Jumat, Juni 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Telepon Terakhir Itu: ‘Kapal Diserang’ Setelah Itu Sunyi

by Waras
Mei 1, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Satu pesan suara mengubah segalanya.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang benar-benar pasti.

Tabooo.id: Life – Bagi banyak orang, ini mungkin hanya berita luar negeri.
Tapi bagi satu keluarga di Indonesia, ini adalah awal dari hari-hari yang penuh ketakutan dan tanpa kepastian kapan akan berakhir.

Suara yang Tidak Pernah Hilang

Selasa malam itu (21/04), ponsel Santi Sanaya berdering. Bukan panggilan. Tapi pesan suara.

Singkat. “Kapal diserang bajak laut.”

Pesan itu datang dari suaminya, Ashari Samadikun, yang saat itu berada di atas kapal tanker MT Honour 25 di perairan Somalia.

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada dramatisasi.

Ini Belum Selesai

Bersih Desa: Antara Tradisi, Sesaji, dan Tuduhan Syirik

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Hanya informasi yang terlalu berat untuk diterima dalam satu tarikan napas.

Santi langsung menelepon balik.

Tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Tapi tetap sama.

Beberapa jam kemudian, ponsel itu tidak aktif.

“Putus… betul-betul putus komunikasiku sama dia,” katanya.

Sejak itu, yang tersisa hanya satu hal yaitu menunggu.

Menunggu Tanpa Kepastian

Di rumahnya di Gowa, waktu berjalan lebih lambat. Hari terasa panjang.

Malam terasa lebih sunyi. Santi tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di sana.

Ia hanya tahu suaminya disandera. Ia hanya tahu ada senjata.

Dan ia tahu bahwa semua bisa berubah kapan saja.

Kadang ada kabar. Kadang tidak ada apa-apa.

Dan justru di jeda tanpa kabar itulah rasa takut tumbuh paling besar.

Hidup di Antara Takut dan Harapan

Beberapa hari setelah penyergapan, akhirnya komunikasi sempat terbuka.

Bukan lewat ponsel pribadi. Tapi lewat telepon kapal yang diawasi.

Dalam momen singkat itu, Ashari bercerita.

Tentang bagaimana mereka disergap, saat senjata yang diarahkan, dan detik-detik ketika semuanya terasa bisa berakhir.

“Suamiku beberapa kali ditodong,” kata Santi.

Namun di balik cerita itu, ada satu hal yang membuatnya tetap bertahan. Suaminya masih hidup.

Masih bisa bicara. Masih memikirkan orang lain.

Bahkan di Tengah Ancaman, Ia Memikirkan Orang Lain

Di tengah situasi yang mengancam nyawa, Ashari tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ia memikirkan krunya, memikirkan keluarga mereka.

Ia tahu sebagian dari mereka bahkan belum sempat memberi kabar ke rumah.

“Yang dia pikir itu teman-temannya,” kata Santi.

Di saat banyak orang mungkin hanya ingin selamat sendiri, Ashari justru memikirkan orang lain.

Dan itu yang membuat Santi tetap percaya bahwa suaminya akan bertahan.

Satu Kalimat yang Menahan Peluru

Dalam salah satu cerita, ada momen yang terus terngiang di kepala Santi.

Saat para perompak sudah menguasai kapal, Ashari mencoba berbicara.

“Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim.”

Jawaban itu membuat situasi berhenti sejenak.

“Kau Muslim?”

“Iya.”

“Saya juga Muslim.”

Santi tidak tahu pasti apakah itu yang menyelamatkan suaminya.

Tapi ia percaya, di momen seperti itu, apa pun bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.

Permintaan yang Paling Menyakitkan

Dalam komunikasi terakhir mereka, Ashari mengatakan sesuatu yang tidak pernah ingin didengar oleh siapa pun.

“Jangan hubungi saya lagi.”

Bukan karena tidak ingin berbicara. Bukan karena tidak rindu.

Tapi karena takut.

Takut jika komunikasi justru membahayakan. Takut jika ponsel itu jatuh ke tangan yang salah.

Sejak saat itu, Santi benar-benar harus belajar satu hal yang paling sulit yaitu menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Di Rumah, Harapan Tidak Pernah Padam

Hari-hari terus berjalan.

Anak-anak masih menunggu ayahnya pulang. Keluarga masih berharap.

Tidak ada permintaan besar. Tidak ada tuntutan rumit.

Hanya satu harapan sederhana:

“Semoga bisa kembali semua dalam keadaan selamat.”

Tidak kurang satu apa pun.

Ini Bukan Sekadar Berita

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya berita luar negeri.

Angka. Data. Peristiwa.

Tapi bagi Santi, ini hidupnya. Ini keluarganya. Ini masa depan anak-anaknya.

Dan setiap hari yang berlalu tanpa kepastian bukan sekadar waktu, tapi tekanan yang terus bertambah.

Di suatu tempat di laut lepas, Ashari masih bertahan.

Di darat, Santi masih menunggu.

Keduanya terhubung oleh sesuatu yang sederhana yaitu harapan.

Dan satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah benar-benar bisa dijawab:

kalau itu orang yang kamu sayangi, seberapa kuat kamu bisa menunggu tanpa kepastian? @waras

Tags: Bajak LautGeopolitik GlobalKapal TankerSelat HormuzSomaliaTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

by dimas
Mei 28, 2026

AS kembali menyerang Iran di Bandar Abbas saat negosiasi damai memanas. Selat Hormuz kini berubah jadi titik rawan konflik global....

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

by dimas
Mei 24, 2026

AS dan Iran menunjukkan sinyal damai baru. Namun di balik negosiasi dan pembukaan Selat Hormuz, dunia masih mencium ancaman konflik...

Next Post
Online Terus, Tapi Tetap Sendiri

Online Terus, Tapi Tetap Sendiri

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id