Manusia modern suka bicara tentang kebaikan. Timeline penuh doa, kutipan moral, dan seruan kemanusiaan. Namun entah kenapa, dunia tetap terasa dingin. Di momen Kenaikan Yesus Kristus, ada pertanyaan yang terasa makin relevan: kalau manusia percaya pada nilai kasih, kenapa empati justru terasa makin mahal?
Tabooo.id – Banyak orang membaca Kenaikan Yesus sebagai simbol kemenangan spiritual. Padahal peristiwa itu juga bisa menjadi penanda ketika manusia tidak lagi bisa terus bersembunyi di balik langit.
Sebab setelah itu, tanggung jawab kembali jatuh ke bumi.
Ketika Langit Tidak Lagi Menjadi Tempat Pelarian
Dulu manusia menunggu keselamatan datang dari atas. Sekarang, banyak orang justru memakai agama, moral, bahkan doa untuk menghindari tanggung jawab sosial.
Sebagian orang berdoa untuk perdamaian. Namun pada saat yang sama, dunia terus membiarkan perang berubah menjadi bisnis dan tontonan politik.
Di banyak ruang publik, orang berbicara soal cinta kasih. Tetapi masyarakat masih menganggap kemiskinan sebagai kegagalan pribadi.
Sementara itu, manusia terus mengutip ayat tentang menjaga bumi. Namun hutan tetap terbakar, laut penuh sampah, dan kota tumbuh tanpa belas kasih terhadap manusia kecil.
Ironisnya, semua itu sering muncul di tengah masyarakat yang merasa paling religius.
Mungkin masalah terbesar dunia bukan karena Tuhan meninggalkan manusia.
Mungkin manusialah yang terlalu sering meninggalkan sesamanya.
Tanggung Jawab yang Terus Dilempar
Dunia modern sangat pandai mencari kambing hitam.
Saat lingkungan rusak, masyarakat menyalahkan pemerintah.
Ketika korupsi muncul, publik menunjuk elite.
Begitu ketidakadilan terjadi, semua orang langsung menyebut sistem sebagai penyebab utama.
Padahal sistem tidak muncul dari ruang kosong.
Manusia membangun sistem. Mereka menjaga sistem tetap hidup. Dalam banyak situasi, manusia juga menikmati keuntungan dari sistem yang tidak adil.
Masalahnya, banyak orang ingin perubahan tanpa kehilangan kenyamanan.
Sebagian orang ingin dunia lebih bersih, tetapi tetap hidup konsumtif.
Banyak orang marah pada korupsi, tetapi masih memaklumi manipulasi kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan ketika perang terjadi, tidak sedikit orang memilih diam saat kebencian tumbuh di sekitar mereka sendiri.
Akibatnya, tanggung jawab terasa seperti barang yang terus berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Tidak banyak orang benar-benar mau memikulnya.
Kenaikan Yesus dan Beban yang Tertinggal di Bumi
Dalam banyak pembacaan spiritual, kenaikan sering terlihat seperti akhir. Padahal mungkin itu justru awal.
Karena setelah langit menjadi sunyi, manusialah yang harus menjawab dunia.
Tidak ada lagi alasan untuk terus menunggu keajaiban sambil membiarkan ketidakadilan tumbuh setiap hari.
Kalau bumi rusak, manusia harus menjaganya. Ketika korupsi menghancurkan hidup banyak orang, masyarakat tidak bisa terus diam. Sementara itu, kemiskinan yang terus diwariskan seharusnya tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Namun kenyataannya, manusia modern lebih suka membangun citra peduli daripada benar-benar terlibat.
Media sosial penuh kemarahan moral. Sayangnya, sebagian besar berhenti sebagai unggahan singkat yang hilang dalam hitungan jam.
Akhirnya, kita hidup di zaman ketika kepedulian berubah menjadi estetika publik.
Kemunafikan yang Terlihat Normal
Yesus dulu sangat keras mengkritik kemunafikan.
Bukan hanya dosa pribadi. Ia juga melawan kemunafikan publik yang memakai moral untuk terlihat suci sambil membiarkan manusia lain menderita.
Masalahnya, dunia modern membangun ulang kemunafikan itu dalam bentuk baru.
Perusahaan bicara soal kesejahteraan sambil memeras pekerja.
Politisi berbicara tentang rakyat sambil menikmati privilese kekuasaan.
Di saat yang sama, publik ramai membahas kemanusiaan sambil menikmati algoritma yang hidup dari kemarahan dan kebencian.
Lama-kelamaan, semua terlihat normal karena terus diulang setiap hari.
Dan mungkin itulah bagian paling berbahaya:
ketika manusia tidak lagi terkejut melihat ketidakadilan.
Setelah Langit Sunyi
Kenaikan Yesus mungkin bukan cerita tentang pelarian menuju langit.
Sebaliknya, peristiwa itu bisa menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa terus menunggu dunia berubah sendiri.
Karena pada akhirnya, doa tanpa tindakan hanya akan menjadi gema kosong.
Lalu mungkin pertanyaan terbesar hari ini bukan:
“Apakah Tuhan masih bersama manusia?”
Tetapi:
“Apakah manusia masih mau bertanggung jawab terhadap sesamanya?” @jeje





