Kamis, April 30, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Di Tengah Scroll Tanpa Henti, Solo Memilih Menari

by eko
April 29, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Sore itu, Solo tidak sibuk seperti biasanya. Alih-alih terburu-buru, orang-orang justru berhenti. Mereka menonton. Mereka menyaksikan. Dan di saat itulah, kota ini memilih melambat.

Tabooo: Deep – Sebanyak 1.700 penari kipas memenuhi jalanan untuk melaksanakan Solo Menari 2026. Dari berbagai sudut kota, mereka bergerak menuju satu titik. Lalu, mereka menyatu dalam satu ritme yang sama memperingati hari tari sedunia.

Bukan sekadar tampil, mereka menghidupkan sesuatu yang sering kita lupakan: rasa memiliki terhadap budaya.

Di Era Digital, Apa yang Masih Bertahan?

Sekarang, kita hidup di zaman yang serba cepat.
Setiap hari, kita scroll lebih sering daripada membaca. Bahkan, kita lebih cepat memberi “like” daripada benar-benar memahami.

Akibatnya, banyak hal terasa instan.
Namun, di sisi lain, hal-hal yang butuh waktu seperti tari tradisional mulai dianggap ketinggalan.

Padahal, di balik setiap gerakan, tersimpan cerita panjang tentang identitas kita.

Ini Belum Selesai

May Day di Era Ketidakpastian: Ketika Kerja Keras Tak Lagi Menjamin Hidup Layak

Gig Economy Indonesia: Fleksibel atau Eksploitasi Gaya Baru?

Menurut Heru Mataya, Solo Menari bukan sekadar pertunjukan.
“Ini pertemuan antara seni tari, musik, dan manusia. Semua orang bisa terlibat, tanpa batas,” jelasnya.

Karena itu, kekuatan acara ini tidak hanya ada di panggung, tapi juga di maknanya.

Tradisi Tidak Hilang Ia Hanya Jarang Dilihat

Sebenarnya, budaya kita tidak hilang.
Namun, kita jarang memberinya ruang.

Sementara itu, algoritma media sosial terus mendorong tren global ke layar kita. Akibatnya, budaya lokal perlahan tersisih bukan karena kalah, tapi karena tidak terlihat.

Namun, di Solo, situasinya berbeda.

Penari dari berbagai latar belakang mulai dari penyandang disabilitas, penyintas kanker, hingga pekerja berdiri di panggung yang sama. Mereka menari bersama tanpa sekat.

Dengan demikian, panggung itu bukan hanya tempat tampil.
Ia menjadi ruang setara.

Tradisi vs Dunia yang Terus Bergerak

Di satu sisi, dunia terus berlari.
Teknologi berkembang. Tren berubah setiap saat.

Namun, di sisi lain, tari tradisional tetap bergerak dengan ritme yang sama pelan, teratur, dan penuh makna.

Di sinilah konflik muncul.

Apakah kita masih punya waktu untuk sesuatu yang tidak instan?

Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, melihat fenomena ini sebagai tanda positif.
“Seni tari masih hidup dan dicintai masyarakat,” katanya.

Namun, pertanyaannya belum selesai di situ.

Ini Bukan Sekadar Pertunjukan. Ini Pertahanan

Solo Menari 2026 bukan hanya soal jumlah penari.
Bukan juga soal rekor.

Sebaliknya, ini adalah cara budaya bertahan di tengah perubahan zaman.

Karena budaya tidak hilang secara tiba-tiba.
Ia memudar perlahan, saat kita berhenti melihatnya, berhenti merasakannya, dan akhirnya berhenti menjaganya.

Oleh karena itu, momen ini menjadi penting.
Bukan karena besar, tapi karena bermakna.

Apa Artinya Buat Kita?

Di tengah 1.700 penari yang bergerak serempak, ada satu pesan yang terasa jelas.

Identitas tidak dibentuk oleh apa yang viral.
Sebaliknya, identitas lahir dari apa yang kita jaga.

Kita boleh mengikuti tren global.
Kita boleh hidup di era digital.

Namun, jika kita kehilangan budaya sendiri lalu apa yang tersisa?@eko

Tags: Balaikota SoloEvent Budaya Kota SoloJawa TengahSolo Menari 2026Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Masih Relevan Nggak Sih Tari Tradisional di Era TikTok?

Masih Relevan Nggak Sih Tari Tradisional di Era TikTok?

by eko
April 30, 2026

Kita hidup di zaman serba cepat. Scroll, swipe, like semuanya terjadi dalam hitungan detik. Namun di Solo, Rabu (29/4), ritme...

Dari Jalan ke Rasa: Solo Menari 2026 dan Detak Kota yang Hidup

Dari Jalan ke Rasa: Solo Menari 2026 dan Detak Kota yang Hidup

by jeje
April 29, 2026

Tidak semua keramaian terasa sama. Namun sore itu di Solo, ribuan orang tidak hanya datang untuk menonton. Mereka datang untuk...

Tugu Pamandengan Bangkit: 1.700 Penari Hidupkan Solo

Tugu Pamandengan Bangkit: 1.700 Penari Hidupkan Solo

by eko
April 29, 2026

Siang itu, Solo tidak sekadar ramai ia hidup. Orang-orang berhenti, menoleh, lalu tanpa sadar masuk ke dalam satu momen yang...

Next Post
The Longest Wait: Ketika Timnas Jadi Tempat Bangsa Menaruh Harapan

The Longest Wait: Ketika Timnas Jadi Tempat Bangsa Menaruh Harapan

Pilihan Tabooo

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

Siti Mawarni: Lagu yang Lembut di Nada, Tapi Tajam Menampar Realita Narkoba

April 27, 2026

Realita Hari Ini

Solo Menari 2026: Ribuan Penari Buktikan Budaya Tak Pernah Mati

Solo Menari 2026: Ribuan Penari Buktikan Budaya Tak Pernah Mati

April 29, 2026

Timnas ke Bioskop: Saat Mimpi Indonesia Menuju Piala Dunia Masuk Layar Lebar

April 29, 2026

Bukan Satu Kecelakaan: Ini Rantai Peristiwa di Balik Tragedi Kereta Bekasi Timur

April 29, 2026

Saat Dunia Fokus Perang, 4 WNI Disandera Bajak Laut Somalia

April 30, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id