Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan Kabinet Merah Putih untuk kelima kalinya sejak awal masa jabatannya. Di tengah tuntutan stabilitas pemerintahan dan percepatan program prioritas nasional, reshuffle yang berulang ini justru memunculkan pertanyaan tentang arah dan kematangan desain kabinet yang masih terus berubah.
Tabooo.id: Nasional – Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah pejabat baru, menggeser posisi menteri, serta menarik kembali tokoh yang sebelumnya pernah dicopot dalam reshuffle jilid V di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026). Perubahan ini menyentuh struktur kementerian dan lembaga strategis seperti Kantor Staf Presiden serta Badan Komunikasi Pemerintah. Di balik langkah akomodasi politik tersebut, muncul kekhawatiran mengenai stabilitas arah pemerintahan, efektivitas kerja kabinet, dan konsistensi visi pembangunan jangka panjang.
Kabinet Masih Bergerak, Belum Menemukan Bentuk Final
Presiden Prabowo Subianto kembali merombak Kabinet Merah Putih untuk kelima kalinya sejak pelantikan pada Oktober 2024. Ia melakukan langkah ini di tengah kebutuhan akan kepastian kebijakan dan stabilitas politik.
Perombakan terbaru ini menegaskan bahwa kabinet belum memiliki format yang benar-benar final. Pemerintah masih menata ulang komposisi di berbagai posisi strategis.
Pelantikan, Rotasi, dan Kembalinya Nama Lama
Pada Senin (27/4/2026), Prabowo melantik pejabat baru di Istana Negara Jakarta. Ia juga merotasi sejumlah jabatan dan mengembalikan nama-nama yang sebelumnya sempat tersingkir.
Salah satu keputusan paling menonjol adalah penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif Faisol Nurofiq. Jumhur dikenal sebagai aktivis buruh dan pernah terlibat dalam tim pemenangan Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar pada Pilpres 2024.
Sementara itu, Hanif tidak keluar dari pemerintahan. Ia justru berpindah menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan dan mendampingi Zulkifli Hasan.
Perubahan di Lembaga Komunikasi Pemerintah
Perombakan juga menyentuh sektor komunikasi pemerintah. Prabowo menunjuk Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom).
Angga Raka Prabowo tetap bertahan sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital meski posisinya bergeser dari struktur sebelumnya.
Di sisi lain, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Ia menggantikan posisi yang sebelumnya diisi Qodari.
Kembalinya Figur yang Pernah Dicopot
Dua nama lama kembali masuk ke struktur pemerintahan. Pemerintah mengangkat Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Nasional.
Selain itu, Hasan Nasbi kembali ke Istana sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi. Keduanya sempat keluar dari lingkar kekuasaan sebelumnya.
Struktur Kabinet Kian Gemuk
Secara keseluruhan, pemerintah mengubah lima posisi strategis. Ia juga membentuk dua jabatan baru, yaitu Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Namun perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi reshuffle, tetapi juga frekuensinya. Dalam 18 bulan pemerintahan, KSP dan Bakom sudah tiga kali berganti pimpinan.
Pola ini menunjukkan bahwa desain lembaga inti pemerintahan masih terus diuji dan disesuaikan.
Kritik: Kabinet Masih dalam Fase Pencarian Bentuk
Guru besar Universitas Gadjah Mada, Gabriel Lele, menilai reshuffle berulang ini menunjukkan kabinet masih mencari bentuk ideal. Ia melihat pola tersebut lebih kuat sebagai akomodasi politik daripada desain kerja yang stabil.
“Risikonya, pengelolaan persepsi publik bisa terganggu. Percepatan pembangunan belum tentu terjadi, tetapi citra pemerintah bisa menurun,” ujarnya.
Analis CSIS, Arya Fernandes, juga menilai Prabowo masih menyusun komposisi kabinet yang tepat. Ia menyoroti masuknya figur dari berbagai latar politik, termasuk lawan di Pilpres 2024, sebagai tanda konsolidasi yang belum selesai.
Kabinet Gemuk, Tantangan Koordinasi Meningkat
Kabinet Merah Putih kini disebut berisi sekitar 150 pejabat, mulai dari menteri, wakil menteri, hingga kepala lembaga. Struktur besar ini memunculkan tantangan baru dalam koordinasi dan pengambilan keputusan.
Arya menegaskan bahwa kabinet tidak boleh hanya menjadi ruang akomodasi politik. Ia harus bekerja sebagai mesin utama pembangunan nasional.
“Pemilihan orang yang tepat menjadi kunci untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045,” katanya.
Penutup: Kabinet yang Masih Berubah
Hingga kini, Kabinet Merah Putih masih terus bergerak. Struktur, posisi, dan aktor di dalamnya belum berhenti berubah.
Pertanyaannya tetap sama: sampai kapan proses pencarian bentuk ini akan terus berlangsung? @dimas





