BRIN merayakan usia lima tahun dengan tema Inovasi untuk Negeri. Temanya besar, pesannya kuat. Tetapi publik tetap berhak bertanya inovasi itu sudah masuk ke hidup rakyat, atau masih berputar di ruang seminar?
Tabooo.id: Edge – Jakarta, 28 April 2026 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) genap berusia lima tahun. Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut lima tahun terakhir sebagai fase penting untuk membangun ekosistem riset nasional yang terintegrasi, kolaboratif, dan fokus pada solusi.
“BRIN dibangun bukan sekadar sebagai lembaga riset, tetapi sebagai rumah besar inovasi nasional,” ujar Arif melalui situs resmi BRIN, Senin (27/04/2026).
Selama lima tahun terakhir, BRIN memperkuat infrastruktur riset, menaikkan jumlah publikasi ilmiah, membina peneliti muda, serta memperluas kolaborasi dengan kampus, industri, pemerintah daerah, dan mitra global.
BRIN juga melahirkan sejumlah inovasi. Di antaranya teknologi air siap minum, sistem pemantauan bencana berbasis satelit, benih pertanian unggul, teknologi kesehatan, energi terbarukan, hingga pendampingan UMKM berbasis sains.
Namun pertanyaan utamanya bukan hanya apa yang BRIN hasilkan. Pertanyaan besarnya berapa banyak inovasi yang benar-benar dipakai masyarakat?
Banyak Riset, Sedikit yang Menyentuh Pasar
Indonesia tidak kekurangan ide. Kampus menghasilkan penelitian setiap tahun. Peneliti terus mencari solusi. Talenta muda terus tumbuh. Namun terlalu banyak hasil riset berhenti di rak laporan, jurnal ilmiah, atau panggung pameran.
Ekonom inovasi Mariana Mazzucato menegaskan bahwa negara maju tidak hanya menemukan ide. Mereka mengubah ide menjadi industri, lapangan kerja, dan kesejahteraan.
Di titik itu, Indonesia masih tertinggal. Kita sering merayakan peluncuran prototipe. Tetapi setelah lampu kamera mati, banyak inovasi ikut tenggelam.
Peneliti Jangan Kalah oleh Formulir
Masalah lama riset nasional bukan hanya soal dana. Hambatan lain datang dari birokrasi berlapis: administrasi lambat, aturan sering berubah, koordinasi rumit, dan jalur hilirisasi terlalu panjang.
Akibatnya, banyak peneliti menghabiskan waktu untuk mengurus berkas, bukan menciptakan terobosan.
Sosiolog Robert K. Merton pernah mengingatkan bahwa birokrasi sering kehilangan arah saat prosedur lebih penting daripada hasil. Ketika formulir menang, inovasi kalah.
Negara yang serius membangun sains memberi ruang gerak cepat bagi ilmuwan. Negara yang ragu justru memberi mereka rapat tanpa akhir.
BRIN Punya Momentum Besar
Arif Satria menegaskan BRIN akan fokus pada sektor prioritas: pangan, energi, kesehatan, kebencanaan, transformasi digital, kelautan, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Arah ini tepat. Indonesia membutuhkan riset yang hadir di sawah petani, pabrik industri, ruang kelas, rumah sakit, dan wilayah rawan bencana.
Tetapi target besar tidak cukup lewat pidato. BRIN harus menjalankannya lewat kerja nyata.
Artinya, BRIN perlu mempercepat kerja sama industri, memangkas hambatan administrasi, mempercepat lisensi teknologi, dan mendorong hasil riset masuk ke pasar.
Ini Bukan Soal Ulang Tahun
Perayaan lima tahun BRIN seharusnya bukan sekadar seremoni lembaga. Momentum ini harus menguji keseriusan Indonesia membangun masa depan berbasis ilmu pengetahuan.
Negara maju tidak lahir dari spanduk inovasi. Negara maju tumbuh dari keberanian mengeksekusi inovasi. Rakyat tidak butuh tepuk tangan untuk sains. Rakyat butuh hasil nyata. @teguh





