Boven Digoel, nama yang menghantui para tokoh pergerakan dan pemberontakan di masa lalu. Dulu pemerintah kolonial Belanda membuang orang-orang yang mereka anggap berbahaya di tempat ini. Di pedalaman Papua itu, Belanda memanfaatkan hutan, rawa, penyakit, dan isolasi untuk menghancurkan gerakan politik tanpa banyak kegaduhan.

Tabooo.id – Boven Digoel dulu menghantui para tokoh pergerakan dan orang-orang yang melawan kekuasaan kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan wilayah terpencil di Papua itu sebagai pusat pengasingan politik paling terkenal pada masanya.
Hampir seabad kemudian, konflik hutan adat dan ekspansi industri kembali membawa nama Boven Digoel ke permukaan. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah siapa yang selalu menanggung harga sebuah kekuasaan.
Boven Digoel bukan sekadar nama daerah di Papua Selatan. Pemerintah kolonial Belanda pernah menjadikan tempat itu sebagai lokasi pengasingan bagi orang-orang yang mereka anggap terlalu berbahaya.
Jauh sebelum isu sawit, PSN, dan konflik hutan adat memenuhi pemberitaan, pemerintah kolonial Belanda lebih dulu menjadikan Boven Digoel sebagai panggung kekuasaan mereka.
Di wilayah terpencil Papua itu, pemerintah Hindia Belanda menjalankan pengasingan politik untuk membungkam orang-orang yang mereka anggap berbahaya.
Tempat Buangan yang Sengaja Dipilih
Pilihan itu akhirnya jatuh ke Tanah Merah, wilayah pedalaman di hulu Sungai Digoel. Lokasinya sangat terpencil. Sungainya panjang. Hutan mengelilingi hampir seluruh wilayah. Selain itu, rawa dan malaria membuat banyak orang sulit bertahan lama.
Belanda sadar alam bisa menjadi penjara yang jauh lebih efektif dibanding tembok beton.
Karena itulah, mereka tidak perlu membangun sistem pengamanan besar seperti penjara di Jawa. Medan alam Boven Digoel sudah cukup membuat tahanan merasa terputus dari dunia luar.
Pengasingan Politik Tanpa Kepastian
Lewat aturan itu, gubernur jenderal bisa membuang seseorang atas nama keamanan kolonial tanpa proses pengadilan pidana biasa.
Akibatnya, banyak tahanan hidup dalam ketidakpastian. Mereka tidak tahu kapan bebas. Mereka juga tidak tahu apakah keluarga mereka masih bisa bertemu lagi.
Situasi itu membuat pengasingan terasa lebih menakutkan.
Orang tidak hanya kehilangan kebebasan. Mereka juga kehilangan arah hidup.
Digoelitis dan Kesunyian yang Menghancurkan
Boven Digoel melahirkan istilah yang cukup dikenal dalam sejarah pengasingan politik Indonesia, yaitu Digoelitis.
Istilah itu merujuk pada tekanan mental akibat isolasi panjang, rasa putus asa, dan kehidupan yang penuh ketidakpastian.
Malaria menyerang tubuh para tahanan. Namun kesunyian menyerang pikiran mereka.
Hari-hari berjalan lambat di tengah hutan, sungai, dan rawa. Selain itu, banyak tahanan harus hidup jauh dari keluarga tanpa kepastian masa depan.
Di titik tertentu, sebagian orang mulai kehilangan semangat hidup.
Bagian paling mengerikan justru muncul dari situ. Boven Digoel tidak selalu memakai kekerasan fisik untuk menghancurkan manusia. Tempat itu memakai jarak, waktu, dan rasa sepi.
Hatta dan Sjahrir Pernah Hidup di Sana
Boven Digoel juga menyimpan nama-nama besar dalam sejarah Indonesia.
Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pernah menjalani pengasingan di wilayah itu pada pertengahan 1930-an. Meski hidup dalam tekanan, keduanya tetap membaca, berdiskusi, dan membangun ruang berpikir.
Hatta menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Sebaliknya, ia memilih mengajar dan menulis selama masa pengasingan.
Sjahrir juga terus menjaga diskusi politik di tengah kondisi yang serba terbatas.
Ironisnya, Belanda ingin mematahkan gerakan lewat pengasingan. Namun sebagian tahanan justru mengubah Boven Digoel menjadi ruang untuk memperkuat pemikiran mereka.
Tekanan ternyata tidak selalu berhasil membunuh gagasan.
Tokoh-Tokoh yang Jarang Dibicarakan
Selain Hatta dan Sjahrir, banyak nama lain pernah hidup di kamp pengasingan itu. Ada Sayuti Melik, Ali Archam, Mohammad Bondan, Maskun, sampai Thomas Nayoan.
Thomas Nayoan dikenal karena upayanya melarikan diri lewat jalur sungai menuju wilayah Australia. Perjalanan itu sangat berbahaya karena hutan lebat, penyakit, dan patroli kolonial mengelilingi kawasan tersebut.
Kisah itu menunjukkan satu hal penting.
Boven Digoel bukan hanya lokasi terpencil. Pemerintah kolonial memang merancang tempat itu agar manusia merasa tidak punya jalan keluar.
Kamp Pengasingan Berakhir, Tapi Bayangannya Tinggal
Situasi Perang Dunia II perlahan mengubah kondisi Boven Digoel. Ketika Jepang mulai mengancam Hindia Belanda, pemerintah kolonial memindahkan sebagian tahanan ke Australia sekitar 1943.
Sejak saat itu, fungsi kamp pengasingan mulai berakhir.
Namun sejarah tidak benar-benar meninggalkan wilayah tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah membentuk Kabupaten Boven Digoel pada 2002. Status wilayah berubah menjadi pusat administrasi di Papua Selatan.
Meski begitu, bayang-bayang masa lalu tetap melekat.
Orang masih mengingat Boven Digoel sebagai simbol pengasingan, ketakutan, dan kontrol kekuasaan.
Dari Pengasingan Politik ke Tekanan Ekologis
Hari ini, konflik di Boven Digoel muncul dalam bentuk berbeda.
Jika dulu pemerintah kolonial mengasingkan manusia, sekarang masyarakat adat menghadapi tekanan terhadap ruang hidup mereka sendiri.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi sawit dan proyek besar mulai masuk ke Papua Selatan. Salah satu yang paling banyak mendapat sorotan adalah Proyek Tanah Merah.
Konfliknya memang berbeda dibanding era kolonial. Akan tetapi, tekanan terhadap ruang hidup tetap terasa kuat.
Dulu Belanda memisahkan aktivis dari masyarakat. Sekarang masyarakat adat mulai merasa jauh dari hutannya sendiri.
Sejarah yang Belum Selesai
Boven Digoel mengajarkan satu hal penting, bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja lewat senjata atau penjara.
Terkadang kekuasaan bekerja lewat jarak. Di waktu lain, ia muncul dalam bentuk aturan. Selain itu, peta, izin, dan proyek pembangunan sering berubah menjadi alat paling sunyi untuk mengendalikan ruang hidup manusia.
Karena itu, sejarah Boven Digoel tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Wilayah itu terus muncul dalam berbagai bentuk konflik baru. Mulai dari pengasingan politik di era kolonial sampai pertarungan hutan adat di masa sekarang.
Anehnya, posisi masyarakat lokal sering tetap sama. Mereka berada di sisi paling rentan ketika kekuasaan mulai bergerak terlalu jauh.
Nama yang Terus Mengingatkan
Banyak orang mungkin melihat Boven Digoel hanya sebagai bagian kecil dari sejarah Indonesia. Padahal tempat itu menyimpan cerita panjang tentang cara kekuasaan bekerja terhadap manusia.
Dulu pemerintah kolonial memakai pengasingan untuk membungkam suara politik. Kini tekanan hadir lewat perebutan ruang hidup, investasi besar, dan perubahan bentang alam Papua Selatan.
Sejarahnya memang berubah bentuk. Namun tekanannya terasa tetap dekat. @tabooo





