• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Kontroversi Tahta: Antara Titah Raja dan Suara Keluarga

November 11, 2025
in Deep
A A
Kontroversi Tahta: Antara Titah Raja dan Suara Keluarga

Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ada masa ketika suara istana kalah pelan dari desir angin di tembok megah itu.
Namun pelan bukan berarti hilang. Dari balik dinding tua dan serambi berukir emas, suara lama kembali bergema. Mereka menanyakan hal yang tak pernah selesai: siapa yang berhak atas takhta?

Di Surakarta, takhta bukan sekadar kursi kebesaran. Sejarah panjang raja-raja Mataram menulis garis darah dan restu itu sebagai tanda yang tak tergantikan.
Kini, ketika sang pemegang mahkota terakhir berpulang, panggung pewarisan kembali terbuka bukan dengan pedang, melainkan dengan tafsir.

Di Antara Titah dan Tafsir

Di antara kepulan dupa dan denting gamelan, para abdi menyebut satu nama dengan penuh khidmat nama yang kelak menentukan arah tahta dan takdir sebuah kerajaan.
Sang raja menuturkan titahnya di hadapan mereka yang tahu: setiap kata seorang raja bukan sekadar ucapan, tapi perintah hidup dalam adat.

Waktu pun berjalan.
Seiring kepergian sang penuntun, suara lain muncul dari balik pagar keluarga.
Sebagian pihak menegaskan titah raja harus dijalankan tanpa tafsir.
Sebagian lain meyakini keluarga besar berhak menentukan arah masa depan keraton.

Perbedaan ini bukan hal baru.
Sejarah panjang dinasti Jawa mencatat, takhta selalu menjadi pertemuan antara amanat spiritual dan dinamika manusia.
Kali ini, publik menyaksikan dua kutub yang kembali berhadapan: satu memegang teguh titah raja, satu lagi menuntut musyawarah keluarga sebagai jalan penentuan.


Lebih dari Sekadar Mahkota

Bagi masyarakat Jawa, takhta adalah simbol keseimbangan antara langit dan bumi, antara leluhur dan rakyat.
Siapa pun yang kelak duduk di singgasana Surakarta tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga tanggung jawab menjaga harmoni di tengah perubahan zaman.

Keraton bukan sekadar bangunan. Ia adalah ingatan, ritual, dan napas budaya yang terus hidup meski zaman berganti.
Kini, setelah sang raja berpulang, publik menatap satu arah: menunggu siapa yang akan melanjutkan peran itu.
Bukan sebagai penguasa, tapi penjaga makna.

RelatedPosts

Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai


Menunggu Waktu Bicara

Dalam adat Jawa, setiap keputusan besar menunggu waktu yang tepat.
Di dunia keraton, diam bisa berarti keputusan, dan waktu sering kali menjadi hakim paling adil.

Kini, takhta Surakarta menunggu bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling memahami arti ngawula mengabdi.
Sebab, seperti pepatah Jawa mengatakan:

“Sapa gelem ngasorake awake, bakal diunggahake drajate.”
Barang siapa mau merendahkan diri, dialah yang akan ditinggikan derajatnya. @jeje

Tags: antara titah dan keluargaBudaya Jawadinasti mataramkisah keratonkontroversi tahta surakartapewaris tahtasejarah surakartasuara istanatabooo id
Next Post
10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.