Papua tak lagi sekedar pinggiran. Dulu, banyak orang menyebut Papua sebagai “ujung Indonesia”. Tempat yang terasa jauh, mahal dijangkau, dan sering hadir dalam percakapan tentang ketertinggalan. Jumat pagi di Jayapura menghadirkan suasana berbeda. Sebuah kabel laut bernama Pukpuk-1 seolah membawa pesan baru dari ujung timur ke dunia bahwa wilayah timur ini tidak pernah benar-benar berada di pinggiran. Cara kita memandangnya saja yang terlalu lama berpusat di barat.
Tabooo.id – Di Telkom Witel Jayapura, peresmian Sistem Kabel Laut Pukpuk (Pukpuk-1) terasa lebih dari seremoni teknologi. Ada harapan yang perlahan tumbuh yang berasal dari ujung timur indonesia, sekaligus pertanyaan tentang masa depan kawasan timur khususnya yang akan mengubah cara pandang papua tak lagi sekedar pinggiran.
Dari “Ujung Indonesia” ke Pintu Pasifik
Selama bertahun-tahun, narasi tentang Papua nyaris selalu sama wilayah yang menunggu. Menunggu jalan tersambung. Menanti internet stabil. Bahkan, perhatian pembangunan pun sering terasa datang terlambat. Kini, arah ceritanya mulai bergerak.
Melalui PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), Telkom meresmikan sistem kabel laut lintas negara pertama di Asia-Pasifik yang menghubungkan Indonesia dengan Papua Nugini. Landing station di Jayapura menjadi simpul penting menuju jaringan Kumul di Papua Nugini hingga Vanimo.
Jalur baru itu bahkan dapat terhubung ke Manado sampai Los Angeles melalui kabel SEA-US.
Secara teknis, proyek ini memang berbicara soal konektivitas. Akan tetapi, maknanya terasa jauh lebih besar. Wilayah timur tak lagi sekadar menerima akses. Kini, ia mulai memainkan peran sebagai penghubung.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Angga Raka Prabowo menegaskan pembangunan digital harus menjangkau seluruh wilayah secara merata.
“Konektivitas harus dibangun secara merata dan berkelanjutan agar seluruh wilayah, termasuk Kawasan Timur Indonesia, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dalam ekosistem ekonomi digital,” ujar Angga dalam keterangannya, dikutip Minggu (10/05/2026).
Timur yang Terlalu Lama Diminta Bersabar
Bagi banyak warga Papua, janji pembangunan bukan cerita baru. Internet lambat pernah menjadi keluhan bertahun-tahun. Harga barang mahal terasa biasa. Sementara itu, jarak sering berubah menjadi batas kesempatan.
Karena itu, Pukpuk-1 membawa dua rasa sekaligus optimisme dan kehati-hatian. Harapan memang tumbuh, tetapi publik juga bertanya apakah perubahan kali ini benar-benar terasa sampai ke kehidupan sehari-hari.
Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan proyek tersebut menunjukkan bahwa Indonesia Timur bukan pelengkap pembangunan nasional.
“Melalui Pukpuk, TelkomGroup tidak hanya memperkuat infrastruktur digital di Papua, tetapi juga menegaskan bahwa Indonesia Timur merupakan bagian integral dari ekosistem konektivitas global,” kata Dian.
Menurutnya, Telkom ingin memastikan tidak ada wilayah Indonesia yang tertinggal di era digital.
Meski begitu, pembangunan di mata masyarakat timur tak pernah berhenti pada urusan kabel atau sinyal. Ada pertanyaan yang lebih personal apakah kawasan ini akhirnya benar-benar dianggap penting?
Kabel Laut dan Identitas Baru Kawasan Timur
Budayawan Papua Benny Giay dalam berbagai refleksinya kerap mengingatkan bahwa tanah Papua terlalu sering dipandang sebagai wilayah batas, bukan ruang hidup yang memiliki arah masa depan sendiri. Pandangan itu terasa menemukan momentumnya hari ini.
Dari perspektif geografis, posisi Papua sebenarnya tidak berada di ujung. Sebaliknya, kawasan ini menjadi pintu masuk Indonesia menuju Pasifik.
Sosiolog pembangunan dari Universitas Cenderawasih, Dr. Marthen Kambu, menilai konektivitas digital berpotensi mengubah cara orang melihat kawasan timur.
“Kalau akses digital kuat, Papua bukan lagi pasar terakhir. Papua bisa menjadi simpul ekonomi baru di kawasan Pasifik,” ujarnya.
Nada serupa datang dari CEO PNG DataCo Paul Komboi, yang melihat Pukpuk-1 sebagai simbol hubungan baru antarnegara.
“PUKPUK-1 bukan sekadar kabel. Ini adalah jembatan antarnegara, platform bagi peluang ekonomi, dan fondasi transformasi digital,” katanya.
Ini Bukan Sekadar Kabel Laut
Sejarah pembangunan di Indonesia Timur menyimpan satu ironi lama infrastruktur sering hadir lebih dulu daripada rasa keterhubungan.
Karena itu, pertanyaan besarnya bukan hanya soal internet cepat.
Akankah Papua berhenti menjadi wilayah yang terus menunggu? Atau justru mulai berubah menjadi gerbang baru Indonesia menuju dunia?
Sebab mungkin yang tertinggal bukan tanah di timur itu. Bisa jadi, cara kita memandang timur selama ini memang terlalu lambat berubah.
Timur yang Mulai Mengirim Sinyal
Di bawah laut, kabel itu kini membentang tanpa suara. Tidak berpidato. Tidak pula menjanjikan apa-apa.
Namun diam-diam, dari ujung timur Indonesia, sebuah pesan seperti mulai dikirimkan kami bukan lagi sekadar pinggiran. Kami sedang belajar menjadi penghubung dunia. @teguh





