Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perempuan Menolak Dimiliki: Dari Roro Mendut ke Perempuan Hari Ini

by teguh
April 27, 2026
in Life
A A
Home Life
Sejarah sering kembali lewat nama lama yang tak pernah hilang. Salah satunya Roro Mendut, perempuan dalam legenda Jawa yang berani menantang kuasa feodal. Ketika Historia.id kembali mengangkat kisahnya, publik pun ingat bahwa keberanian perempuan sudah hidup sejak lama. Di tengah zaman yang ramai bicara kesetaraan, banyak perempuan masih menghadapi tekanan serupa. Bentuknya memang berubah. Namun, pola lamanya tetap bertahan.

Tabooo.id: Life – Legenda Jawa menggambarkan Roro Mendut sebagai perempuan pesisir yang masuk ke lingkungan Mataram pada abad ke-17, masa Sultan Agung. Lalu, Tumenggung Wiraguna terpikat dan ingin menjadikannya milik pribadi. Namun, Mendut menolak.

Ia memahami risiko dari keputusan itu. Meski begitu, ia tetap memilih martabat daripada kenyamanan.

Karena gagal mendapat jawaban yang diinginkan, Wiraguna lalu menekan hidup Mendut lewat pajak tinggi. Akan tetapi, Mendut tidak menyerah. Sebaliknya, ia menjual rokok untuk menopang hidup.

Langkah itu tampak kecil. Namun, maknanya besar. Ia tak menunggu belas kasihan. Justru dengan caranya sendiri, ia berdiri dan melawan.

Wiraguna Modern Masih Berkeliaran

Hari ini, sosok seperti Wiraguna tidak selalu memakai gelar bangsawan. Sebaliknya, mereka hadir dalam banyak bentuk.

Ini Belum Selesai

Hak Anak Perempuan di Tengah Tuntutan Menikah

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Seorang atasan merasa berhak mengatur tubuh bawahan. Pasangan posesif menganggap cinta sama dengan kepemilikan.
Lingkungan sosial kerap menyerang perempuan vokal. Media sosial sering menghakimi perempuan yang berbeda suara.

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata:

“Dominasi paling efektif adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Ucapan itu terasa dekat dengan kondisi sekarang. Sebab, ketidakadilan sering lolos karena orang menganggapnya biasa.

Saat korban pelecehan diminta diam, sistem sedang bekerja. Ketika perempuan sukses dicap arogan, standar ganda sedang hidup. Jika perempuan tegas disebut kasar, bias lama terus berulang.

Jadi, masalahnya bukan satu orang. Akar persoalannya berada pada pola pikir yang terus hidup.

Tubuhku, Pilihanku, Martabatku

Budayawan Y.B. Mangunwijaya lewat trilogi Rara Mendut melihat tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang melawan kuasa besar. Karena itu, makna kisah tersebut masih relevan hari ini.

Banyak perempuan terus memperjuangkan hak dasar untuk menentukan hidup sendiri. Ada yang ingin memilih pasangan tanpa tekanan. Ada pula yang ingin menata karier tanpa stigma. Selain itu, banyak juga yang ingin bicara tanpa ancaman.

Filsuf feminis bell hooks menulis:

“Patriarki tidak punya gender.”

Artinya, siapa pun bisa menjaga sistem tidak adil jika terus membiarkannya hidup.

Pelajaran dari Mendut

1. Berani menolak adalah bentuk merdeka

Tak semua orang sanggup berkata tidak saat tekanan datang dari pihak berkuasa.

2. Kemandirian bisa menjadi perlawanan

Ketika akses menyempit, kemampuan bertahan justru berubah menjadi kekuatan.

3. Martabat tidak punya harga

Jabatan dan uang sering merasa bisa membeli segalanya. Namun, kenyataannya tidak.

4. Sejarah juga milik rakyat biasa

Bukan hanya raja yang layak dikenang. Sebaliknya, orang berani pun pantas mendapat tempat.

Kalau Mendut Hidup Hari Ini

Mungkin ia menjadi pegawai yang melawan pelecehan di kantor. Bisa jadi ia menjadi mahasiswi yang menuntut keadilan di kampus.
Di rumah lain, ia menjadi ibu yang keluar dari hubungan abusif. Di tempat kerja, ia menjadi pekerja yang menolak dibungkam.

Jadi, ia bisa saja hidup di sekitar kita. Sebab, setiap zaman selalu melahirkan perempuan yang menolak orang lain memperlakukannya sebagai barang.

Penutup

Roro Mendut mungkin hidup dalam legenda, tetapi semangatnya nyata. Ia mengajarkan bahwa keberanian sering lahir dari satu kata sederhana yaitu, tidak.

Tolak pemaksaan, Lawan penghinaan, Jaga martabat. Di dunia yang masih suka mengatur hidup perempuan, kata tidak tetap terdengar revolusioner. @teguh

Tags: BudayawanLegendaMartabatPatriarkiperempuanSejarahSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Berapa Mahal Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan?

Berapa Mahal Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan?

by Naysa
Oktober 30, 2026

Menstruasi datang setiap bulan, tetapi biaya untuk menghadapinya jarang masuk dalam perbincangan tentang mahalnya hidup. Pembalut dan produk menstruasi lainnya...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Next Post
Hari Tari Sedunia 2026 Dirayakan Global, Nasib Penari Masih Lokal

Hari Tari Sedunia 2026 Dirayakan Global, Nasib Penari Masih Lokal

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id