Tabooo.id: Vibes – Bayangkan: seekor babi berdiri di depan hakim, dikelilingi pendeta dan warga desa. Ia mengenakan kemeja putih, dituduh membunuh anak kecil. Tak ada CGI, tak ada naskah film absurd ini benar-benar terjadi.
Eropa abad pertengahan adalah masa ketika keadilan tidak hanya bicara pada manusia. Tikus, ayam jantan, bahkan belalang bisa diseret ke pengadilan.
Mereka dituduh mencuri gandum, menyebarkan penyakit, atau sekadar bertelur di waktu yang salah.
Dan lucunya, beberapa dari mereka bahkan punya pengacara pembela.
Tiba-tiba, kata “pengadilan” terdengar seperti panggung teater yang dipenuhi absurditas dan kesakralan sekaligus.
Dari Babi yang Digantung sampai Tikus yang Diampuni
Antara tahun 1400 dan 1700, Eropa mempraktikkan apa yang disebut pengadilan hewan. Dua versinya: sekuler dan gerejawi.
Jika hewan itu milik seseorang misalnya sapi atau babi maka kasusnya diadili di pengadilan sekuler.
Tapi jika pelakunya adalah hama atau hewan liar, seperti tikus atau belalang, maka kasusnya diurus gereja.
Kasus paling terkenal datang dari Prancis tahun 1457, seekor babi betina dinyatakan bersalah karena membunuh anak kecil. Ia dieksekusi di depan umum.
Anak-anak babinya? Dimaafkan, karena dianggap “tidak cukup umur untuk memahami kejahatan.”
Beberapa dekade sebelumnya, babi lain di Normandia digantung di tiang gantungan setelah membunuh bayi.
“Para petani membawa babi mereka sendiri menonton hukuman itu agar mereka belajar berperilaku baik,” tulis sejarawan Rivy Lyon dengan nada getir.
Kisah lain datang dari Basel, Swiss. Seekor ayam jantan diadili karena… bertelur.
Tindakan itu dianggap bagian dari ilmu sihir, dan si ayam akhirnya dibakar bersama telurnya.
Rasionalitas belum lahir. Dunia masih dikuasai oleh simbol dan takhayul.
Dari Ladang ke Pengadilan: Tikus, Belalang, dan Doa Kutukan
Hewan liar punya nasib sedikit berbeda. Mereka tidak bisa ditangkap, jadi mereka dikucilkan secara spiritual.
Pendeta akan datang ke ladang, membaca doa pengusiran dengan nada serius seolah bicara pada setan.
Pada 1510, pengacara Bartholomew Chassenée membela sekelompok tikus yang dituduh merusak tanaman.
Ketika tikus-tikus itu tidak muncul di pengadilan, ia berdalih: “Klien saya takut keluar karena banyak kucing di jalan.”
Hakim kebingungan, sidang ditunda, dan kasus itu akhirnya dibatalkan.
Sungguh, pembelaan paling kreatif dalam sejarah hukum.
Beberapa kasus lain bahkan lebih ganjil: hama ladang seperti belalang dikirimi surat resmi yang memerintahkan mereka pergi dalam waktu tertentu.
Bayangkan selembar kertas bertuliskan:
“Kepada Tuan Belalang dan keluarga, mohon segera meninggalkan wilayah ini sebelum Kamis, atau kami akan memohon murka Tuhan.”
Absurd, ya. Tapi justru di situlah potret manusia terlihat paling jujur ingin menegakkan tatanan di dunia yang penuh ketidakpastian.
Makna Budaya dari Keadilan Aneh Ini
Lucunya, pola pikir abad pertengahan itu terasa familiar di era digital.
Kita mungkin tidak lagi menggantung babi, tapi kita masih mengadili lewat kolom komentar dan linimasa.
Sekarang bukan babi atau ayam yang jadi terdakwa, tapi manusia yang “bersalah” karena tweet lama, potongan video, atau salah bicara di podcast.
Dulu, masyarakat menuntut keadilan untuk memulihkan keseimbangan ilahi.
Sekarang, kita menuntutnya demi moral publik dan engagement algoritmik.
Bedanya tipis: dulu ada pendeta, sekarang ada influencer moral.
Dan kalau dipikir, pengadilan hewan mungkin tak sekonyol itu. Ia adalah refleksi dari ketakutan terdalam manusia terhadap kekacauan bahwa ada sesuatu yang melanggar tatanan, dan seseorang (atau sesuatu) harus disalahkan.
Ketika petani kehilangan panen karena tikus, mereka butuh kambing hitam.
Ketika kita kehilangan rasa aman karena berita palsu atau politik kotor, kita pun mencari musuh di timeline.
Siapa yang Kita Adili Hari Ini?
Pengadilan hewan berakhir di era Pencerahan, ketika sains menggantikan takhayul.
Namun, di abad ke-21, semangatnya tetap hidup dalam bentuk lain.
Kita masih haus menuduh, masih ingin melihat “hukuman publik,” dan masih percaya bahwa kebenaran bisa ditegakkan lewat keramaian.
Hanya panggungnya yang berubah: dari alun-alun desa ke ruang digital.
Hanya terdakwanya yang berganti: dari babi dan tikus menjadi selebgram dan politisi.
Manusia, rupanya, tak pernah benar-benar berhenti bermain jadi hakim.
Kita hanya mengganti kostum dan medium.
Dunia yang Tak Pernah Benar-Benar Rasional
Barangkali, pengadilan hewan adalah cara manusia kuno mengatur kekacauan hidup sama seperti kita menulis komentar pedas di kolom berita hari ini.
Lucu, tapi juga menyedihkan, kita tetap ingin keadilan, tapi tak pernah tahu bentuknya.
Karena sejak dulu sampai sekarang, entah di gereja abad ke-15 atau di Twitter tahun 2025, kita selalu punya satu kebiasaan yang sama:
mengadili yang lemah, demi merasa paling benar. @dimas




