Kenapa Gen Z sering merasa kesepian di era digital? Setiap hari mereka online, tapi kedekatan terasa makin jauh dan percakapan makin dangkal. Di tengah notifikasi yang tidak pernah berhenti, mereka tetap merasa sendiri, seolah semua koneksi itu tidak pernah benar-benar nyata.
Tabooo.id: Life – Layar terus menyala. Notifikasi masuk tanpa jeda. Kamu scroll, like, lalu mengulanginya lagi. Di satu sisi, semuanya berjalan cepat dan penuh warna. Namun di sisi lain, banyak Gen Z menyimpan lelah yang tidak selalu mereka tunjukkan.
Istilah “penderitaan” memang terdengar berat. Tapi realitanya jelas: era yang serba terlihat dan saling membandingkan terus menekan banyak orang.
Hidup di Dunia yang Tidak Pernah Diam
Gen Z tumbuh bersama internet. Mereka tidak sekadar memakai teknologi tapi mereka hidup di dalamnya.
Masalahnya, dunia ini tidak pernah berhenti. Tren terus datang. Standar terus berubah. Sementara itu, orang-orang terus menampilkan hidup yang tampak sempurna.
Akibatnya, FOMO muncul. Bukan hanya soal tren, tapi tentang arah hidup.
Semakin sering kamu melihat hidup orang lain, semakin sulit kamu merasa cukup. Tanpa sadar, kamu mulai mengukur diri dengan standar yang bahkan bukan milikmu.
Terhubung, Tapi Tidak Dekat
Koneksi ada di mana-mana. Namun kedekatan tidak selalu ikut tumbuh. Chat terus berjalan. Story terus muncul. Interaksi terlihat ramai.
Namun banyak percakapan kehilangan kedalaman. Orang merespons lebih cepat, tapi jarang benar-benar hadir.
Relasi terlihat dekat di layar, tetapi terasa jauh di dunia nyata.
Akhirnya, banyak orang tetap merasa sendiri, bahkan saat mereka tidak sendirian.
Masa Depan yang Terasa Kabur
Dulu, banyak orang melihat hidup sebagai jalur yang jelas. Sekarang, arah itu mulai memudar. Harga properti terus naik. Dunia kerja makin fleksibel sekaligus tidak stabil. Di saat yang sama, krisis global terus muncul.
Karena itu, Gen Z tidak hanya bertanya, “aku mau jadi apa?”. Mereka juga mulai mempertanyakan, “apakah masa depan ini masih bisa diandalkan?”
Ketidakpastian ini tidak datang sekali. Ia muncul perlahan, lalu menetap.
Tekanan untuk “Jadi Seseorang”, Sekarang Juga
Media sosial terus menampilkan cerita sukses di usia muda. Sebagian orang membangun bisnis di umur 21. Sebagian lain mencapai kebebasan finansial sebelum 25.
Awalnya, cerita itu memotivasi. Namun lama-lama, ia berubah jadi standar diam-diam.
Seolah hidup punya deadline yang tidak pernah disepakati, tapi banyak orang tetap mengejarnya.
Ketika belum sampai di sana, rasa tertinggal mulai muncul. Padahal, setiap orang berjalan dengan waktunya sendiri.
Cara Hidup yang Diam-Diam Menguras
Sebagian tekanan ini tidak hanya datang dari luar. Banyak Gen Z membentuk pola hidup yang terus menguras energi.
Mereka bangun lalu langsung membuka ponsel. Mereka mengisi waktu dengan scroll tanpa arah. Setelah itu, mereka merasa bersalah karena tidak produktif.
Ironisnya, mereka lelah karena terus bergerak, tapi juga merasa bersalah saat berhenti.
Di satu sisi, mereka ingin istirahat.
Di sisi lain, mereka takut tertinggal.
Akhirnya, hidup berubah jadi lomba tanpa garis start yang jelas, dan tanpa garis finish.
Ini Bukan Sekadar Generasi yang “Rapuh”
Banyak orang memberi label “terlalu sensitif”. Namun label itu tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Gen Z hidup di dunia yang lebih cepat, lebih terbuka, dan lebih menuntut.
Mereka tidak hanya menghadapi realita.
Mereka juga terus melihat versi terbaik dari hidup orang lain, setiap hari.
Tekanan itu nyata. Tekanan itu terus datang, bahkan saat mereka berhenti bergerak.
Tapi Ada Satu Hal yang Berbeda
Di tengah semua itu, muncul perubahan penting. Gen Z mulai bicara: Mereka membahas kesehatan mental tanpa malu, mengakui kelelahan tanpa menyembunyikan, mulai menetapkan batas, meski belum selalu konsisten.
Di sinilah perbedaannya: mereka tidak hanya bertahan, mereka juga mencoba memahami diri sendiri.
Masalahnya bukan karena Gen Z kehilangan arah.
Sebagian dari mereka dipaksa berlari di jalur yang tidak mereka pilih, dan tetap dituntut untuk terlihat baik-baik saja
Gen Z tidak tersesat, hanya saja dunia yang terus mendorong mereka berlari tanpa arah yang jelas. @naysa





