Kalau satu film seperti Mortal Kombat II bikin kritikus mengeluh tapi fans malah tepuk tangan, siapa yang sebenarnya paling benar penonton atau pengamat film?.
Tabooo.id – Mortal Kombat II sekarang memicu perdebatan itu. Film adaptasi gim legendaris ini memecah opini. Banyak kritikus menyerang kualitas cerita dan emosi film. Sebaliknya, para penggemar justru menikmati nostalgia, karakter ikonik, dan pertarungan brutal yang mereka tunggu.
Laman Rotten Tomatoes yang diakses Jumat (8/5/2026) mencatat Mortal Kombat II meraih 70 persen Tomatometer dari 99 ulasan kritikus. Sementara itu, penonton memberi skor jauh lebih tinggi, yakni 91 persen Popcornmeter.
Selisih angka itu bukan sekadar statistik. Film ini membuka pertarungan klasik: kualitas cerita versus kepuasan fans.
Kritikus Serang Cerita, Emosi, dan Arah Film
Sutradara Simon McQuoid kembali menggarap sekuel ini. Namun, beberapa kritikus menilai ia terlalu fokus menyenangkan penggemar hingga melupakan kedalaman cerita.
Kritikus Wall Street Journal, Kyle Smith, melontarkan kritik paling tajam.
“Sayangnya, karena tidak ada pertaruhan emosional, adegan aksinya sama membosankannya dengan melihat tomat dimasukkan ke dalam mesin pengolah makanan. Yang kurang adalah hati.”
Smith menilai film ini gagal membuat penonton peduli pada karakter. Banyak aksi brutal muncul di layar, tetapi emosi tidak ikut bergerak.
Alison Willmore dari New York Magazine juga menyindir pendekatan McQuoid.
“Mortal Kombat II hanyalah McQuoid yang memutar tombol besar bertuliskan ‘fan service’ sambil melihat kembali reaksi penonton uji coba.”
Jake Wilson dari Sydney Morning Herald bahkan mengkritik alur film yang terasa absurd dan tidak menjaga ritme emosi antaradegan.
Sementara Alison Foreman dari IndieWire menilai McQuoid kehilangan momentum yang dulu membuat film pertamanya terasa segar.
Fans Justru Bilang: “Ya Emang Ini Mortal Kombat”
Namun, banyak penonton tidak datang ke bioskop untuk mencari drama emosional ala film festival.
Mereka datang untuk melihat karakter favorit bertarung brutal, menyaksikan fatality berdarah, dan mendengar lagu tema legendaris yang membangkitkan nostalgia.
Di titik itu, Mortal Kombat II tampaknya berhasil memenuhi ekspektasi.
Kritikus Empire Magazine, Amon Warmann, memuji variasi pertarungan yang tetap terasa seru.
“Terdapat cukup variasi dan kreativitas untuk membuat setiap pertarungan tetap menghibur.”
Meagan Navarro dari Bloody Disgusting juga memberi catatan positif pada babak akhir film.
“Untungnya, Mortal Kombat II diakhiri dengan cara yang jauh lebih memuaskan dengan pertempuran terakhir yang lebih intim.”
Film ini juga membawa kembali wajah-wajah lama seperti Joe Taslim, Lewis Tan, Jessica McNamee, Mehcad Brooks, Ludi Lin, dan Tadanobu Asano. Selain itu, Karl Urban ikut bergabung bersama Adeline Rudolph sebagai Kitana dan Tati Gabrielle sebagai Jade.
Fan Service atau Film Bagus? Kenapa Harus Pilih Satu?
Masalahnya, film adaptasi gim hampir selalu menghadapi jebakan yang sama.
Kalau studio terlalu mengejar kualitas artistik, fans marah. Tapi kalau studio terlalu melayani nostalgia, kritikus menyerang cerita.
Pengamat budaya pop dari University of Southern California, Henry Jenkins, pernah menjelaskan bahwa fandom modern ikut membentuk arah industri hiburan. Penggemar sekarang tidak lagi duduk diam. Mereka ikut menentukan ekspektasi sebuah karya.
Karena itu, studio film modern sering menghadapi pilihan sulit memuaskan pengamat atau menjaga loyalitas komunitas fans.
Dan Mortal Kombat II tampaknya memilih kubu dengan sangat jelas.
Ini Bukan Sekadar Film, Ini Soal Ekspektasi
Lucunya, perdebatan seperti ini terus muncul di hampir semua franchise besar. Penonton mengejar nostalgia. Studio mengejar keuntungan. Kritikus mengejar kualitas.
Tapi pertanyaannya sederhana apakah film selalu harus memuaskan kritikus kalau penonton sudah merasa puas?
Mortal Kombat II mungkin tidak sempurna. Namun, kalau fans keluar bioskop sambil tersenyum setelah melihat fatality brutal favorit mereka, film ini mungkin sudah mencapai tujuannya.
Atau jangan-jangan, kita terlalu sering meminta film adaptasi gim menjadi sesuatu yang memang tidak pernah mereka janjikan?. @teguh





