Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kontroversi Tahta: Antara Titah Raja dan Suara Keluarga

by jeje
November 11, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ada masa ketika suara istana kalah pelan dari desir angin di tembok megah itu.
Namun pelan bukan berarti hilang. Dari balik dinding tua dan serambi berukir emas, suara lama kembali bergema. Mereka menanyakan hal yang tak pernah selesai: siapa yang berhak atas takhta?

Di Surakarta, takhta bukan sekadar kursi kebesaran. Sejarah panjang raja-raja Mataram menulis garis darah dan restu itu sebagai tanda yang tak tergantikan.
Kini, ketika sang pemegang mahkota terakhir berpulang, panggung pewarisan kembali terbuka bukan dengan pedang, melainkan dengan tafsir.

Di Antara Titah dan Tafsir

Di antara kepulan dupa dan denting gamelan, para abdi menyebut satu nama dengan penuh khidmat nama yang kelak menentukan arah tahta dan takdir sebuah kerajaan.
Sang raja menuturkan titahnya di hadapan mereka yang tahu: setiap kata seorang raja bukan sekadar ucapan, tapi perintah hidup dalam adat.

Waktu pun berjalan.
Seiring kepergian sang penuntun, suara lain muncul dari balik pagar keluarga.
Sebagian pihak menegaskan titah raja harus dijalankan tanpa tafsir.
Sebagian lain meyakini keluarga besar berhak menentukan arah masa depan keraton.

Perbedaan ini bukan hal baru.
Sejarah panjang dinasti Jawa mencatat, takhta selalu menjadi pertemuan antara amanat spiritual dan dinamika manusia.
Kali ini, publik menyaksikan dua kutub yang kembali berhadapan: satu memegang teguh titah raja, satu lagi menuntut musyawarah keluarga sebagai jalan penentuan.

Ini Belum Selesai

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik


Lebih dari Sekadar Mahkota

Bagi masyarakat Jawa, takhta adalah simbol keseimbangan antara langit dan bumi, antara leluhur dan rakyat.
Siapa pun yang kelak duduk di singgasana Surakarta tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga tanggung jawab menjaga harmoni di tengah perubahan zaman.

Keraton bukan sekadar bangunan. Ia adalah ingatan, ritual, dan napas budaya yang terus hidup meski zaman berganti.
Kini, setelah sang raja berpulang, publik menatap satu arah: menunggu siapa yang akan melanjutkan peran itu.
Bukan sebagai penguasa, tapi penjaga makna.


Menunggu Waktu Bicara

Dalam adat Jawa, setiap keputusan besar menunggu waktu yang tepat.
Di dunia keraton, diam bisa berarti keputusan, dan waktu sering kali menjadi hakim paling adil.

Kini, takhta Surakarta menunggu bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling memahami arti ngawula mengabdi.
Sebab, seperti pepatah Jawa mengatakan:

“Sapa gelem ngasorake awake, bakal diunggahake drajate.”
Barang siapa mau merendahkan diri, dialah yang akan ditinggikan derajatnya. @jeje

Tags: Budaya Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

by dimas
Juni 27, 2026

Bersih Desa Winongo 2026 menjadi tradisi yang menjaga identitas, memperkuat gotong royong, dan melestarikan budaya di Kota Madiun. Tabooo.id -...

Hakikat Wayang: Berakar di Jawa, Bergaung ke Dunia

Hakikat Wayang: Berakar di Jawa, Bergaung ke Dunia

by Waras
Juni 21, 2026

Suara gamelan itu lahir di tanah Jawa, tetapi gaungnya kini terdengar hingga ruang-ruang akademik Amerika. Di tengah dunia yang semakin...

Bersih Desa: Sekadar Simbol atau Masih Punya Fungsi Sosial?

Bersih Desa: Sekadar Simbol atau Masih Punya Fungsi Sosial?

by dimas
Juni 21, 2026

Apakah Bersih Desa masih relevan di era modern? Tradisi Jawa ini ternyata menyimpan fungsi sosial yang lebih besar daripada sekadar...

Next Post
10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id