Singkong keju terlihat seperti camilan sederhana. Namun, di balik taburan keju dan tekstur renyahnya, tersimpan ironi panjang tentang kelas, rekayasa rasa, dan ilusi gaya hidup yang terus dijual ke publik.
Tabooo.id: Food – Singkong tidak pernah lahir sebagai simbol gaya hidup. Sejak awal, ia masuk ke sejarah sebagai alat bertahan hidup. Pada dekade 1850-an, ketika kelaparan menghantam Demak akibat kegagalan panen dan tekanan tanam paksa, pemerintah kolonial tidak mencari solusi berkualitas. Sebaliknya, mereka memilih yang murah, tahan banting, dan cepat panen. Karena itu, singkong menjadi pilihan utama. Sejarawan Haryono Rinardi menegaskan, “singkong diperkenalkan bukan sebagai komoditas prestise, melainkan jalan keluar darurat dari krisis pangan.” Dengan kata lain, sejak awal posisinya sudah terkunci sebagai pangan kelas bawah.
Stigma yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Namun demikian, stigma itu tidak pernah benar-benar hilang. Masyarakat terus menempatkan singkong sebagai cadangan, bukan pilihan utama. Sementara itu, beras naik menjadi simbol kemapanan. Akibatnya, singkong tetap identik dengan keterbatasan. Meski begitu, masyarakat desa tidak sepenuhnya tunduk. Mereka terus mengolah singkong menjadi berbagai penganan seperti lenjongan, opak, dan sawut. Dengan demikian, mereka mempertahankan identitas, meskipun kota terus merendahkannya.
Rekayasa Dapur: Dari Bertahan Hidup ke Estetika Konsumsi
Memasuki era modern, kota tidak sekadar menerima singkong, kota mengubahnya. Pertama, pelaku kuliner memecah struktur keras singkong melalui teknik thermal shock. Mereka merebus, lalu langsung merendamnya dalam air es agar seratnya terbuka. Setelah itu, mereka menggorengnya hingga menghasilkan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Akibatnya, pengalaman makan berubah total. Tidak heran, jutaan orang mempelajari teknik ini melalui video digital. Artinya, orang tidak mengganti bahan, mereka hanya mengubah cara memperlakukannya agar terlihat lebih bernilai.
Keju: Alat Pemutihan Status
Namun, perubahan tekstur saja tidak cukup. Karena itu, pelaku usaha menambahkan keju sebagai simbol baru. Keju membawa asosiasi modernitas dan kemewahan. Dengan demikian, ketika singkong bertemu keju dan susu kental manis, lahirlah identitas baru: camilan urban. Di titik ini, produk tidak lagi berbicara soal rasa, tetapi soal citra. Konsumen pun tidak sekadar makan, mereka mengonsumsi simbol status.
Harga Murah, Ilusi Naik Kelas
Selanjutnya, strategi harga memainkan peran penting. Pelaku usaha menetapkan harga di kisaran Rp10.000 sampai dengan Rp16.000. Di satu sisi, harga ini tetap terjangkau. Di sisi lain, harga ini cukup untuk menciptakan kesan “bernilai.” Akibatnya, konsumen kelas pekerja tetap bisa membeli, sementara kelas menengah tidak merasa turun kelas. Dengan kata lain, singkong keju menjadi alat simulasi gaya hidup. Orang merasa naik kelas, padahal realitasnya tidak berubah.
Ruang Kota Mengubah Fungsi
Di Kota Madiun, perubahan ini terlihat jelas. Pedagang menempatkan lapak di titik strategis seperti Jalan Pahlawan dan HOS Cokroaminoto. Selain itu, mereka beroperasi pada pukul 17.00 hingga 20.30 WIB. Waktu ini bukan kebetulan. Sebaliknya, pedagang sengaja menargetkan konsumen setelah jam kerja. Karena itu, orang tidak datang karena lapar, melainkan untuk bersantai. Dengan demikian, fungsi singkong bergeser dari makanan pokok menjadi bagian dari ritual sosial.
Lebih jauh lagi, platform digital mempercepat transformasi ini. Pedagang mengintegrasikan produk ke layanan seperti GoFood. Bahkan, mereka menjual versi frozen untuk konsumsi rumah. Akibatnya, singkong tidak lagi bergantung pada lokasi fisik. Ia masuk ke dalam sistem distribusi modern.
D-9: Ketika Cerita Menjadi Mesin Jual
Sementara itu, Singkong Keju D-9 di Salatiga membawa transformasi ini ke level berbeda. Hardadi, pendirinya, mengubah masa lalunya sebagai narapidana menjadi kekuatan branding. Ia mengambil nama sel tahanan “D-9” sebagai identitas usaha. Dengan demikian, konsumen tidak hanya membeli makanan, tetapi juga cerita. Strategi ini efektif karena emosi ikut terlibat dalam keputusan membeli.
Selain itu, D-9 menjaga harga tetap di bawah Rp20.000. Mereka mempertahankan akses luas sambil membangun citra premium. Bahkan, mereka mengemas produk sebagai oleh-oleh. Akibatnya, tabu lama runtuh orang kini membawa singkong sebagai hadiah. Ini bukan sekadar penjualan, tetapi perubahan persepsi sosial.
Petani Tetap Tertinggal
Namun, di balik semua itu, petani tidak ikut menikmati keuntungan. Industri tapioka di Lampung menghasilkan 1,79 juta ton dengan valuasi Rp10,7 triliun. Akan tetapi, pada periode 2024–2025, harga aci turun dari Rp5.600 menjadi Rp4.500 per kilogram. Akibatnya, petani hanya menerima sekitar Rp1.000–Rp1.100 per kilogram setelah potongan industri. Dengan demikian, sistem monopsoni terus menekan mereka.
Di sisi lain, kasus di Pesisir Selatan menunjukkan masalah berbeda. Tengkulak memborong panen dan menciptakan kelangkaan. Akibatnya, harga melonjak dari Rp15.000 menjadi Rp60.000 per karung. Pelaku UMKM seperti Martini dan Yul terpaksa menghentikan produksi. Dengan kata lain, baik harga terlalu rendah maupun terlalu tinggi, keduanya sama-sama merusak ekosistem.
Ini Bukan Inovasi Ini Pola Lama
Pada akhirnya, singkong keju sering dianggap sebagai inovasi. Namun, jika dilihat lebih dalam, pola lama justru berulang. Bahan murah direkayasa, diberi simbol baru, lalu dijual kembali dengan nilai lebih tinggi. Sementara itu, kota menikmati hasilnya, desa tetap menanggung risikonya.
Jadi, singkong tidak pernah benar-benar naik kelas. Sebaliknya, kita hanya mengubah cara memandangnya.
Sekarang pertanyaannya lebih tajam: apakah kita benar-benar menikmati rasanya, atau hanya menikmati ilusi bahwa kita sudah meninggalkan asal-usulnya? @anisa





