Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang membawa janji besar anak kenyang, stunting turun, dan ekonomi desa bergerak. Namun, dapur yang berhenti beroperasi, kasus keracunan, serta lonjakan anggaran membuat publik bertanya ulang. Apakah MBG benar-benar menyelamatkan masa depan, atau justru membuka pasar baru bagi birokrasi gemuk?
Jika memakai kacamata Max Weber, persoalannya bukan sekadar lanjut atau berhenti. Sebaliknya, pertanyaan yang lebih tajam ialah siapa paling diuntungkan, siapa paling dirugikan, dan apakah negara bekerja rasional atau hanya sibuk terlihat aktif?
Tabooo.id: Deep – Max Weber melihat negara modern bertumpu pada otoritas rasional-legal. Artinya, negara wajib memakai aturan jelas, pejabat kompeten, rantai komando tegas, dan pengawasan ketat.
Banyak kebijakan gagal bukan karena gagasannya buruk. Justru, pelaksanaan yang amburadul sering melahirkan kegagalan. Kini, MBG berdiri tepat di titik uji itu.
Program ini membawa niat mulia. Tetapi, niat baik tidak otomatis melahirkan hasil baik jika mesin negara berjalan serampangan.
“Birokrasi modern bekerja melalui aturan, keahlian, dan disiplin.” gagasan Max Weber tentang administrasi negara.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
1. Anak Sekolah dan Keluarga Rentan
Kelompok ini menerima manfaat paling nyata jika makanan berkualitas sampai tepat waktu. Dengan begitu, anak belajar lebih fokus. Selain itu, orang tua mengurangi beban pengeluaran harian.
Dalam logika Weber, negara memang harus hadir ketika pasar gagal memenuhi kebutuhan dasar warga.
2. UMKM, Petani, Nelayan, dan Pemasok Lokal
Saat pemerintah menyusun rantai pasok sehat, MBG bisa menciptakan pasar baru bagi ekonomi lokal. Telur, beras, ikan, sayur, dan jasa logistik ikut bergerak.
Akibatnya, uang negara berputar di daerah, bukan berhenti di pusat.
3. Pemerintah Secara Politik
Program sosial besar selalu membawa nilai simbolik. Pemerintah terlihat hadir, peduli, dan aktif bekerja.
Karena itu, pemerintah juga meraih keuntungan politik. Weber mengingatkan bahwa birokrasi bisa berubah menjadi alat legitimasi jika pengawasan melemah.
Siapa yang Paling Dirugikan?
1. Anak Penerima Jika Kualitas Buruk
Ketika makanan tidak higienis, datang terlambat, atau bergizi rendah, anak menanggung risiko kesehatan. Alhasil, program gagal melindungi pihak yang paling membutuhkan.
2. Wajib Pajak
Anggaran ratusan triliun menuntut hasil nyata. Jika sistem bocor, koordinasi lemah, atau vendor bermain, publik menanggung biaya kegagalan.
Pada akhirnya, rakyat membayar setiap kesalahan tata kelola.
3. UMKM Kecil Jika Tender Dikuasai Pemain Besar
Tanpa sistem transparan, pemain besar bisa menyapu proyek. Sementara itu, pelaku kecil hanya menonton di daerahnya sendiri.
Weber menolak patronase semacam ini. Sebab, jabatan dan proyek harus tunduk pada merit serta aturan.
4. Kepercayaan Publik
Kasus keracunan, data kabur, atau dapur bermasalah perlahan menggerus kepercayaan masyarakat. Ketika publik sudah sinis, program bagus pun sulit bangkit kembali.
Apakah MBG Layak Diteruskan?
Jawabannya: Layak, tetapi wajib dirombak keras.
Menghentikan MBG sekarang berisiko memutus intervensi gizi nasional. Sebaliknya, menjalankannya tanpa pembenahan justru memperbesar masalah.
Weber kemungkinan memilih opsi ketiga lanjutkan tujuan, benahi sistem. Dengan kata lain, negara harus menjaga misi sosial sambil memperbaiki cara kerja birokrasi.
Apa yang Harus Negara Lakukan Sekarang?
1. Hentikan Kejar Target Angka
Utamakan kualitas layanan. Jangan sampai negara bangga pada jutaan porsi jika standar dapur masih goyah.
2. Audit Nasional Terbuka
Publik harus bisa melihat dapur aktif, dapur bermasalah, vendor pemasok, dan serapan anggaran. Dengan demikian, pengawasan bergerak nyata, bukan sekadar slogan.
3. Isi Posisi dengan Ahli
Negara perlu merekrut ahli gizi, auditor mutu, manajer logistik, dan pengawas lapangan yang kompeten. Jadi, jabatan tidak jatuh ke tangan asal pilih.
4. Lindungi Pelaku Lokal
Pemerintah harus membuat skema agar UMKM kecil, koperasi, petani, dan nelayan ikut menikmati pasar MBG. Karena itu, manfaat ekonomi menyebar lebih luas.
5. Ukur Dampak Nyata
Pantau penurunan stunting, kehadiran sekolah, status gizi, dan perputaran ekonomi daerah.
Jika tidak, negara hanya menghitung porsi dan menjalankan katering raksasa, bukan kebijakan publik.
Analisis Tabooo
MBG menunjukkan satu hal penting: negara ingin hadir lebih dekat ke meja makan rakyat. Tentu, itu langkah baik.
Sayangnya, niat baik sering kalah oleh birokrasi lambat, koordinasi gemuk, dan budaya proyek.
Saat sistem melemah, kelompok kuat menikmati peluang. Sebaliknya, kelompok rentan menanggung risiko.
Di sinilah pertanyaan Weber terasa tajam apakah birokrasi melayani warga, atau warga hanya dipakai untuk membenarkan birokrasi?
Closing
MBG tidak perlu dimatikan. Namun, program ini perlu disiplin keras. Kebijakan besar bisa memberi makan masa depan.
Sebaliknya, kebijakan yang kacau bisa memberi makan rente, kepanikan, dan ketidakpercayaan. Jadi, inti persoalannya bukan lanjut atau berhenti.
Pertanyaan utamanya siapa yang kenyang lebih dulu anak-anak Indonesia, atau sistem yang selalu lapar proyek?. @teguh





