Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Boven Digoel: Nasibmu Dulu dan Kini

by Tabooo
Mei 11, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Boven Digoel, nama yang menghantui para tokoh pergerakan dan pemberontakan di masa lalu. Dulu pemerintah kolonial Belanda membuang orang-orang yang mereka anggap berbahaya di tempat ini. Di pedalaman Papua itu, Belanda memanfaatkan hutan, rawa, penyakit, dan isolasi untuk menghancurkan gerakan politik tanpa banyak kegaduhan.
Boven Digoel: Nasibmu Dulu dan Kini
Boven Digoel: Sejarah Kamp Pengasingan Belanda dan Konflik Papua Kini (Infografis: Tabooo)

Tabooo.id – Boven Digoel dulu menghantui para tokoh pergerakan dan orang-orang yang melawan kekuasaan kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan wilayah terpencil di Papua itu sebagai pusat pengasingan politik paling terkenal pada masanya.

Hampir seabad kemudian, konflik hutan adat dan ekspansi industri kembali membawa nama Boven Digoel ke permukaan. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah siapa yang selalu menanggung harga sebuah kekuasaan.

Boven Digoel bukan sekadar nama daerah di Papua Selatan. Pemerintah kolonial Belanda pernah menjadikan tempat itu sebagai lokasi pengasingan bagi orang-orang yang mereka anggap terlalu berbahaya.

Jauh sebelum isu sawit, PSN, dan konflik hutan adat memenuhi pemberitaan, pemerintah kolonial Belanda lebih dulu menjadikan Boven Digoel sebagai panggung kekuasaan mereka.


Di wilayah terpencil Papua itu, pemerintah Hindia Belanda menjalankan pengasingan politik untuk membungkam orang-orang yang mereka anggap berbahaya.

Tempat Buangan yang Sengaja Dipilih

Pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membangun kamp pengasingan politik Boven Digoel pada 1927, setelah pemberontakan komunis pecah di Jawa dan Sumatra setahun sebelumnya. Mereka mencari tempat yang jauh, sulit dijangkau, dan cukup mengerikan untuk menghancurkan harapan para aktivis pergerakan.

Ini Belum Selesai

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

Tiga Peserta Tewas, Latihan Militer Manajer Koperasi Dipertanyakan

Pilihan itu akhirnya jatuh ke Tanah Merah, wilayah pedalaman di hulu Sungai Digoel. Lokasinya sangat terpencil. Sungainya panjang. Hutan mengelilingi hampir seluruh wilayah. Selain itu, rawa dan malaria membuat banyak orang sulit bertahan lama.

Belanda sadar alam bisa menjadi penjara yang jauh lebih efektif dibanding tembok beton.

Karena itulah, mereka tidak perlu membangun sistem pengamanan besar seperti penjara di Jawa. Medan alam Boven Digoel sudah cukup membuat tahanan merasa terputus dari dunia luar.

Pengasingan Politik Tanpa Kepastian

Pemerintah kolonial tidak selalu membawa para tahanan ke meja hijau. Banyak tokoh pergerakan justru masuk ke Boven Digoel lewat kewenangan administratif bernama exorbitante rechten.

Lewat aturan itu, gubernur jenderal bisa membuang seseorang atas nama keamanan kolonial tanpa proses pengadilan pidana biasa.

Akibatnya, banyak tahanan hidup dalam ketidakpastian. Mereka tidak tahu kapan bebas. Mereka juga tidak tahu apakah keluarga mereka masih bisa bertemu lagi.

Situasi itu membuat pengasingan terasa lebih menakutkan.

Orang tidak hanya kehilangan kebebasan. Mereka juga kehilangan arah hidup.

Digoelitis dan Kesunyian yang Menghancurkan

Boven Digoel melahirkan istilah yang cukup dikenal dalam sejarah pengasingan politik Indonesia, yaitu Digoelitis.

Istilah itu merujuk pada tekanan mental akibat isolasi panjang, rasa putus asa, dan kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Malaria menyerang tubuh para tahanan. Namun kesunyian menyerang pikiran mereka.

Hari-hari berjalan lambat di tengah hutan, sungai, dan rawa. Selain itu, banyak tahanan harus hidup jauh dari keluarga tanpa kepastian masa depan.

Di titik tertentu, sebagian orang mulai kehilangan semangat hidup.

Bagian paling mengerikan justru muncul dari situ. Boven Digoel tidak selalu memakai kekerasan fisik untuk menghancurkan manusia. Tempat itu memakai jarak, waktu, dan rasa sepi.

Hatta dan Sjahrir Pernah Hidup di Sana

Boven Digoel juga menyimpan nama-nama besar dalam sejarah Indonesia.

Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pernah menjalani pengasingan di wilayah itu pada pertengahan 1930-an. Meski hidup dalam tekanan, keduanya tetap membaca, berdiskusi, dan membangun ruang berpikir.

Hatta menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Sebaliknya, ia memilih mengajar dan menulis selama masa pengasingan.

Sjahrir juga terus menjaga diskusi politik di tengah kondisi yang serba terbatas.

Ironisnya, Belanda ingin mematahkan gerakan lewat pengasingan. Namun sebagian tahanan justru mengubah Boven Digoel menjadi ruang untuk memperkuat pemikiran mereka.

Tekanan ternyata tidak selalu berhasil membunuh gagasan.

Tokoh-Tokoh yang Jarang Dibicarakan

Selain Hatta dan Sjahrir, banyak nama lain pernah hidup di kamp pengasingan itu. Ada Sayuti Melik, Ali Archam, Mohammad Bondan, Maskun, sampai Thomas Nayoan.

Thomas Nayoan dikenal karena upayanya melarikan diri lewat jalur sungai menuju wilayah Australia. Perjalanan itu sangat berbahaya karena hutan lebat, penyakit, dan patroli kolonial mengelilingi kawasan tersebut.

Kisah itu menunjukkan satu hal penting.

Boven Digoel bukan hanya lokasi terpencil. Pemerintah kolonial memang merancang tempat itu agar manusia merasa tidak punya jalan keluar.

Kamp Pengasingan Berakhir, Tapi Bayangannya Tinggal

Situasi Perang Dunia II perlahan mengubah kondisi Boven Digoel. Ketika Jepang mulai mengancam Hindia Belanda, pemerintah kolonial memindahkan sebagian tahanan ke Australia sekitar 1943.

Sejak saat itu, fungsi kamp pengasingan mulai berakhir.

Namun sejarah tidak benar-benar meninggalkan wilayah tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah membentuk Kabupaten Boven Digoel pada 2002. Status wilayah berubah menjadi pusat administrasi di Papua Selatan.

Meski begitu, bayang-bayang masa lalu tetap melekat.

Orang masih mengingat Boven Digoel sebagai simbol pengasingan, ketakutan, dan kontrol kekuasaan.

Dari Pengasingan Politik ke Tekanan Ekologis

Hari ini, konflik di Boven Digoel muncul dalam bentuk berbeda.

Jika dulu pemerintah kolonial mengasingkan manusia, sekarang masyarakat adat menghadapi tekanan terhadap ruang hidup mereka sendiri.

Suku Awyu memandang hutan sebagai “rekening abadi”. Dari hutan itulah mereka mendapatkan makanan, obat-obatan, sagu, ikan, dan sumber kehidupan lain.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi sawit dan proyek besar mulai masuk ke Papua Selatan. Salah satu yang paling banyak mendapat sorotan adalah Proyek Tanah Merah.

Investigasi The Gecko Project menyebut proyek itu sebagai salah satu ancaman besar terhadap hutan hujan Papua dan cadangan karbon dunia.

Konfliknya memang berbeda dibanding era kolonial. Akan tetapi, tekanan terhadap ruang hidup tetap terasa kuat.

Dulu Belanda memisahkan aktivis dari masyarakat. Sekarang masyarakat adat mulai merasa jauh dari hutannya sendiri.

Sejarah yang Belum Selesai

Boven Digoel mengajarkan satu hal penting, bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja lewat senjata atau penjara.

Terkadang kekuasaan bekerja lewat jarak. Di waktu lain, ia muncul dalam bentuk aturan. Selain itu, peta, izin, dan proyek pembangunan sering berubah menjadi alat paling sunyi untuk mengendalikan ruang hidup manusia.

Karena itu, sejarah Boven Digoel tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Wilayah itu terus muncul dalam berbagai bentuk konflik baru. Mulai dari pengasingan politik di era kolonial sampai pertarungan hutan adat di masa sekarang.

Anehnya, posisi masyarakat lokal sering tetap sama. Mereka berada di sisi paling rentan ketika kekuasaan mulai bergerak terlalu jauh.

Nama yang Terus Mengingatkan

Banyak orang mungkin melihat Boven Digoel hanya sebagai bagian kecil dari sejarah Indonesia. Padahal tempat itu menyimpan cerita panjang tentang cara kekuasaan bekerja terhadap manusia.

Dulu pemerintah kolonial memakai pengasingan untuk membungkam suara politik. Kini tekanan hadir lewat perebutan ruang hidup, investasi besar, dan perubahan bentang alam Papua Selatan.

Sejarahnya memang berubah bentuk. Namun tekanannya terasa tetap dekat. @tabooo

Tags: Boven DigoelPapua SelatanSuku AwyuTabooo Deep

Kamu Melewatkan Ini

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

by Tabooo
Juni 15, 2026

Mahasiswa turun ke jalan pada 12 Juni 2026 bukan hanya karena satu kebijakan. Mereka membawa kegelisahan yang lebih dalam tentang...

Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat

Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat

by Tabooo
Juni 10, 2026

Rupiah melemah tidak hanya terasa di pasar uang. Ia masuk ke dapur, pom bensin, toko elektronik, bengkel, dan meja makan...

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Next Post
Salmokji: Mengubah Tempat Nyata Jadi Destinasi Viral

Salmokji: Mengubah Tempat Nyata Jadi Destinasi Viral

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id