor dihilangkan, diganti dengan jalan berbayar, masuk jalan provinsi yang kualitasnya setara jalan tol, baru bayar.” ujar Dedi.

Dari Pajak Tahunan ke Sistem “Pay-as-You-Use”

Selama puluhan tahun, pemilik kendaraan tetap membayar PKB meski mereka jarang memakai kendaraan. Banyak warga menganggap sistem itu tidak adil karena pemerintah menyamakan kendaraan aktif dengan kendaraan yang hanya tersimpan di garasi.

Kini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencoba membalik logika lama itu.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Siapa yang memakai jalan, dia yang membayar.

Dedi menyebut skema baru itu sebagai sistem “pay-as-you-use”. Artinya, biaya muncul berdasarkan intensitas penggunaan jalan provinsi. Pengendara yang sering melintas akan membayar lebih besar dibanding warga yang jarang keluar rumah.

Bagi sebagian warga, konsep itu terasa lebih masuk akal. Namun warga lain mulai mempertanyakan satu hal penting: apakah jalan umum perlahan berubah menjadi ruang berbayar?

Jalan Provinsi Mau Dibuat “Rasa Tol”

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah syarat sebelum menjalankan kebijakan ini. Dedi mengklaim seluruh ruas jalan provinsi kini memiliki kualitas setara jalan tol.

Pemerintah memperbaiki aspal jalan, membangun drainase, memasang CCTV, dan memperkuat penerangan jalan umum. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan ambulans, mobil derek, pemadam kebakaran, hingga pos pengamanan terpadu di sejumlah titik.

Melalui langkah itu, pemerintah ingin menunjukkan bahwa biaya yang dibayar pengguna sebanding dengan layanan yang mereka terima.

Masalahnya, warga tidak hanya bicara soal kualitas jalan. Mereka juga membicarakan akses dan biaya hidup.

Bagi masyarakat kelas pekerja, jalan bukan simbol kemewahan. Jalan menjadi kebutuhan harian untuk mencari nafkah dan bertahan hidup.

Sensor Digital dan Jalan Tanpa Gerbang

Pemerintah tidak akan memakai gerbang tol konvensional dalam sistem baru ini. Sebagai gantinya, pemerintah menggunakan sensor digital otomatis untuk membaca kendaraan yang melintas.

Teknologinya menyerupai sistem road pricing di sejumlah negara maju. Sensor akan mendeteksi kendaraan tanpa menghentikan arus lalu lintas.

“Teknologinya sudah ada, di negara-negara lain sudah ada,” kata Dedi.

Namun publik mulai mempertanyakan kesiapan sistem digital itu menghadapi lalu lintas Jawa Barat yang padat dan kompleks.

Sebab kebijakan berbasis teknologi sering terlihat rapi di atas kertas, tetapi sering goyah ketika bertemu kondisi lapangan.

Kendaraan Listrik Tak Lagi “Gratis Jalan”

Peningkatan jumlah kendaraan listrik juga mendorong lahirnya kebijakan ini. Selama ini, pemerintah membebaskan kendaraan listrik dari PKB sebagai bentuk insentif.

Akibatnya, muncul ketimpangan baru. Pengguna kendaraan listrik tetap memakai jalan, tetapi tidak ikut menyumbang lewat pajak tahunan.

Melalui sistem jalan berbayar, semua kendaraan akan tetap berkontribusi sesuai intensitas penggunaan jalan, termasuk kendaraan listrik.

Di titik ini, pemerintah mencoba mengubah cara pandang lama tentang pajak kendaraan. Pemerintah tidak lagi menghitung kepemilikan kendaraan, tetapi menghitung konsumsi infrastruktur secara langsung.

Rp3,5 Triliun Dipertaruhkan

Satu angka besar membuat kebijakan ini terasa berani Rp3,5 triliun.

Angka itu berasal dari Pendapatan Asli Daerah Jawa Barat melalui PKB setiap tahun. Selama ini, sektor tersebut menjadi salah satu tulang punggung keuangan daerah.

Kini, pemerintah mempertaruhkan sumber pendapatan itu demi sistem baru.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat optimistis pemasukan dari jalan berbayar mampu menutup bahkan melampaui angka tersebut. Pemerintah mengandalkan tingginya mobilitas warga di provinsi dengan jumlah kendaraan terbanyak di Indonesia.

Namun kritik mulai bermunculan.

Sejumlah pengamat meminta pemerintah menjelaskan tarif, mekanisme pengawasan, dan perlindungan bagi masyarakat kecil yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja.

Ini Bukan Sekadar Pajak, Tapi Cara Baru Negara Menghitung Mobilitas

Kebijakan ini bukan sekadar soal PKB yang hilang atau jalan yang berubah menjadi berbayar.

Kebijakan ini menunjukkan cara baru pemerintah melihat mobilitas masyarakat.

Dulu, negara menarik uang dari kepemilikan kendaraan. Sekarang, negara mulai menghitung aktivitas perjalanan warga secara langsung lewat sistem digital.

Di satu sisi, konsep ini terdengar lebih adil. Namun di sisi lain, banyak warga mulai khawatir terhadap akses publik, biaya hidup, dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi di kota-kota yang belum memiliki transportasi umum memadai.

Bagi warga yang setiap hari menempuh perjalanan panjang demi bekerja, biaya jalan bisa berubah menjadi pengeluaran baru yang perlahan terasa berat.

Dan seperti banyak kebijakan besar lainnya, pertanyaan utamanya bukan cuma “apakah ini modern?”

Tapi: modern untuk siapa? @dimas

Tags: Dedi MulyadiJalan BerbayarPajak Kendaraan BermotorPKB DihapusRoad Pricing Jawa BaratTransportasi Jawa Barat

Kamu Melewatkan Ini

Lowongan Kerja Baru: Pemburu Begal, Gaji Sampai Rp50 Juta

Lowongan Kerja Baru: Pemburu Begal, Gaji Sampai Rp50 Juta

by teguh
Juli 30, 2026

Ketika Negara Menawarkan Bonus untuk Rasa Aman dan lowongan Kerja baru ini tidak datang dari perusahaan. Rasa takut terhadap begal...

Negara Kehabisan Rasa Aman? Ketika Warga Diajak Menangkap Begal

Negara Kehabisan Rasa Aman? Ketika Warga Diajak Menangkap Begal

by teguh
Juli 30, 2026

Rasa aman seharusnya menjadi layanan paling mendasar yang negara berikan kepada setiap warga. Namun ketika pemerintah menawarkan hadiah hingga puluhan...

Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi, Solusi atau Masalah Baru?

Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi, Solusi atau Masalah Baru?

by dimas
Juli 24, 2026

Sayembara tangkap begal yang digagas Dedi Mulyadi memicu perdebatan. Di tengah maraknya kejahatan jalanan, muncul pertanyaan apakah langkah tersebut menjadi...

Next Post
Status IKN Diperdebatkan, Indonesia Sedang Membangun Masa Depan atau Kebingungan?

Status IKN Diperdebatkan, Indonesia Sedang Membangun Masa Depan atau Kebingungan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id