Ini adalah sebuah cerita tentang realita seorang driver Ojol. Setiap pagi Amir menyalakan motornya tanpa tahu berapa yang akan ia bawa pulang malam nanti. Ia menghabiskan lebih dari 10 jam di jalan, mengejar order demi order yang tidak pernah pasti datang. Namun saat hari berakhir, satu hal tetap sama, yaitu rasa capek, tapi kepastian tetap tidak ada.
Tabooo.id: Life – Pagi belum benar-benar terang saat Amir menyalakan motornya. Jalanan di Kota Surakarta masih lengang, udara masih dingin, dan notifikasi aplikasi belum juga berbunyi. Ia menarik napas panjang, lalu mulai bergerak, bukan karena sudah ada orderan, tapi karena ia tahu, kalau tidak mulai lebih cepat, hari itu bisa terasa lebih berat.
Amir (32), bukan nama sebenarnya, sudah hampir empat tahun menjadi pengemudi ojek online. Dulu, ia sempat bekerja di pabrik di Kabupaten Karanganyar. Namun setelah kontraknya tidak diperpanjang, ia memilih menjadi driver ojol. Bukan karena ingin, tapi karena itu satu-satunya pilihan yang tersedia.
“Kalau Nggak Jalan, Nggak Dapat Apa-Apa”
Jam menunjukkan pukul 07.15. Amir sudah berkeliling lebih dari 30 menit, tapi belum ada satu pun order masuk. Ia tidak bisa diam di satu titik terlalu lama. Sistem aplikasi sering kali memberi prioritas pada driver yang aktif bergerak.
“Kalau nggak jalan, nggak dapat apa-apa,” katanya pelan.
Akhirnya, notifikasi pertama muncul. Order makanan, jaraknya lumayan jauh. Ia langsung menerima tanpa banyak pikir. Menolak order bukan pilihan mudah. Terlalu sering menolak, performa akun bisa turun. Dan kalau performa turun, order akan semakin jarang.
Hari Amir dimulai seperti itu, bergantung pada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
10 Jam di Jalan, Tapi Penghasilan Tetap Tipis
Menjelang siang, order mulai lebih ramai. Amir berpindah dari satu titik ke titik lain, antar makanan, jemput penumpang, kirim paket kecil. Tidak ada jeda yang benar-benar terasa sebagai istirahat.
Namun ketika sore datang, tubuhnya mulai terasa berat.
Ia biasanya bekerja lebih dari 10 jam sehari. Kadang sampai 12 jam, terutama jika ingin mengejar target tertentu dari aplikasi. Tapi meski jam kerjanya panjang, penghasilannya tidak selalu sebanding.
“Kalau lagi sepi, ya susah. Kadang sudah capek seharian, tapi hasilnya cuma cukup buat bensin sama makan,” ujarnya.
Pendapatan harian Amir tidak pernah benar-benar pasti. Ada hari ketika ia bisa membawa pulang lebih, tapi ada juga hari ketika ia hanya bisa menutup biaya operasional.
Potongan yang Terasa Berat
Setiap order yang Amir selesaikan tidak sepenuhnya menjadi miliknya. Ada potongan dari platform yang bisa mencapai sekitar 20 persen.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat kecil. Tapi bagi Amir, itu berarti banyak.
“Kalau dihitung-hitung, sebenarnya yang kita terima itu sudah kepotong banyak,” katanya.
Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sistem menentukan tarif atau pembagian hasil. Semua terasa berjalan otomatis. Ia hanya bisa menerima, tanpa ada ruang untuk bertanya.
“Kalau bisa lebih kecil, ya jelas lebih ringan buat kita,” ujarnya.
Istirahat yang Tidak Pernah Benar-Benar Ada
Sore hari, Amir berhenti sebentar di pinggir jalan. Ia membeli air minum dan duduk di atas motornya. Tapi bahkan saat berhenti, matanya tetap tertuju pada layar ponsel.
Order bisa datang kapan saja. Dan kalau ia terlambat merespons, order itu bisa hilang.
Istirahat menjadi sesuatu yang tidak pernah benar-benar utuh.
Ia tidak punya jam kerja tetap. Ia juga tidak punya jaminan kapan bisa berhenti tanpa kehilangan peluang mendapatkan penghasilan.
“Kalau berhenti lama, nanti ketinggalan order,” katanya.
Dalam dunia kerja seperti ini, waktu istirahat sering terasa seperti kemewahan.
Kalau Tan Malaka masih hidup di era ini, mungkin ia tidak hanya mengatakan, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”, Tapi juga mengatakan, “Istirahat adalah kemewahan terakhir yang dimiliki Ojol.”
Takut Sepi Lebih Besar dari Takut Capek
Malam mulai turun. Lampu jalan menyala, dan lalu lintas kembali padat. Banyak driver lain juga masih aktif, mencoba mengejar sisa waktu sebelum hari berakhir.
Amir masih bertahan di jalan.
Bukan karena ia tidak lelah. Tapi karena ia tahu, rasa lelah tidak selalu bisa mengalahkan kebutuhan.
“Capek itu biasa. Yang lebih takut itu kalau sepi,” ujarnya.
Ketakutan akan sepinya order sering kali lebih besar daripada kelelahan fisik. Karena sepi berarti tidak ada penghasilan. Dan tidak ada penghasilan berarti masalah di rumah.
Kerja Sendiri, Risiko Sendiri, Hasil Bagi-Bagi
Amir bekerja sendiri. Ia tidak punya atasan langsung, tidak punya kantor, dan tidak terikat jam kerja formal.
Namun, itu tidak berarti ia bebas sepenuhnya.
Amir tetap harus mengikuti aturan sistem dan tetap bergantung pada aplikasi. Ia harus menghadapi risiko di jalan, dari kecelakaan hingga cuaca buruk, tanpa perlindungan yang jelas.
Jika ia sakit, tidak ada penghasilan. Kalau motornya rusak, ia harus memperbaikinya sendiri.
Semua risiko ada di pundaknya.
Tapi ketika ada hasilnya? Dipotong. Dibagi-bagi.
“Saya Cuma Ingin Cukup”
Menjelang malam, Amir akhirnya memutuskan pulang. Ia menghitung penghasilannya hari itu. Tidak buruk, tapi juga tidak cukup lega.
Ia tersenyum kecil, lalu menyimpan ponselnya.
“Yang penting cukup,” katanya.
Amir tidak bicara soal kaya. Ia tidak bicara soal sukses besar. Dia hanya ingin hidupnya stabil. Bisa makan, bayar kebutuhan, dan tidak terus merasa khawatir setiap hari.
Cerita yang Tidak Hanya Milik Amir
Cerita Amir bukan cerita yang unik. Di banyak kota lain di Indonesia, ribuan driver ojol menjalani hari yang hampir sama.
Mereka bekerja lebih lama, menghadapi ketidakpastian, dan menanggung risiko sendiri.
Pertanyaan tentang keadilan, perlindungan, dan tentang batas antara kerja keras dan bertahan hidup.
Lalu pertanyaannya sekarang, kalau kerja 10 jam lebih saja masih terasa kurang, sebenarnya yang salah di mana? @tabooo





