Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masih Relevan Nggak Sih Tari Tradisional di Era TikTok?

by eko
April 30, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Kita hidup di zaman serba cepat. Scroll, swipe, like semuanya terjadi dalam hitungan detik. Namun di Solo, Rabu (29/4), ritme itu berubah. Sebanyak 1.700 penari turun ke jalan dalam gelaran Solo Menari 2026.

Tabooo.id: Talk – Alih-alih viral dalam 15 detik, mereka memilih bergerak pelan. Dan justru di situlah pertanyaan besar muncul: di era TikTok, masih relevan nggak sih tari tradisional?

Ketika 1.700 Orang Menjawab Tanpa Kata

Jawabannya sebenarnya sudah ada di jalanan Solo.

Ribuan orang tidak hanya menonton mereka bertahan, menyaksikan, bahkan larut dalam gerakan.
Tanpa filter, editan dan algoritma.

Menurut Heru Mataya, acara ini bukan sekadar pertunjukan.
“Ini panggung inklusi. Semua bisa terlibat dari penari, buruh, hingga penyintas,” ujarnya.

Artinya, budaya tidak kehilangan relevansi.
Ia hanya jarang diberi ruang sebesar itu.

Ini Belum Selesai

BBM Naik, UU Polri Disahkan: Kebetulan atau Pengalihan Isu?

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Gen Z Nggak Peduli, atau Nggak Ketemu?

Banyak yang bilang generasi sekarang makin jauh dari budaya.
Katanya, Gen Z lebih hafal tren dance TikTok daripada tari tradisional.

Tapi lihat Solo Menari 2026.
Ribuan orang datang. Ribuan penari ikut.

Jadi masalahnya bukan di minat.
Masalahnya: apakah budaya hadir di ruang yang sama dengan mereka?

Karena faktanya, timeline kita jarang memunculkan budaya.
Algoritma lebih suka yang cepat, ringan, dan instan.

Tari Tradisional vs Konten 15 Detik

Di satu sisi, TikTok memberi panggung besar.
Siapa pun bisa viral.

Namun di sisi lain, durasi pendek memaksa segalanya jadi ringkas.
Termasuk seni.

Padahal, tari tradisional bukan sekadar gerakan.
Ia menyimpan cerita, filosofi, bahkan identitas.

Ketika semua dipadatkan jadi 15 detik,
yang tersisa sering kali hanya visual bukan makna.

Solo Menari: Bukti atau Pengecualian?

Di titik ini, Solo Menari 2026 jadi penting.

Ia membuktikan satu hal:
kalau diberi ruang, budaya tidak kalah menarik.

Namun, pertanyaannya bergeser:
apakah ini pengecualian atau bisa jadi kebiasaan?

Karena satu event besar tidak cukup untuk melawan arus digital setiap hari.

Masalahnya Bukan Relevansi, Tapi Prioritas

Tari tradisional tidak pernah benar-benar tidak relevan.
Yang berubah hanyalah prioritas kita.

Kita lebih sering memilih yang cepat daripada yang bermakna.
Lebih memilih yang viral daripada yang berakar.

Padahal, tanpa budaya, kita hanya ikut arus global tanpa identitas.

Lalu, Kita Mau Pilih Apa?

Solo sudah memberi contoh.
1.700 penari membuktikan bahwa budaya masih hidup.

Sekarang, pertanyaannya balik ke kita.

Kita mau terus jadi penonton tren?
Atau mulai jadi penjaga identitas?

Karena pada akhirnya,
yang hilang bukan budaya tapi perhatian kita.@eko

Tags: Balaikota SoloEvent Budaya Kota SoloJawa TengahKomunitas Menari Kota SoloSolo Menari 2026Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

by teguh
Juni 11, 2026

Lima juta kendaraan di Jawa Tengah tidak membayar pajak hingga akhir 2025. Angka itu bukan sekadar catatan administrasi. Nilainya mencapai...

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

by Tabooo
Mei 29, 2026

Gerakan anti swapraja Surakarta bukan sekadar penolakan terhadap keraton. Ia lahir dari benturan Republik, feodalisme, ketimpangan agraria, dan kemarahan kelas...

Next Post
Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id