Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Unram?

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Film Pesta Babi memicu ketegangan di lingkungan Universitas Mataram pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Mahasiswa menggelar acara nonton bareng. Saat ratusan peserta sudah berkumpul di sekitar Gedung PKM Unram, pihak kampus menghentikan kegiatan tersebut. Situasi memanas setelah pihak kampus menutup proyektor dan melarang pemutaran film dokumenter karya Dhandy Dwi Laksono itu.

Tabooo.id: Mataram – Malam itu layar sudah berdiri. Proyektor menyala. Ratusan mahasiswa mulai berkumpul di sekitar Gedung PKM Universitas Mataram. Namun puluhan petugas pengamanan kampus datang dan menghentikan acara, sebelum peserta menonton film itu hingga penuh.

Aksi pembubaran nobar film dokumenter Pesta Babi pun terjadi, Kamis (7/5/2026) malam. Sejumlah organisasi mahasiswa menjadi penyelenggara kegiatan tersebut. Situasi langsung memanas ketika pihak kampus berdiri di depan layar lalu menutup proyektor.

Pimpinan mahasiswa sempat terlibat adu mulut dengan biro akademik kampus. Mereka mempertanyakan alasan pelarangan pemutaran film karya sutradara Dhandy Dwi Laksono itu.

“Pokoknya Tidak Boleh Menonton”

Tak lama kemudian, Wakil Rektor III Unram, Sujita, datang menemui massa mahasiswa. Di hadapan ratusan peserta yang sudah memenuhi area kampus, ia menegaskan bahwa kampus melarang pemutaran film tersebut.

“Tidak ada alasan, pokoknya tidak boleh menonton,” kata Sujita.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mahasiswa langsung meneriaki pernyataan tersebut. Suasana semakin panas ketika Sujita mengaku sudah menonton film itu. Ia juga menilai, isi film tersebut tidak layak diputar di lingkungan kampus.

“Isinya mendiskreditkan pemerintah RI. Saya sudah nonton. Terserah pandangan Anda, yang jelas isinya menghina negara saya,” ujarnya.

Mahasiswa lalu meminta pihak kampus menyampaikan alasan resmi melalui pengeras suara agar seluruh massa mendengar langsung keputusan tersebut.

“Lebih Baik Kita Nobar Sepak Bola”

Di depan peserta aksi, Sujita mengatakan pihak kampus mengambil keputusan pembubaran demi menjaga kondusivitas kampus.

“Unram menolak demi kondusivitas. Film ini kurang baik untuk ditonton. Lebih baik kita nonton bareng sepak bola,” katanya.

Kalimat itu kembali memicu sorakan mahasiswa.

Situasi menjadi semakin tegang ketika Sujita membantah adanya intimidasi dalam keputusan tersebut.

“Tidak ada tekanan, saya hanya menjalankan perintah,” katanya.

Namun saat mahasiswa mendesak siapa pihak yang memberi perintah, Sujita tidak memberikan jawaban lebih lanjut.

Di tengah kerumunan, beberapa mahasiswa mulai meneriakkan slogan “Unram anti demokrasi” dan “Papua bukan tanah kosong”. Suara mereka terdengar sampai luar area kampus.

Mahasiswa Papua: “Seluruh Masyarakat Juga Perlu Tahu”

Salah satu panitia nobar, Kova, mahasiswa asal Papua, mengaku kecewa karena pihak kampus membatasi ruang diskusi mahasiswa.

“Nanti kita cari tempat lain untuk nobar. Film ini bukan cuma untuk Papua. Karena kita bagian dari Indonesia, seluruh masyarakat juga perlu tahu,” kata Kova.

Bagian paling ironis justru muncul setelah pembubaran itu terjadi.

Sekitar 50 meter dari tembok kampus, pemutaran film tetap berlangsung di sebuah kafe. Ratusan penonton, sebagian besar mahasiswa, akhirnya menyaksikan film tersebut sampai selesai lalu melanjutkan diskusi.

Di ruang kampus, layar dimatikan. Di luar pagar, film tetap hidup.

Dua Kampus, Dua Sikap Berbeda

Ini bukan pertama kalinya pemutaran Pesta Babi dibubarkan di Mataram.

Sebelumnya, pada 25 April 2026, pemutaran film yang sama di Universitas Pendidikan Mandalika juga dihentikan beberapa menit setelah dimulai.

Namun situasi berbeda terjadi di Universitas Gunung Rinjani pada 2 Mei 2026. Saat itu, pemutaran film berlangsung tanpa larangan. Ratusan penonton menyaksikan film berdurasi 90 menit tersebut hingga selesai.

Perbedaan respons antar kampus itu memunculkan pertanyaan baru di kalangan mahasiswa. Bukan hanya soal film dokumenter, tetapi juga tentang seberapa jauh ruang diskusi masih bisa hidup di lingkungan akademik.

Kadang kampus bicara soal kebebasan berpikir di ruang kelas. Tapi malam itu, mahasiswa justru melihat layar dimatikan sebelum diskusi benar-benar dimulai. @tabooo

Tags: Dhandy Dwi LaksonoMahasiswamataramNewsNTBpapuaReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

by dimas
Mei 11, 2026

Budaya victim blaming dan relasi kuasa membuat banyak korban kekerasan seksual di kampus memilih diam. Di balik ruang akademik yang...

Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

by dimas
Mei 11, 2026

Dosen UIN Walisongo diduga melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswa. Korban disebut takut melapor karena trauma. Di tengah ruang akademik yang...

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

by teguh
Mei 10, 2026

Papua tak lagi sekedar pinggiran. Dulu, banyak orang menyebut Papua sebagai “ujung Indonesia”. Tempat yang terasa jauh, mahal dijangkau, dan...

Next Post
27 Tahun Reformasi: Kenapa Publik Mulai Kehilangan Harapan?

27 Tahun Reformasi: Kenapa Publik Mulai Kehilangan Harapan?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id