Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ledakan di Jantung Islamabad: Ketika Bom, Ideologi, dan Politik Berkelindan di Ibu Kota

by dimas
November 12, 2025
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Hujan belum reda ketika suara ledakan memecah langit Islamabad, pada Selasa (11/11/2025). Di dekat gedung pengadilan distrik, mobil-mobil terbakar seperti lilin dalam badai. Puluhan orang berlari, sebagian menjerit, sebagian tak sempat menyadari bahwa hidup mereka baru saja direnggut oleh seseorang yang percaya dirinya sedang menuju surga.

Kelompok Taliban Pakistan, atau Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Dua belas orang tewas, dua puluh tujuh lainnya luka-luka. Ini bukan sekadar berita duka ini sinyal keras bahwa ibukota yang selama ini dianggap relatif aman, kini kembali berdarah.

Bom yang Meledak, dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

TTP mengklaim targetnya jelas: hakim, pengacara, dan pejabat yang “tidak menegakkan hukum Islam versi mereka.” Dalam pernyataan yang dikutip AFP, kelompok itu juga mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan sampai pemerintah Pakistan tunduk.

Serangan itu terjadi di luar kompleks pengadilan, di tengah rutinitas hukum yang biasanya membosankan. Tapi hari itu, keadilan diserang oleh ideologi yang tak mengenal meja hijau.

Seorang pengacara, Mohammed Shahzad Butt, yang sedang bersiap menghadiri sidang, menggambarkan suasana mencekam:

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

“Ada ledakan besar. Semua orang langsung berlarian ke dalam gedung. Saya melihat sedikitnya lima jasad tergeletak di gerbang depan.”

Api melahap kendaraan, kaca berserakan di jalan. Di balik asap yang menebal, polisi dan pemadam kebakaran berjuang memadamkan api, sementara paramiliter menutup area kejadian. Suasana seperti film perang, tapi tanpa pemeran utama hanya korban dan kepanikan.

Pakistan dan Bayang-Bayang Afghanistan

Yang membuat situasi ini semakin panas, adalah tuduhan Pakistan terhadap tetangganya sendiri. Menteri Dalam Negeri, Mohsin Naqvi, menuding bahwa “pelaku serangan di Wana, dekat perbatasan Afghanistan, adalah warga negara Afghanistan.”

Artinya jelas: Islamabad ingin dunia tahu bahwa masalah ini bukan hanya tentang terorisme dalam negeri tapi tentang bagaimana Afghanistan (lagi-lagi) jadi tempat persembunyian kelompok bersenjata.

Ini bukan pertama kalinya Pakistan dan Afghanistan saling lempar tuduhan. Setelah Taliban kembali berkuasa di Kabul pada 2021, hubungan kedua negara memburuk drastis. Pakistan menuduh Taliban Afghanistan memberi suaka pada TTP, sementara Kabul membalas dengan menuduh Islamabad “mengintervensi urusan dalam negeri.”

Pertempuran di perbatasan pada Oktober lalu menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi, termasuk warga sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutnya sebagai “salah satu eskalasi paling berbahaya di Asia Selatan tahun ini.”

Ketika Ideologi Bertemu Kepentingan

Serangan di Islamabad ini tak bisa dilihat hanya sebagai aksi ekstremisme. Ini juga pertunjukan politik tentang siapa yang mengontrol narasi keamanan di kawasan.
Pemerintah Pakistan terjepit di antara tekanan internasional untuk menjaga stabilitas dan tekanan internal dari kelompok garis keras yang menuduh mereka “terlalu sekuler.”

Sementara itu, Taliban Afghanistan sedang berusaha mendapatkan legitimasi global dan serangan TTP membuat posisi mereka semakin rumit. Kabul menyangkal terlibat, tapi bayangan ideologi yang sama sulit dihapus dari persepsi publik.

Pertanyaannya: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kekacauan ini?
Bagi TTP, setiap ledakan adalah panggung propaganda. Bagi pemerintah Pakistan, setiap korban adalah alasan untuk memperkuat kendali keamanan. Dan bagi warga biasa, seperti pengacara yang kehilangan rekan kerja di pengadilan itu semuanya hanyalah kehilangan yang tak pernah diganti.

Dunia yang Terbiasa pada Ledakan

Yang paling menakutkan dari berita seperti ini bukan lagi ledakannya tapi kebiasaan kita membaca dan melupakannya. Dunia sudah terlalu terbiasa dengan headline tentang bom bunuh diri.

Hari ini Islamabad, besok mungkin Kabul, lalu Delhi, dan entah di mana lagi.
Setiap ledakan menambah satu bab baru dalam kisah panjang manusia yang terus gagal berdamai dengan perbedaan tafsir dan kekuasaan.

Seperti yang pernah dikatakan jurnalis veteran Pakistan, Hamid Mir:

“Kami sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang bom. Tapi yang paling berbahaya bukan bomnya melainkan ide bahwa ini semua sudah biasa.”

Refleksi

Pada akhirnya, serangan di Islamabad bukan hanya tentang TTP atau Taliban. Ini juga tentang dunia yang membiarkan ideologi ekstrem tumbuh subur di tanah ketidakadilan.
Tentang negara yang sibuk menyalahkan tetangga, tapi lupa merawat warganya sendiri.

Dan mungkin, ini juga tentang kita pembaca yang menggulir berita dengan kopi pagi, menatap headline “12 tewas di Islamabad” lalu beralih ke tren hiburan tanpa sempat berhenti sejenak.

Sebab di balik setiap angka korban, selalu ada seseorang yang semalam masih percaya hari ini akan baik-baik saja. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

by Naysa
Mei 13, 2026

Reformasi 1998 tidak hanya menjatuhkan rezim Orde Baru, tapi juga membuka janji besar tentang demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia....

Next Post
Natalius Pigai: Kasus Marsinah Bukan Urusan Kementerian HAM, Serahkan ke Komnas HAM dan Polri

Natalius Pigai: Kasus Marsinah Bukan Urusan Kementerian HAM, Serahkan ke Komnas HAM dan Polri

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id