Banyak sineas pemula kini membuat film bukan untuk penonton, tapi untuk juri. Mereka memburu piala, bukan pemahaman. Padahal, festival film seharusnya jadi ruang belajar bukan sekadar arena menang.
Tabooo.id: Talk – Setiap tahun, Festival Film Indonesia kembali hadir. Panitia mengumumkan nama pemenang. Mereka menyerahkan Piala Citra. Industri pun merayakan.
Namun di sisi lain, penonton mulai bertanya diam-diam:
film yang menang itu sebenarnya tentang apa?
Ajang Kompetisi yang Terlalu Fokus ke Dalam
Tidak bisa dipungkiri, FFI memang menjadi ajang kompetisi. Juri menilai film. Mereka memilih pemenang. Lalu, mereka menetapkan satu karya sebagai yang terbaik.
Namun, masalahnya muncul di sini.
Kompetisi ini sering terasa hanya berbicara ke dalam. Industri menilai dirinya sendiri.
Sementara itu, penonton hanya menyaksikan hasil akhirnya. Mereka melihat siapa yang menang, tetapi tidak selalu memahami proses dan maknanya.
Lalu, Di Mana Fungsi Edukasinya?
Seharusnya, festival film tidak berhenti pada menang dan kalah.
Sebaliknya, festival bisa menjadi ruang edukasi. Penonton bisa belajar memahami film. Mereka bisa mengenal sinematografi. Mereka juga bisa mengerti alasan sebuah karya dianggap terbaik.
Namun, kenyataannya belum sampai ke sana.
Tidak semua penonton memahami alasan sebuah film menang. Selain itu, tidak banyak yang mengajak mereka masuk ke cara berpikir juri.
Akibatnya, jarak itu semakin terasa.
Film Festival vs Film Penonton
Di titik ini, konflik mulai terlihat jelas.
Film yang menang di festival sering terasa “berat” atau “tidak umum”. Bahkan, sebagian penonton merasa film itu tidak relate.
Sementara itu, film yang ramai di bioskop justru jarang masuk panggung penghargaan.
Lalu, muncul pertanyaan yang sulit dihindari:
apakah standar kualitas hanya milik festival?
Atau justru festival gagal menjembatani selera publik?
Menang Lalu Selesai?
Ada pola yang terus berulang.
Pembuat film memproduksi karya. Mereka mendaftarkannya ke festival. Lalu, film itu menang. Setelah itu, semuanya selesai.
Padahal, seharusnya tidak berhenti di situ.
Kemenangan seharusnya menjadi awal. Film yang menang perlu lebih dekat dengan publik. Penyelenggara bisa memutar film itu lebih luas. Mereka juga bisa membuka ruang diskusi dan membedah isinya.
Jika tidak, kemenangan hanya berhenti di panggung.
FFI Harus Pilih Arah
Di titik ini, FFI perlu menentukan arah yang jelas.
Apakah ingin menjadi ajang kompetisi elit?
Atau ingin menjadi jembatan antara film dan penonton?
Keduanya tidak salah. Namun, jika arah ini tidak jelas, FFI akan terus berada di tengah.
Ramai di dalam. Tapi terasa jauh dari luar.
Closing
Festival film seharusnya tidak hanya mencetak pemenang.
Sebaliknya, festival harus membangun pemahaman.
Karena pada akhirnya, film tidak hidup dari piala.
Film hidup karena penonton mengerti.
Lalu, FFI mau berhenti di kemenangan atau mulai membangun pemahaman? @jeje





