Empat warga Indonesia disandera bajak laut di Somalia selama sepekan. Negosiasi berjalan. Tapi waktu tidak berpihak. Di tengah dunia yang sibuk dengan perang besar, satu pertanyaan muncul: siapa yang benar-benar berjuang menyelamatkan mereka?
Tabooo.id: Global – Selasa malam (21/04), semuanya terlihat normal. Tidak ada alarm dan peringatan.
Lalu satu pesan suara masuk. “Kapal diserang bajak laut.”
Pesan itu dikirim Ashari Samadikun ke istrinya, Santi Sanaya, pukul 19.30 WITA.
Pesannya singkat. Nadanya datar. Namun, dampaknya menghancurkan.
Santi langsung menelepon balik. Tidak ada jawaban.
Beberapa jam kemudian, ponsel itu mati total.
“Putus… betul-betul putus komunikasiku sama dia.”
Sejak saat itu, ketidakpastian mengambil alih.
Kapal Dikuasai, Nyawa Dikendalikan
Kapal tanker MT Honour 25 membawa 17 awak. Empat di antaranya WNI.
Saat kapal melintas, sekitar 15 orang bersenjata naik ke dek. Mereka langsung menyita ponsel dan mengambil alih kendali.
Kini, para awak berada di bawah pengawasan sekitar 30 perompak di dekat pesisir Somalia.
Mereka masih hidup, masih makan dan beribadah.
Namun, situasinya tetap berbahaya.
“Suamiku beberapa kali ditodong senjata,” kata Santi.
Bahkan, dalam satu panggilan video, Ashari menunjukkan bekas peluru di badan kapal.
Satu Kalimat untuk Bertahan Hidup
Di tengah ancaman, Ashari memilih berbicara.
“Assalamualaikum. Jangan tembak saya. Saya Muslim.”
Perompak langsung merespons.
“Kau Muslim?”
“Iya.”
“Saya juga Muslim.”
Di momen itu, identitas berubah fungsi.
Bukan lagi keyakinan, melainkan cara bertahan hidup.
Negosiasi Jalan, Tekanan Meningkat
Sejak Jumat (24/04), para perompak membuka akses komunikasi secara terbatas.
Ashari sempat memberi kabar bahwa negosiasi sedang berlangsung.
Tebusan sedang dibahas.
Namun setelah itu, ia memberi peringatan.
“Jangan hubungi saya lagi.”
Ia tidak menolak komunikasi. Sebaliknya, ia mencoba melindungi semua pihak.
Ia takut satu panggilan saja bisa memicu kekerasan.
Negara Bergerak, Tapi Jalurnya Rumit
Pemerintah Indonesia terus bergerak. Melalui KBRI Nairobi, mereka menjalin koordinasi dengan otoritas Somalia, tokoh lokal, dan pihak terkait.
Fokusnya jelas yaitu menyelamatkan WNI.
Namun, situasi di lapangan tidak sederhana. Di wilayah seperti Somalia, negara tidak selalu memegang kendali.
Sebaliknya, kelompok bersenjata sering menentukan keadaan.
Dunia Sibuk, Celah Terbuka
Kemunculan bajak laut ini bukan kebetulan.
Saat ini, perhatian global terpecah.
Konflik Timur Tengah memanas. Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan. Sementara itu, konflik lain belum selesai.
Akibatnya, pengawasan laut melemah. Celah terbuka.
Dan kemudian, perompak bergerak.
“Mereka tidak pernah hilang. Mereka hanya menunggu momen,” kata pengamat maritim.
Pembajakan sebagai Industri
Di Somalia, pembajakan bukan aksi spontan.
Sebaliknya, praktik ini berjalan seperti industri.
Ada pendanaan, jaringan, dan negosiator.
Mereka mengincar kapal tanker karena mudah diakses dan bernilai tinggi.
Motifnya tetap sama yaitu uang tebusan.
Sebelumnya, praktik ini bahkan menghasilkan ratusan juta dolar.
Kini, pola itu mulai kembali terlihat.
Pola Lama Terulang
Indonesia pernah menghadapi situasi serupa.
Tahun 2011, kapal MV Sinar Kudus disandera. Pemerintah berhasil menyelamatkan seluruh kru.
Kemudian, tahun 2012, kapal FV Naham dibajak. Para korban baru bebas setelah bertahun-tahun.
Artinya, kasus seperti ini bukan hal baru.
Dan kemungkinan besar, ini belum akan menjadi yang terakhir.
Di Rumah, Waktu Terasa Lebih Berat
Di Desa Pacellekang, Gowa, waktu terasa berjalan lebih lambat.
Santi menunggu. Anak-anak menunggu.
Setiap hari terasa lebih panjang.
“Semoga bisa kembali semua dalam keadaan selamat.”
Harapannya sederhana yaitu pulang.
Ini bukan sekadar pembajakan kapal.
Ini adalah pola.
Saat dunia sibuk dengan konflik besar, tragedi seperti ini muncul di celah yang terlupakan.
Nyawa manusia berubah menjadi angka.
Berubah menjadi negosiasi dan jadi taruhan.
Di tengah laut yang luas, Ashari dan kru lainnya masih bertahan.
Menunggu negosiasi selesai. Dimana saat dunia benar-benar peduli.
Dan satu pertanyaan tetap menggantung… kalau itu keluargamu, berapa lama kamu sanggup menunggu? @waras


