Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masih Relevan Nggak Sih Tari Tradisional di Era TikTok?

by eko
April 30, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Kita hidup di zaman serba cepat. Scroll, swipe, like semuanya terjadi dalam hitungan detik. Namun di Solo, Rabu (29/4), ritme itu berubah. Sebanyak 1.700 penari turun ke jalan dalam gelaran Solo Menari 2026.

Tabooo.id: Talk – Alih-alih viral dalam 15 detik, mereka memilih bergerak pelan. Dan justru di situlah pertanyaan besar muncul: di era TikTok, masih relevan nggak sih tari tradisional?

Ketika 1.700 Orang Menjawab Tanpa Kata

Jawabannya sebenarnya sudah ada di jalanan Solo.

Ribuan orang tidak hanya menonton mereka bertahan, menyaksikan, bahkan larut dalam gerakan.
Tanpa filter, editan dan algoritma.

Menurut Heru Mataya, acara ini bukan sekadar pertunjukan.
“Ini panggung inklusi. Semua bisa terlibat dari penari, buruh, hingga penyintas,” ujarnya.

Artinya, budaya tidak kehilangan relevansi.
Ia hanya jarang diberi ruang sebesar itu.

Ini Belum Selesai

AI Mempercepat Jawaban, Tetapi Bukan Pemahaman

URI: Ambisi Besar dan Dasar Hukum yang Dipersoalkan

Gen Z Nggak Peduli, atau Nggak Ketemu?

Banyak yang bilang generasi sekarang makin jauh dari budaya.
Katanya, Gen Z lebih hafal tren dance TikTok daripada tari tradisional.

Tapi lihat Solo Menari 2026.
Ribuan orang datang. Ribuan penari ikut.

Jadi masalahnya bukan di minat.
Masalahnya: apakah budaya hadir di ruang yang sama dengan mereka?

Karena faktanya, timeline kita jarang memunculkan budaya.
Algoritma lebih suka yang cepat, ringan, dan instan.

Tari Tradisional vs Konten 15 Detik

Di satu sisi, TikTok memberi panggung besar.
Siapa pun bisa viral.

Namun di sisi lain, durasi pendek memaksa segalanya jadi ringkas.
Termasuk seni.

Padahal, tari tradisional bukan sekadar gerakan.
Ia menyimpan cerita, filosofi, bahkan identitas.

Ketika semua dipadatkan jadi 15 detik,
yang tersisa sering kali hanya visual bukan makna.

Solo Menari: Bukti atau Pengecualian?

Di titik ini, Solo Menari 2026 jadi penting.

Ia membuktikan satu hal:
kalau diberi ruang, budaya tidak kalah menarik.

Namun, pertanyaannya bergeser:
apakah ini pengecualian atau bisa jadi kebiasaan?

Karena satu event besar tidak cukup untuk melawan arus digital setiap hari.

Masalahnya Bukan Relevansi, Tapi Prioritas

Tari tradisional tidak pernah benar-benar tidak relevan.
Yang berubah hanyalah prioritas kita.

Kita lebih sering memilih yang cepat daripada yang bermakna.
Lebih memilih yang viral daripada yang berakar.

Padahal, tanpa budaya, kita hanya ikut arus global tanpa identitas.

Lalu, Kita Mau Pilih Apa?

Solo sudah memberi contoh.
1.700 penari membuktikan bahwa budaya masih hidup.

Sekarang, pertanyaannya balik ke kita.

Kita mau terus jadi penonton tren?
Atau mulai jadi penjaga identitas?

Karena pada akhirnya,
yang hilang bukan budaya tapi perhatian kita.@eko

Tags: Balaikota SoloEvent Budaya Kota SoloJawa TengahKomunitas Menari Kota SoloSolo Menari 2026Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Road to Porprov: Battle of Surakarta Uji Mental Atlet Jateng

Road to Porprov: Battle of Surakarta Uji Mental Atlet Jateng

by dimas
Juli 25, 2026

Battle of Surakarta 2026 menguji mental atlet Muaythai Jawa Tengah menjelang Porprov. Kejurprov menjadi tolok ukur kesiapan bertanding, disiplin, dan...

Battle of Surakarta 2026: Mencetak Masa Depan Muaythai Jateng

Battle of Surakarta 2026: Mencetak Masa Depan Muaythai Jateng

by dimas
Juli 25, 2026

Battle of Surakarta 2026 menjadi ajang pembuktian pembinaan Muaythai Jawa Tengah. Kejurprov mengukur kesiapan atlet menuju Porprov, PON, hingga panggung...

Muaythai Jateng Perkuat Prestasi Lewat Penataran Pelatih dan Wasit Juri

Muaythai Jateng Perkuat Prestasi Lewat Penataran Pelatih dan Wasit Juri

by dimas
Juli 23, 2026

Muaythai Jateng memperkuat pembinaan atlet melalui penataran pelatih dan wasit juri sebagai langkah mencetak prestasi di level nasional hingga internasional....

Next Post
Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id