Kita hidup di zaman serba cepat. Scroll, swipe, like semuanya terjadi dalam hitungan detik. Namun di Solo, Rabu (29/4), ritme itu berubah. Sebanyak 1.700 penari turun ke jalan dalam gelaran Solo Menari 2026.
Tabooo.id: Talk – Alih-alih viral dalam 15 detik, mereka memilih bergerak pelan. Dan justru di situlah pertanyaan besar muncul: di era TikTok, masih relevan nggak sih tari tradisional?
Ketika 1.700 Orang Menjawab Tanpa Kata
Jawabannya sebenarnya sudah ada di jalanan Solo.
Ribuan orang tidak hanya menonton mereka bertahan, menyaksikan, bahkan larut dalam gerakan.
Tanpa filter, editan dan algoritma.
Menurut Heru Mataya, acara ini bukan sekadar pertunjukan.
“Ini panggung inklusi. Semua bisa terlibat dari penari, buruh, hingga penyintas,” ujarnya.
Artinya, budaya tidak kehilangan relevansi.
Ia hanya jarang diberi ruang sebesar itu.
Gen Z Nggak Peduli, atau Nggak Ketemu?
Banyak yang bilang generasi sekarang makin jauh dari budaya.
Katanya, Gen Z lebih hafal tren dance TikTok daripada tari tradisional.
Tapi lihat Solo Menari 2026.
Ribuan orang datang. Ribuan penari ikut.
Jadi masalahnya bukan di minat.
Masalahnya: apakah budaya hadir di ruang yang sama dengan mereka?
Karena faktanya, timeline kita jarang memunculkan budaya.
Algoritma lebih suka yang cepat, ringan, dan instan.
Tari Tradisional vs Konten 15 Detik
Di satu sisi, TikTok memberi panggung besar.
Siapa pun bisa viral.
Namun di sisi lain, durasi pendek memaksa segalanya jadi ringkas.
Termasuk seni.
Padahal, tari tradisional bukan sekadar gerakan.
Ia menyimpan cerita, filosofi, bahkan identitas.
Ketika semua dipadatkan jadi 15 detik,
yang tersisa sering kali hanya visual bukan makna.
Solo Menari: Bukti atau Pengecualian?
Di titik ini, Solo Menari 2026 jadi penting.
Ia membuktikan satu hal:
kalau diberi ruang, budaya tidak kalah menarik.
Namun, pertanyaannya bergeser:
apakah ini pengecualian atau bisa jadi kebiasaan?
Karena satu event besar tidak cukup untuk melawan arus digital setiap hari.
Masalahnya Bukan Relevansi, Tapi Prioritas
Tari tradisional tidak pernah benar-benar tidak relevan.
Yang berubah hanyalah prioritas kita.
Kita lebih sering memilih yang cepat daripada yang bermakna.
Lebih memilih yang viral daripada yang berakar.
Padahal, tanpa budaya, kita hanya ikut arus global tanpa identitas.
Lalu, Kita Mau Pilih Apa?
Solo sudah memberi contoh.
1.700 penari membuktikan bahwa budaya masih hidup.
Sekarang, pertanyaannya balik ke kita.
Kita mau terus jadi penonton tren?
Atau mulai jadi penjaga identitas?
Karena pada akhirnya,
yang hilang bukan budaya tapi perhatian kita.@eko





